Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Kabar Mengejutkan dari Semarang


__ADS_3

Selang satu hari berlalu dan sekarang hari Sabtu, di mana Elkan dan Mira bersantai di rumah. Akan tetapi, ketika subuh dan keluarga Agastya sudah terbangun. Terlebih ada kabar yang cukup mengejutkan subuh ini. Sehingga, seluruh keluarga sudah terbangun dan juga bersiap semua.


"Kita akan ke Semarang sekarang yah. Penerbangan pagi ini," ucap Papa Belva kepada Mama Sara, Mira, dan Elkan.


"Iya, Pa," balas mereka bertiga.


Sehingga pagi itu, ketika matahari belum sepenuhnya menyapa, keluarga Agastya sudah menuju ke bandara dengan supir keluarga mereka. Wajah mereka tampak tegang, secara khusus adalah Mira. Sebab, sejak pukul 03.00 dini hari, ketika Mamanya menelponnya, Mira tidak bisa tidur. Pukul 04.00, ketika Mama Sara sudah terbangun, Mira memutuskan keluar dari kamar dan menyampaikan apa yang baru saja terjadi kepada Mama Sara.


"Ma, barusan Mama menelpon," ucap Mira.


"Ya, Sayang ... ada apa?" tanya Mama Sara.


"Nenek Ria meninggal dunia, Ma," ucap Mira yang sudah menangis subuh itu.


Jujur Mama Sara juga bingung mendengar kabar dari Mira. Akan tetapi, Mama Sara tetap merangkul dan menenangkan Mira terlebih dahulu. Setelahnya, barulah pelan-pelan Mama Sara membangunkan Papa Belva dan Elkan. Pagi itu juga, Papa Belva mencari tiket penerbangan ke Semarang untuk empat orang, bukan sekadar mengantar Mira. Namun, wujud bela sungkawa keluarga Agastya kepada Mama Marsha dan Papa Abraham.


Perjalanan darurat ke Semarang melalui udara ini sama sekali tidak menarik bagi Mira. Walau tidak mengenal dekat, tetapi ada rasa kehilangan di dalam hatinya karena memang dia adalah Neneknya. Di saat seperti ini, untung Elkan yang duduk satu kursi dengan Mira ada untuk memberinya motivasi.


"Hanya 60 menit dan kita sampai di Semarang, Ra," ucap Elkan sekarang.


"Iya, Kak," balas Mira.


"Kamu sedih?"

__ADS_1


"Iya, sedih ... bagaimana pun beliau adalah nenekku," balas Mira.


Elkan sengaja menyentuh punggung tangan Mira. "Yang kuat dan sabar yah. Aku temenin. Mama dan Papa juga menemani kamu kok," balas Elkan.


"Makasih Kak Elkan," balas Mira dengan menundukkan wajahnya.


Burung besi itu membumbung tinggi di angkasa. Melintasi gumpalan awan putih, dan juga lautan yang terlihat biru di bawah sana. Ada pula persawahan hijau yang bisa dilihat dari atas udara. Hingga akhirnya mereka tiba di Bandara Udara Internasional Ahmad Yani, Semarang.


Dari Bandara, mereka menaiki taksi menuju kediaman almarhumah Nenek Ria. Di sana terpasang Bendera kuning di jalan menuju ke perumahan itu, tenda pun sudah terpasang di sana, dan beberapa tamu datang untuk berbelasungkawa.


Keluarga Agastya datang dan disambut Papa Abraham yang sudah berdiri di luar rumah. Begitu haru rasanya ketika keluarga besannya mau jauh-jauh terbang dari Jakarta menuju Semarang.


"Terima kasih, Besan ... sudah berkenan datang," ucap Papa Abraham dengan memeluk Papa Belva dan Elkan.


Mira pun menangis dan menghambur memeluk Papanya. Pun Papa Abraham yang baru saja kehilangan, berbalut rindu dengan putrinya hingga sang Papa wajahnya memerah, matanya sembab karena menahan tangis ketika memeluk Mira. Papa Belva dan Elkan berdiri di samping Papa Abraham dan menerima setiap tamu yang datang. Sementara, Mira dan Mama Sara masuk ke dalam rumah, bergabung dengan Mama Marsha yang terduduk lemas dengan berlinang air mata di dekat jenazah. Terlihat Mama Sara segera memeluk Mama Marsha dan mengusapi bahu hingga punggungnya.


"Sabar dan ikhlas yah," ucap Mama Sara dengan lembut.


"Makasih sudah datang ke Semarang," ucap Mama Marsha.


"Sama-sama. Kuat yah," ucap Mama Sara lagi.


Air mata tak bisa dibendung lagi. Hingga akhirnya pemuka agama memimpin doa dan jenazah kemudian diberangkatkan menuju pemakaman untuk dikebumikan. Deru suara sirine ambulance menggema, ada tangisan kesedihan yang membuat Mama Marsha benar-benar sedih.

__ADS_1


Sekarang, di depan pusara jenazah Nenek Ria disemayamkan. Mama Marsha menangis di sana. Walau ketika hidup, hubungan keduanya tidak baik, tetapi ketika orang tua tiada tetap akan kehilangan. Seperti itulah perasaan Mama Marsha sekarang. Di samping Mama Marsha, ada Papa Abraham yang setia merangkul istrinya itu. Sementara Elkan, berlutut di depan pusara itu dekat dengan Mira.


Hingga akhirnya, seluruh keluarga pun pulang dari tempat pemakaman. Kembali ke rumah duka karena masih ada beberapa tamu yang datang dan memberikan bela sungkawa. Di sana, Elkan kembali duduk di samping Mira.


"Mau minum dulu, Ra? Aku ambilkan," ucapnya.


"Boleh, Kak," balasnya.


Elkan pun mengambilkan air mineral untuk Mira. Setelah itu dia kembali duduk di samping Mira. Mungkin Elkan tak bisa banyak berbicara, tapi dia cukup duduk di samping Mira, menemani Mira. Lalu, Marvel pun mengambil tempat duduk di samping Elkan.


"Kak Elkan," sapa Marvel.


"Gimana, Marvel ... yang kuat yah," ucap Elkan.


"Iya Kak, cuma aku kasihan sama Mama," balas Marvel.


Rasanya Marvel yang sudah berada hampir satu minggu di Semarang, melihat sendiri bagaimana Mamanya berjuang dan bersabar mengurus Neneknya di hari terakhirnya. Mama Marsha tentu sudah melakukan yang terbaik, menunjukkan baktinya sebagai seorang anak.


"InsyaAllah, Nenek sudah diangkat sakit-penyakitnya," balas Elkan dengan menepuki bahu Marvel, adik iparnya.


"Iya Kak," balas Marvel.


Keluarga Agastya juga turut membantu Mama Marsha dan Papa Abraham. Menyokong secara moril. Yang pasti di saat tersulit seperti ini, mereka harus tetap bergandengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2