Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Mengabari Orang Tua


__ADS_3

Agaknya pagi itu Mira benar-benar terlelap. Usai mandi keramas, Mira begitu lelah dan capek, karena itu tidur Mira sangat lelap. Sampai menjelang siang, Mira masih nyaman bergelung di bawah selimut. Terlebih ada Elkan yang memeluknya, ditambah aroma parfum Elkan yang beraroma woody sangat segar seolah berjalan-jalan di hutan cemara membuat tidur Mira kian lelap.


Lebih dari jam 13.00 waktu Sydney, tapi Mira seakan masih terlelap dan justru enggan untuk bangun. Merasa jam makan siang sudah terlewat, dan mereka terakhir makan malam kemarin di pesawat, Elkan pun dengan terpaksa membangunkan Mira terlebih dahulu.


"Honey, bangun dulu ... waktunya makan," ucap Elkan.


Pria itu mengusap-usap puncak kepala Mira dan memintanya untuk bisa segera terbangun. Beberapa saat dibangunkan, barulah Mira mengerjap. Wanita yang baru saja melepas kegadisannya itu terbangun, dengan menatap wajah Elkan.


"Kak," balasnya singkat dengan suaranya yang begitu serak.


"Bangun dulu, kamu di sini dulu saja. Aku mau keluar bentar untuk beli makanan. Mau makan apa?" tanya Elkan.


Sebenarnya ragam kuliner di Australia tidak jauh berbeda dengan negara Inggris. Sebab, banyak imigran dari Inggris yang menghuni Australia, selain itu Australia sendiri juga negara Persemakmuran Inggris. Namun, memang ada kuliner tradisional dan otentik di sana. Namun, karena baru datang dan perut terasa lapar, mungkin Elkan hanya bisa membeli makanan di depan apartemen mereka saja.


"Seadanya saja, Kak ... yang penting makan dulu. Aku laper banget," ucap Mira.


Kemudian Elkan menganggukkan kepala. "Baiklah, fast food dulu yang ada di depan apartemen mau?" Tanya Elkan.


"Iya, mau. Sama mau Cappucino ya, Kak," pinta Mira.


"Iya, tanpa kamu minta, aku juga akan membelikanmu Cappucino. Aku pamit keluar dulu yah," pamitnya.


Elkan cukup mengenakan celana panjang dan menggunakan kemeja kotak-kotak miliknya. Ketika Mira hendak memberikan uang miliknya, Elkan menolak. Dia merasa sudah memiliki uang dan cukup untuk hidup mereka berdua selama berada di Sydney nanti.


Kurang lebih setengah jam berlalu, Elkan kembali ke apartemen dengan membawa makanan dan minuman. Pizza, Fried Chicken, dan Cappucino dingin untuknya dan Mira. Sekarang keduanya duduk di sofa yang hanya muat untuk duduk dua orang, dengan meja kecil di depannya.

__ADS_1


"Adanya cuma ini, Honey. Tidak apa-apa kan?" tanya Elkan.


Mira menganggukkan kepala. Setelahnya dia bertanya kepada Elkan. "Kamu panggil aku Honey, Kak? Biasanya panggil nama," tanya Mira.


Elkan kemudian tersenyum. "Sekarang sih sudah benar-benar sahabat menjadi suami istri. Jadi harus ada panggilan sayang. Kalau kamu tetap manggil Kakak aja gak apa-apa. Aku mulai sekarang akan memanggil kamu Honey," ucap Elkan.


Mira tersenyum. Masih belum terbiasa dengan panggilan sayang itu. Terbiasa dengan Elkan yang memanggilnya Mira saja. Namun, memang harus membiasakan. Sebab, jika di rumah terkadang Mira juga mendengar Mama Marsha memanggilnya Papa Abraham dengan panggilan Mas, sementara Papa Abraham akan memanggil Shayang. Terdengar penuh kasih sayang ketika Mama dan Papanya memanggil demikian.


Elkan kemudian mengambilkan potongan Pizza pertama untuk Mira. Di balas dengan Mira yang mengambilkan Pizza juga untuk suaminya. Sekarang keduanya sama-sama menikmati sepotong Pizza.


Setelahnya Elkan mengambil handphone dan bertanya kepada Mira untuk menghubungi orang tua mereka terlebih dahulu. Mira pun setuju, karena memang belum memberikan kabar kepada Mama dan Papanya.


"Video call saja ya, Honey?" tanya Elkan.


"Iya, Kak," balas Mira.


"Halo, assalamualaikum Mama," sapa Elkan.


"Halo, waalaikumsalam,El ... kapan sampai di Sydney?" tanya Mama Sara.


"Tadi jam enam pagi waktu Sydney, tapi kami istirahat dulu, Ma. Masih jetlag," balas Elkan.


Setelahnya, Mama Sara tampak tersenyum. Dia sangat senang melihat Elkan dan Mira. Selain itu, juga ada Mama Marsha dan Papa Abraham di sana, sehingga bisa sekalian menyapa Mama Marsha dan Papa Abraham.


Biasa tidak pernah berpisah jauh, Mama Marsha kembali menangis melihat Mira. "Anak Mama akhirnya sudah sampai di Sydney. Sudah makan belum?" tanya Mama Marsha.

__ADS_1


"Baru makan Pizza, Ma. Seadanya dulu, yang ada di depan apartemen. Mama jangan nangis terus, Mira jadi sedih," balasnya.


Mama Marsha sesegukan di pelukan Papa Abraham. Sebenarnya Mira juga hampir saja menangis, tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk menahan. Supaya Mamanya juga tidak terlalu sedih.


"Ma, kalau senggang dan sempat, kirimin Mira Mie Goreng dong, Ma," pintanya. Sebatas untuk mengalihkan kesedihan Mamanya saja.


"Boleh, kirimkan alamat kamu yah, nanti Mama kirimkan dari Jakarta," balas Mama Marsha dengan tersenyum.


Setelah itu, ada Papa Belva yang berbicara kepada Elkan. "El, sembari work from home yah? Bisa kan untuk kerjakan beberapa pekerjaan dari Papa? Katanya tidak mau mendapatkan uang saku lagi, sebagai gantinya Papa beri kerjaan yah?"


Elkan kemudian tertawa dan menganggukkan kepala. "Ya, Pa. Boleh ..., malu dong, Pa. Sudah masih mendapatkan uang saku dari Papa dan Mama. Kalau bekerja kan hitungannya berbeda," balas Elkan.


Setelahnya, Papa Belva menganggukkan kepala. "Oke, siap. Papa akan berikan pekerjaan secara berkala yang bisa kamu kerjakan dari jarak jauh. Masalah waktu tidak menjadi masalah. Selain itu, tidak mengganggu kuliah dan rumah tangga. Kita bisa negosiasi," ucap Papa Belva.


"Siap, Mr. CEO," balas Elkan yang kali ini ikut-ikutan seperti Mamanya yang terkadang memanggil Papanya dengan panggilan Mr. CEO.


Hampir lima belas menit melakukan panggilan video, kemudian Elkan mengakhiri panggilan video itu. Kembali menikmati Pizza mereka. Elkan melirik Mira yang seketika diam.


"Kok diem, Honey?"


"Sebenarnya sedih, Kak ..., tapi berusaha banget supaya gak nangis di hadapan Mama. Kalau aku ikutan nangis pasti Mama bakalan yang lebih sedih nanti," ucapnya.


Elkan menganggukkan kepala. "Jangan sedih. I am always be with you. Ada aku. Kamu enggak sendirian di sini, ada aku yang selalu menjaga kamu," ucapnya.


"Makasih Kak, selalu jagain aku. Duh, jadi mellow," balas Mira dengan menitikkan air matanya.

__ADS_1


Elkan tersenyum, menyadari dan memahami untuk mereka yang tak pernah berpisah dengan keluarga, tidak pernah jauh dari rumah. Pasti berat ketika memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama. Namun, Elkan sudah berjanji bahwa dia akan selalu menemani dan menjaga Mira. Jika nanti Mira homesick pun, Elkan akan selalu ada untuk Mira.


__ADS_2