Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Meminta Hak Sebagai Keturunan Kandung


__ADS_3

Tidak cukup sampai di situ, tapi Bagas juga berbicara. Satu pembicaraan yang sangat sensitif sebenarnya. Akan tetapi, Bagas tidak malu untuk menyuarakannya sebelum dia digiring kembali masuk ke Rumah Tahanan.


"Om Abraham, saya dengar Papa kandung saya adalah aktor terkenal di zamannya dan memiliki kekayaan berlimpah. Oleh karena itu, aku meminta harta kekayaan atas nama Papaku," kata Bagas.


Ucapan Bagas kala itu tidak diprediksi oleh Papa Abraham. Terbilang mengejutkan untuk Papa Abraham, Papa Belva, dan juga Elkan. Tidak mengira bahwa Bagas akan meminta warisan atas nama Papa kandungnya yaitu mendiang Melvin Andrian.


"Silakan penuhi proses hukummu dulu. Setelah itu, lakukan tes DNA untuk membuktikan kamu memang keturunan biologis Almarhum," kata Papa Abraham.


"Untuk itu Om Abraham tenang saja. Sudah selayaknya bukan anak biologis mendapatkan harta kekayaan Papanya sendiri," balas Bagas.


"Kalau dia benar-benar anak biologis dan kita tempuh jalur hukum saja. Sebab, setahu saya almarhum tidak menikahi wanita mana pun kala meninggal. Sehingga seluruh hartanya masih atas nama almarhumah Mamanya."


Pikir Papa Abraham jika memang mendiang Melvin Andrian menikah, sudah otomatis harta kekayaan jatuh ke anak dan keluarganya. Akan tetapi, dalam kasus ini tidak pernah ada pernikahan antara Melvin Andrian dan Lista. Sehingga, jika Bagas mengklaim sebagai keturunan Melvin Andrian, Papa Abraham meminta bukti tes DNA. Selain itu lebih baik menempuh jalur hukum saja.

__ADS_1


"Pasti Om Abraham ingin mempersulit karena ingin menguasai sendiri harta kekayaan Papa saya," balas Bagas.


Mendengar jawaban Bagas, Papa Abraham menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali bukan orang yang tamak. Dulu kala, dia pernah mengalah kepada mendiang adiknya sendiri terkait harta warisan dari Papa kandungnya. Walau anak kandung, Papa Abraham tak menginginkan harta warisan dari Papanya sendiri. Barulah ketika Mama Saras menua, seluruh harta diwariskan kepada Papa Abraham.


"Jangan menghakimi orang tanpa bukti, Anak muda. Jadikan hal ini pelajaran. Ketika buktinya valid dan keabsahannya terbukti kamu putra adikku sendiri, maka pengadilan akan memutuskan harta warisan itu," balas Papa Abraham.


Setelah itu, Papa Abraham dan lainnya memilih keluar dari ruangan persidangan. Elkan setelahnya berbicara kepada Papa mertuanya itu.


"Setahu Elkan, jika tidak ada pernikahan, tidak bisa dijadikan ahli waris, Pa," kata Elkan.


Elkan menganggukkan kepalanya. Sebenarnya kasihan juga mendengarkan cerita Papa mertuanya. Akan tetapi, Elkan juga belajar tentang kedewasaan berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Elkan juga belajar bahwa Papa mertuanya juga seorang yang tamak. Selama ini Papa mertuanya juga selalu bekerja keras dan hidup sederhana.


"Itu benar, El. Papa juga sudah berteman lama dengan Papa mertuamu. Semua kisah itu sudah pernah Papa lihat sendiri. Kamu harus belajar, El ... jangan pernah menginginkan sesuatu yang bukan hak kamu. Berdosa namanya," balas Papa Belva.

__ADS_1


"Pasti, Pa. Selama ini Papa juga mengajari Kak Evan, El, dan Eiffel demikian," balas Elkan.


"Tidak usah dipikirkan dulu, Besan. Biarkan Bagas menyelesaikan hukumannya dulu. Lagipula, tidak pernah ada hubungan pernikahan antara Melvin dan Ibunya Bagas. Sehingga, benar apa yang kamu katakan biar pengadilan saja yang memutuskan. Andai kata harus menyerahkannya, kamu ikhlas?" tanya Papa Belva.


Dengan yakin, Papa Belva menganggukkan kepalanya." Selalu ikhlas, Besan. Selama ini milik Melvin masih utuh dan tak tersentuh. Aku juga tidak pernah berusaha menguasainya, kamu mengenalku bukan?"


Papa Belva kemudian menganggukkan kepalanya. "Sangat mengenalmu. Aku tahu, Besan. Kamu adalah orang yang baik dan tidak gila harta. Kebaikanmu lah yang membuatku ingin menjadi keluargamu."


Mendengarkan apa yang dikatakan Papa Belva barusan, Papa Abraham tersenyum. Memang begitulah besannya itu, selalu menganggapnya orang baik. Padahal Papa Belva sendiri adalah orang yang baik dan tidak pernah itung-itungan kala membantu orang lain.


"Menginginkan apa yang bukan seharusnya menjadi milik kita, selamanya tidak akan mendatangkan berkah. Lepaskan saja. Allah akan menggantikan dengan berkah yang halal dan yang barokah pastinya," kata Papa Belva.


"Aamiin, Besan. Selama kami hidup, memang selalu begitu. Banyak kejutan yang Allah berikah berkah yang benar-benar barokah," balas Papa Abraham.

__ADS_1


Elkan tersenyum, karena Papa Belva dan Papa Abraham adalah orang-orang yang positif dan tidak tamak. Memilih untuk bekerja keras, menikmati proses, dan tidak menyukai hal yang instan. Elkan benar-benar belajar banyak hal dari sosok Papa Belva dan Papa Abraham.


__ADS_2