Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Nasihat di Pagi Hari


__ADS_3

Sebenarnya, satu kamar dengan Mira membuat Elkan merasa berdebar-debar. Itu karena tidak pernah sebelumnya, Elkan satu kamar dengan lawan jenisnya. Sekarang, bisa satu kamar dengan Mira rasanya membuatnya berdebar-debar. Hingga beberapa kali Elkan terjaga dan mengamati wajah Mira yang tertidur pulas. Seumur-umur, tidak pernah sebelumnya Elkan melihat Mira tertidur lelap seperti ini.


"Kamu kalau tidur cantik banget sih, Ra ... di hadapanku kayak ada bidadari," gumam Elkan dengan lirih.


Pemuda itu tersenyum sendiri, dan kemudian memejamkan matanya lagi. Malam ini tetap saja menjadi malam yang indah untuk Elkan. Mungkin saja, jika lain kali dia meminta izin untuk menginap Mama Marsha dan Papa Abraham akan memberikan izin kepadanya.


Malam berlalu, pagi pun datang. Elkan yang sengaja bangun lebih pagi, sengaja pura-pura tidur untuk mengamati bagaimana wajah Mira ketika terbangun di pagi hari. Tepat jam 05.00, Mira sudah bangun. Gadis itu tetap saja cantik dengan wajahnya yang baru saja bangun tidur.


Tidak berselang lama, Elkan pun terbangun. Dia dengan cepat duduk, dan mengusapi wajahnya. "Ra, kamu sudah bangun?" tanya Elkan perlahan.


"Iya, Kak ... mau bantuin Mama membuat sarapan dulu. Santai saja, Kak," balas Mira.


Gadis itu segera merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu, menata kembali bantal, dan merapikan selimut, setelahnya dia menguncir rambutnya dan bergegas keluar kamar untuk membantu Mamanya menyiapkan sarapan. Sementara, Elkan yang sudah diminta untuk bisa bersantai nyatanya justru turut terbangun dan menyusul ke dapur.


"Pagi, Ma," sapa Elkan.


"Pagi, El ... kamu bangun pagi banget?" balas Mama Marsha.


"Iya, Ma ... terbiasa bangun pagi. Apa yang bisa Elkan bantuin, Ma?" tanyanya.


Mama Marsha tersenyum melihat Elkan, tapi sekaligus Mama Marsha senang karena Elkan berinisiatif menawarkan bantuan. Itu menjadi nilai plus tersendiri untuk Elkan.


"Tidak usah, El ... itu Papa kamu sudah bangun. Mungkin kamu akan menemani Papa kamu jogging," balas Mama Marsha.

__ADS_1


"Pagi, Elkan ... mau nemenin Papa jogging?"


Rupanya Papa Abraham menawarkan kepada Elkan untuk menemaninya jogging. Tentu saja, Elkan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat dengan Papa mertuanya. Memang lebih dekat, siapa tahu Elkan bisa mengambil hati Papa Abraham.


"Boleh, Pa," balasnya.


Pagi itu, Elkan dan Papa Abraham melakukan jogging, memutari kompleks perumahan. Sementara Mama Marsha dan Mira memasak bersama di dapur. Sebagai seorang Mama, Mama Marsha pun menanyai putrinya terkait pengalaman pertama satu kamar dengan Elkan.


"Gimana, rasanya sekamar sama Elkan, Ra?"


"Canggung, Ma. Mira belum terbiasa," jawabnya dengan jujur.


"Ya, masih canggung itu biasa. Nanti lama-lama akan terbiasa juga kok," balas Mama Marsha.


Mama Marsha menghela nafas panjang dan melirik kepada putrinya itu. "Kisah cinta Mama dan Papa kamu adalah hal yang tidak mudah, Ra. Cinta pertama Mama adalah Papa kamu, tapi kami sempat putus lantaran tidak mendapat restu dari mendiang Nenek Dyah. Akhirnya, Mama pindah dari Semarang ke Jakarta, dan di sana Mama menikah dengan seorang aktor yang terkenal di zamannya. Namun, hanya berlangsung hampir dua tahun, Mama bercerai. Takdir membawa Mama kembali kepada Papamu. Jika berkata canggung, untuk kali pertama semua orang akan merasa canggung, Ra. Gunanya hidup berumahtangga kan hari demi hari yang dilewati bisa menghapuskan kecanggungan itu."


Mira mendengarkan kisah dari Mamanya itu. Dia pun menyadari kali pertama pasti canggung. Ya, hari demi hari yang dilalui nanti pasti akan membuat keduanya bisa lebih akrab dan bisa berkolaborasi dengan lebih baik.


"Bersyukur jika cinta pertama Mama bisa menjadi cinta terakhir Mama."


Mama Marsha yang mendengarkan ucapan Mira pun tersenyum. "Kadang kita tidak pernah tahu dengan perjalanan cinta, Ra. Ada yang lurus, ada pula yang berliku. Yang penting di setiap jalan yang sedang kalian jalani, kalian bisa bergandengan tangan, bahkan mengeratkan genggaman tangan jalan yang kalian lalui kian terjal dan berliku. Kamu dan Elkan masih muda. Masih harus menikmati hari berumahtangga."


Pagi yang penuh nasihat dari Mamanya. Mira pun menganggukkan kepalanya. Mira adalah anak yang menyambut baik setiap nasihat dari Mamanya.

__ADS_1


"Yang Mama minta, lulus dulu ya Sayang. Kasihan aja kecil-kecil sudah hamil. Lagipula, hamil di usia itu berisiko untuk ibu hamil," ucap Mama Marsha.


"Iya, Ma. Terima kasih nasihatnya," balas Mira.


"Ngomong-ngomong kamu suka enggak dengan Elkan? Secara dia teman kecil kamu yang sudah kamu anggap seperti kakak sendiri," balas Mama Marsha.


Mira pun tersenyum perlahan. "Kak Elkan sih sejauh ini selalu menjadi orang yang baik, Ma," balasnya.


"Rasakan ketulusannya, cari arti perasaanmu. Pria itu ada kalanya makhluk yang tidak bisa mengungkapkan cintanya melalui kata-kata puitis layaknya pujangga. Namun, ada pria yang berusaha menyampaikan cintanya melalui tindakannya. Cari tahu pelan-pelan, Elkan itu tipe yang mana," ucap Mama Marsha.


Di sana Mira hanya tersenyum sembari menundukkan wajahnya. Mungkin lain kali nanti, dia harus mencari tahu Elkan tipe pria yang mana. Namun, apa pun itu yang pasti Mira berharap Elkan akan selalu baik dan tidak berubah.


Sontak saja Mira teringat dengan ucapan Elkan semalam.


"Aku sayang kamu, Ra."


Ya Tuhan, ungkapan sayang itu seolah masih terngiang-ngiang di telinganya. Wajah gadis itu pun bersemu merah, dan Mama Marsha mengamati ekspresi wajah putrinya.


"Tuh, pasti langsung bayangin Elkan, kan?" tanya Mama Marsha.


"Enggak, Ma," balas Mira dengan menjauh dari Mamanya.


Sebelum banyak pertanyaan dari Mamanya, lebih baik Mira menjauh. Lagipula, biarlah dia yang tahu dan merasakan berbunga-bunga dengan ungkapan sayang Elkan semalam. Mira ingin mencari arti perasaannya sendiri terhadap Elkan juga.

__ADS_1


__ADS_2