Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Ada yang Diprioritaskan


__ADS_3

Elkan tahu ada kalanya musuh memang mengatakan mengincar hal lain yang lebih berharga. Dia memahami maksud dari Papa Abraham. Untuk itu, memang sekarang Elkan tidak boleh lengah.


"Ma, boleh Elkan bertanya lagi?" tanya Elkan lagi.


"Boleh, El. Kamu sudah seperti anak Mama dan Papa sendiri. Bertanyalah, tidak apa-apa," balas Mama Marsha.


"Mama, apakah mendiang Om Melvin dulu sehat secara biologis? Dengan Mama tidak menghasilkan keturunan kan? Bagaimana dengan Tante Lista bisa menghasilkan keturunan?" tanya Elkan lagi.


Sekali lagi, Elkan tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu. Elkan tahu ada beberapa masa lalu yang pahit kala diingat lagi. Namun, sekarang Elkan hanya sekadar ingin tahu saja.


"Mungkin mendiang sehat kok, El. Hanya saja hubungan kami yang tidak baik, sehingga dulu mendiang selalu mengeluarkannya di luar. Mama yang tertuduh sebagai wanita mandul dulu. Semua itu sirna, kala Mama mengandung Mira dengan Papa Abraham," kata Mama Marsha.


Sampai di titik ini rasanya Elkan tidak habis pikir. Kenapa pasangan suami istri ketika bercinta justru memuntahkannya di luar. Dari semua cerita ini, memang mungkin saja bahwa dengan Tante Lista, terjadi pembuahan di dalam dan kemudian lahirlah Bagas itu. Namun, kenapa sejak lama Tante Lista tidak berusaha mencari Mendiang Om Melvin atau keluarganya. Kenapa, baru sekarang Bagas mengatakan semuanya ini?


Untuk Elkan sendiri semuanya masih teka-teki. Walau begitu, sejauh ini pemikiran Elkan adalah Bagas itu keponakan Papa Abraham, bersepupu dengan Mira dan Marvel.


"Lebih hati-hati, El. Sebab, kita tidak tahu kekuatan lawan," balas Papa Abraham.


"Pasti, Pa. Tolong jangan beritahu semua ini kepada Mira yah Mama dan Papa. Setidaknya biar Mira tidak kepikiran. Apalagi Mira sedang menyusui, jangan sampai mengurangi produktivitas ASI-nya," kata Elkan.

__ADS_1


"Setidaknya berbagilah beban dengan Mira, El," kata Papa Abraham.


Niat hatinya Elkan memang bagus. Tidak menginginkan Mira terlalu banyak kepikiran hingga akhirnya berdampak pada produktivitas ASI-nya. Terlebih kesehatan emosi dan mental istrinya akan sangat berdampak bagi Aryan dan Aaliya. Oleh karena itu, Elkan berharap Mira bisa fokus dengan Twins A saja. Dia yang akan mencari cara untuk menyelesaikan semuanya.


"Elkan bisa menahan penderitaan, Pa ..., tapi Elkan tidak bisa melihat Mira menderita dan menangis. Elkan bakalan lebih sedih," balasnya.


"Jangan begitu, El. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Itu juga harus diterapkan dalam kehidupan rumah tangga kalian berdua," kata Papa Abraham.


"Kalau waktunya sudah lebih baik, pasti Elkan akan jujur dan berbagi semuanya dengan Mira, Pa."


"Baiklah, El. Jangan sungkan berbagi dengan Mama dan Papa. Kami akan membantu menjaga Mira dan anak-anak. Kamu jangan menanggung semua sendiri. Sebagai Papa, tentu Papa senang karena cinta yang kamu miliki untuk putri Papa sangat besar. Akan tetapi, Papa juga berharap bahwa kalian bisa sama-sama berbagi dan menanggung beban," balas Papa Abraham.


Elkan menganggukkan kepalanya. Untuk berbagi dan menanggung beban pastilah nanti akan dia lakukan. Akan tetapi, tidak sekarang. Untuk sekarang, Elkan ingin fokus mencari solusi terlebih dahulu. Mencari jalan keluar. Terlebih pria seperti Bagas, dulu saja di sekolah dia berani hendak melecehkan Mira. Oleh karena itu, Elkan akan berhati-hati. Dia akan berusaha sekuat tenaganya untuk melindungi Mira.


Selang Beberapa Hari kemudian ....


Elkan pulang ke rumah dengan wajah yang terlihat begitu lelah. Dia melihat progress bisnis milik Bagas yang beradu wajah dengan Coffee Bay, itu membuat Elkan fokus mengurus Coffee Bay terlebih dahulu. Pekerjaan di Agastya Properti dia tinggalkan sejenak.


"Baru pulang, Daddy El? Tumben ampe malam?" tanya Mira.

__ADS_1


"Iya, Honey. Tadi ada bug di aplikasi kita. Untuk pembelian online, kayak kena serangan ransomware. Aku harus benahi semua," balas Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. Kasihan dengan suaminya. Biasanya kalau pulang, Elkan tersenyum dan tidak menunjukkan capeknya. Akan tetapi, sekarang justru Elkan terlihat sangat lelah.


"Ya sudah, mandi dulu, Kak. Aku buatkan Lemon Tea kesukaan kamu," balas Mira.


Elkan pun menaiki lantai dua dan menuju ke dalam kamar mandi. Dia membutuhkan waktu menyegarkan dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah itu, Elkan kemudian melihat dia buah hatinya yang sudah terlelap. Yah, di dalam box bayi, Aryan dan Aaliya sama-sama sudah terlelap.


"Mereka berdua sudah bobok. Tadi sore kayak nungguin Daddynya gitu," kata Mira.


"Maaf yah, Honey. Kalau tidak terjadi bug tadi, aku pasti pulang sore seperti biasanya," balas Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. "Iya, gak apa-apa kok, Kak. Jaga kesehatan. Ini, aku buatin Lemon Tea," kata Mira dengan menyondorkan segelas Lemon Tea hangat.


Elkan berterima kasih dan kemudian meminum Lemon Tea yang sudah dibuatkan istrinya itu. Aroma teh melati berpadu Lemon memang bisa menenangkan Elkan. Dia merasa jauh lebih baik sekarang. Walau, badan masih begitu capek. Apalagi di leher yang terasa kaku dan kencang.


"Mau makan enggak, Kak? Pasti kecapekan bekerja, perut kamu kosong deh," tanya Mira.


"Belum lapar, Honey. Aku bisa melihat kamu dan dua buah hati kita setelah seharian saja rasanya kenyang," balas Elkan.

__ADS_1


"Bohong, lapar ya lapar, Kak," balas Mira.


Barulah Elkan bisa tersenyum di sana. Dia merasakan bahwa memang lapar. Akan tetapi, bisa melihat istri dan anak-anaknya membuat Elkan senang dan lega. Apa pun Elkan lakukan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan istri dan buah hatinya. Bahkan masalah besar yang akan menghantam pun, tidak menjadi masalah untuk Elkan. Yang pasti Mira, Aryan, dan Aaliya akan selalu berbahagia.


__ADS_2