
Hari ini adalah hari yang bahagia untuk Mira dan Elkan. Ya, hari ini keduanya akan bersama-sama di wisuda. Perjuangan 3,5 tahun kuliah akhirnya terwujud sudah. Pencapaian ini terasa manis, karena mereka bukan sekadar mahasiswa, tapi juga pasangan muda. Menyeimbangkan kehidupan kuliah, dan rumah tangga ketika masih muda tidak mudah. Akan tetapi, keduanya bisa melewatinya bersama-sama.
Kebahagiaan hari ini lebih sempurna karena Mama Sara, Papa Belva, Mama Marsha, dan Papa Abraham sama-sama tiba di Sydney. Jika dulu, mereka datang untuk menikmati liburan musim dingin. Sekarang, mereka datang untuk mendatangi wisuda anak-anak mereka.
Tentu saja ada rasa bangga. Kuliah strata satu yang seharusnya ditempuh normal dalam waktu empat tahun, tapi keduanya bisa menyelesaikan dalam waktu 3,5 tahun. Pencapaian yang bagus dan kedua orang tua mereka sangat bahagia.
Sebenarnya Mama Sara dan Papa Belva, Mama Marsha dan Papa Abraham menginap di hotel terdekat. Akan tetapi, sekarang mereka memenuhi unit milik Mira dan Elkan. Bersiap-siap bersama. Ruangan persegi yang tidak besar itu terasa penuh. Namun, tak mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan.
"Wisuda di luar negeri biasanya bebas kan, Ra?" tanya Mama Marsha.
Ya, di luar negeri khususnya mahasiswi hanya diberi toga. Untuk ********** terserah mereka. Tak jarang ada yang mengenakan dress atau pakaian casual saja.
"Iya, Ma ..., tapi Mira mau memakai kebaya deh. Biar kebanggaannya lebih terasa. Memakai baju kebanggaan bangsa Indonesia," kata Mira.
Mama Marsha dan Mama Sara menganggukkan kepalanya. Ya, berkebaya di luar negeri dengan kain batik seolah memberikan rasa bangga tersendiri. Atas dasar itulah, Mira ingin mengenakan kebaya dan nanti barulah memakai toga.
"Biar Mama yang rias kamu yah," kata Mama Marsha.
Sama seperti biasanya, Mama Marsha memang ahli merias. Semua itu berkaitan dengan masa lalunya yang adalah seorang model. Ya, menjadi model dibekali dengan kemampuan bisa melakukan make up sendiri. Oleh karena itu, Mama Marsha pun bisa merias wajah. Sekarang, Mama Marsha hendak merias wajah putrinya itu.
"Boleh, Ma ... natural saja, Ma. Biar enggak mencolok banget," balas Mira.
__ADS_1
Mulailah Mama Marsha merias wajah putrinya yang cantik itu. Tanpa banyak riasan, wajah Mira juga sudah cantik. Sekarang, Mira ingin tampil natural, dia memang tidak menyukai make up yang terlalu mencolok.
"Kebaya kamu warna apa, Ra?" tanya Mama Marsha.
"Hijau toska yang lembut itu, Ma. Baru hits kan sekarang hijau wardah," balas Mira.
Mama Marsha tersenyum, warna itu baru hits di kalangan ibu-ibu di Indonesia. Akan tetapi, Mira juga mengikuti perkembangan di negerinya sendiri. Hanya setengah jam, riasan Mira sudah jadi. Sangat natural, memang anak muda lebih suka make up ala korean style yang flawless dan tidak bold.
Sementara Elkan mengenakan kemeja dengan warna hijau juga disesuaikan dengan warna kebaya milik Mira. Pemuda itu sudah mengenakan dasi di lehernya dan tampil rapi.
"Udah kayak CEO belum Ma?" tanya Elkan kepada Mama Sara.
Mendengar pertanyaan anaknya, Mama Sara tertawa. "Sudah, Mr. CEO junior," balas Mama Sara.
Setelah semua bersiap, sekarang tiga pasangan berbeda generasi itu menuju ke kampus Elkan dan Mira. Mira dan Elkan berjalan di paling depan, diikuti dengan Mama Sara dan Papa Belva, kemudian ada Mama Marsha dan Papa Abraham.
"Akhirnya hari ini tiba yah, Kak," kata Mira kepada suaminya.
"Iya, Honey. Lengkap sudah semuanya. Tambah bahagia karena ada Mama dan Papa di sini," kata Elkan.
Menurut Elkan sendiri dengan kehadiran orang tua dan mertuanya membuat kebahagiaan ini terasa lengkap. Wajah dua pasang orang tua itu juga terlihat sangat bahagia. Bahkan secara khusus Papa Belva dan Papa Abraham tampil rapi mengenakan kemeja batik lengan panjang.
__ADS_1
"Bangga yah, anak-anak kita bisa lulus di sini," kata Papa Belva.
"Kalau keluarga Agastya semua lulusan luar negeri. Sementara dari keluarga kami, baru Mira yang lulusan luar negeri," jawab Papa Abraham.
Yang Papa Abraham benar adanya karena Evan lulusan London, sekarang Elkan lulus dari Sydney, dan Eiffel sekarang kuliah di Prancis. Sementara dari keluarga Narawangsa barulah Mira yang menjadi lulusan luar negeri.
Ketika, memasuki auditorium dan wisuda dilaksanakan, semua mengikuti prosesi demi prosesi yang dilakukan. Hingga akhirnya, setiap wisudawan dan wisudawati dipanggil namanya dan menerima ijazah mereka dalam map dan mendapatkan jabat tangan.
Mama Marsha menitikkan air matanya. Luar biasa ketika nama Mira dipanggil dan putrinya itu mendapatkan selamat dari pada dosen.
"Luar biasa, Mira dengan beasiswa bisa lulus dari Sydney. Dulu, kita hanya lulusan Semarang," kata Mama Marsha.
"Iya, Papa juga bangga sama Mira dan Elkan," balas Papa Abraham.
Hingga akhirnya Elkan dipanggil. Mama Sara dan Papa Belva merasa bangga karena putranya itu melewati tekanan. Menyelesaikan S1 dalam waktu 3,5 tahun itu pencapaian yang baik.
"Elkan bisa juga, semua karena Mira yang mendukungnya," kata Papa Belva.
"Pasangan yang positif itu memberikan dampak yang positif, Pa," kata Mama Sara.
"Sama seperti kamu ya, Sayang," balas Papa Belva.
__ADS_1
"Pun demikian dengan kamu," balas Mama Sara.
Namun, sejatinya adalah benar bahwa pasangan yang positif itu memberikan pengaruh yang positif. Sama seperti Mira dan Elkan yang bisa melampaui semuanya bersama-sama. Kelulusan ini bukan akhir, tapi mereka akan masuk ke next level. Masih banyak mimpi dan rencana yang mereka inginkan bersama.