
Begitu sudah sampai di dalam unit, Elkan tidak mau menunggu lama-lama. Sekarang, dia harus menyelesaikan semua dengan Mira. Mungkin selama sebulan di Sydney, baru kali ini Mira marah dengannya. Sebelumnya, istrinya itu juga kalem-kalem saja.
"Marah, Honey?" tanya Elkan kemudian kepada Mira.
Kala itu, Mira hanya diam saja. Masih enggan untuk menjawab pertanyaan Elkan. Namun, gimana lagi istri jika sudah cemburu memang seperti itu. Ada yang memilih diam, ada yang memilih menangis, dan sebagainya. Sementara Mira memilih untuk diam.
Sebenarnya dari raut wajah Mira dan dari diamnya Mira sudah menjadi jawaban pasti bahwa Mira tengah kesal. Hal yang wajar ketika ada gadis lain yang berusaha mendekati suaminya dan juga mengajaknya makan bersama.
"Sebel," balas Mira kemudian.
"Rosaline tadi yah," balas Elkan. Itu juga sebenarnya Elkan sudah tahu bahwa yang memicu Mira menjadi sebal adalah Rosaline. Namun, Elkan ingin Mira bisa berbicara jujur kepadanya. Tidak perlu untuk memendam semuanya seorang diri.
"Tahu," balas Mira.
"Kan juga, aku memilih kamu, Honey. Yang aku kejar juga kamu," balas Elkan.
"Itu karena aku memilih pergi balas Mira," jawabnya.
Jika sedang sebal seperti ini Mira pun terlihat judes. Namun, Elkan sesungguhnya justru tersenyum. Cemburu tanda cinta. Itu juga karena Mira sudah cinta kepadanya. Walau Mira sendiri sangat jarang untuk mengungkapkan 'I Love U.'
Elkan kemudian membawa Mira duduk di sofa, memeluknya. Hanya sebatas berusaha untuk memenangkan marahnya Mira dengan memberikan pelukan kepada Mira. Mengusapi puncak kepalanya dengan usapan tangan yang sangat lembut.
"Marah boleh, sebel juga boleh ..., tapi gak boleh lama-lama. Kan kita di sini hanya berdua. Harus saling memiliki. Tenang saja, di hati dan hidupku selamanya hanya ada kamu," balas Elkan.
Bukan merayu. Akan tetapi, Elkan memberitahukan yang sebenarnya bahwa memang di dalam hatinya hanya ada Mira saja. Tidak pernah ada niatan yang lain.
__ADS_1
"Sudah jangan manyun," ucap Elkan lagi.
"Masih kesel," balas Mira.
"Aku harus ngapain biar kamu tidak marah lagi, Honey?" tanya Elkan sekarang.
Mira terdiam sejenak. Seorang Elkan sampai bisa berbicara dengan begitu lembutnya kepadanya, dan juga menanyakan harus melakukan apa supaya dia tidak marah lagi.
"Aku lapar loh, Kak," ucap Mira kemudian dengan memegangi perutnya.
"Lapar bisa emosi ya Honey? Hehehee ... mau beli makanan dulu?" tanya Elkan kemudian kepada Mira.
Namun, Mira lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Udah malas keluar. Bikin Mie instan aja, Kak," balasnya.
Rupanya sekarang, Mira sedang mager. Mungkin efek sudah sebal terlebih dahulu, sehingga sekarang malas kemana-mana. Lebih memilih untuk berada di unit saja.
"Boleh Kak ... satu aja telornya," balas Mira.
Elkan kembali melirik Mira. "Dua juga boleh," balasnya dengan berusaha menahan tawa.
Sebelum menuju ke dapur, Elkan mencuri satu ciuman di pipi istrinya itu. Setidaknya, Mira sudah tidak marah saja, dia sudah senang. Jika, hanya membuatkan mie instan juga tidak berat. Hanya membutuhkan waktu lima menit saja.
"Ready, Honey ...."
Elkan menyelesaikan membuat Mie Instans goreng dengan menceplok telur. Pria itu tersenyum ketika Mira menuju ke meja makan dan tersenyum melihat mie instan yang sudah tersaji di sana. Mie intans khas Indonesia yang rasanya selalu enak dan membuatnya selalu rindu. Walau berada di luar negeri, tetap yang dicari adalah Ind*mie.
__ADS_1
"Ind*mie seleramu ... Mira seleraku," nyanyian Elkan menggema menjelang sore itu.
"Bisa-bisanya sih, Kak ... thanks banget," balas Mira.
"Anything for you, My Love," balas Elkan.
"Ish, manis banget sih," balas Mira dengan menatap Elkan.
"Ya, buat kamu, Honey ... penting jangan marah lagi."
Akhirnya keduanya menikmati makan siang yang sudah terlambat karena sekarang sudah jam tiga sore waktu Sydney. Sangat lapar. Elkan pun tahu bahwa mie instan ini sudah pasti tidak akan bisa mengenyangkannya. Namun, karena Mira memilih makan mie instan, dia akhirnya mengikuti kemauan istrinya saja.
"Mau disuapin enggak?" tawar Elkan lagi kepada istrinya itu.
"Makan sendiri aja, Kak ... aku bukan anak kecil," balas Mira dengan terkekeh geli.
"Bukan karena anak kecil, tapi karena aku cinta kamu," balas Elkan.
Mira melirik suaminya yang sekarang duduk di hadapannya itu. "Pasti kalau kamu sebaik ini ada udang di balik batu deh," balas Mira.
Hahahaha!
Elkan tertawa. Agaknya niatan hatinya bisa terbaca oleh Mira. Akan tetapi, Elkan berusaha santai saja. Toh, Mira juga sudah tahu bagaimana dia sebenarnya.
"Nanti malam aja, Yang ... kalau sekarang takutnya, kamu ngambek lagi deh," balas Elkan.
__ADS_1
Memang kadang rumah tangga itu beraneka rasa. Ada manis, pahit, asam, dan pedasnya. Namun, tergantung pasangan mau menyelesaikannya atau tidak. Juga, bagaimana menyelesaikan masalah saat itu juga. Tidak perlu menunggu lama-lama. Lebih cepat diselesaikan lebih bagus.