
Pulang dari Rumah Sakit, Mira dan Elkan memilih untuk mampir ke rumah Mama Sara dan Papa Belva. Semua itu, karena Mama Sara sudah berpesan supaya Elkan dan Mira langsung ke rumah untuk makan malam. Oleh karena itu, Elkan segera membawa Mira ke rumah Mamanya.
"Aku sebenarnya capek, Kak. Pengen tidur," kata Mira.
Lelah begitu lama di Rumah Sakit dan juga mengalami proses pengambilan sel ovarium. Rasanya, Mira ingin segera mandi dan juga tidur. Elkan juga tahu, istrinya kecapekan, tapi perut mereka kosong sejak siang. Sehingga lebih baik memang mampir untuk makan malam terlebih dahulu.
"Mampir sebentar aja, Honey. Kan sejak siang perut kita juga kosong. Makan malam saja, usai itu kita pulang. Aku siapkan air hangat biar kamu bisa berendam dan lelahnya hilang."
Begitu baiknya Elkan yang sangat pengertian dengan istrinya. Bagaimana pun tidur dengan perut kosong itu sangat tidak enak. Oleh karena itu, Elkan menjanjikan akan menyiapkan air hangat untuk Mira berendam ketika sudah di rumah nanti.
"Hm, iya ..., tapi gak usah lama-lama yah Kak. Nanti aku yang minta maaf Mama saja karena tidak bisa berlama-lama. Sudah capek dan ngantuk," balas Mira.
"Iya, Mama dan Papa kan baik, pasti bisa memahami kamu," balas Elkan.
Begitu sudah tiba di kediaman keluarga Agastya, rupanya ada pasangan Evan dan Andin yang datang terlebih dahulu. Tampak Mama Sara dan Papa Belva menyambut Elkan dan Mira dengan ramah. Sementara Kak Evan masih terlihat begitu menjaga jarak.
"Baru pulang yah? Lama banget di Rumah Sakitnya," tanya Mama Sara dengan cemas.
"Iya, Ma ... tadi kan Mira menjalani operasi kecil gitu untuk mengambil ovariumnya," balas Mira.
"Lalu kapan transfer embrionya?" tanya Papa Belva.
"Papa tahu tentang transfer embrio?" tanya Elkan.
Papa Belva menganggukkan kepalanya. Proses bayi tabung sendiri bukan hal yang baru untuk Papa Belva. Sebab, dulu Papa Belva memiliki pengalaman bayi tabung, bukan dengan Mama Sara, melainkan dengan mendiang istri pertamanya yang bernama almarhumah Anin.
Tidak mengira, proses bayi tabung ini mengingatkan Papa Belva dengan serangkaian peristiwa di masa lalu dengan mendiang istri pertamanya. Bagaimana kegagalan demi kegagalan proses inseminasi karena sama sekali tidak ada embrio aktif yang dihasilkan. Sampai pada akhirnya, terjadilah sewa rahim, di mana Papa Belva bertemu dengan Mama Sara.
Bermula dari Rahim Sewaan, hingga lahirlah Evander Agastya bagi mereka. Lantas, usia kepergian almarhumah Anin, Papa Belva dipertemukan lagi dengan Mama Sara. Kala itu, Papa Belva bergerak cepat untuk menikahi Mama Sara. Kehidupan keluarganya kembali dianugerahi oleh Elkan dan Eiffel.
__ADS_1
"Proses bayi tabung bukan hal baru untuk Papa, El. Dulu, Papa berkali-kali diambil selnya, dilakukan pembuahan di luar. Masalahnya ada yang karena embrio tidak aktif, ada juga yang tidak berkembang ketika sudah ditanam di dalam rahim. Jadi, Papa sangat tahu seluk-beluk Bayi tabung," cerita Papa Belva.
Atensi Elkan, Mira, Evan, dan Andin sepenuhnya terfokus kepada Papa Belva yang sekarang sedang bercerita. Namun, anak-anak tak menyangka bahwa Papanya tahu persis prosedur bayi tabung itu. Walau tentu, Papa Belva juga sudah memberitahukan Evan apa yang terkait dengan masa lalunya.
"Dengan Mama?" tanya Mira.
Mira bertanya demikian karena rasa penasaran. Bagaimana bisa Papa mertuanya tahu mengenai bayi tabung. Apakah mungkin salah satu dari ketiga anak Papa Belva adalah hasil dari program bayi tabung?
Di hadapan anak-anak, Papa Belva menggelengkan kepalanya. Seakan-akan kenangan masa lalu itu memang hadir begitu saja.
"Bukan," jawab Papa Belva.
Elkan dan Mira sama-sama terkejut, sementara pasangan Evan dan Andin bertukar pandangannya. Memang Elkan dan Mira belum tahu mengenai masa lalu Papa Belva. Namun, Evan memberikan kesempatan kepada Papanya saja untuk menceritakan semuanya kepada adik-adiknya.
"Kok bisa, Pa?" Elkan bertanya dengan menunjukkan rasa penasaran.
"Sebenarnya, sebelum bertemu dengan Mama kamu, Papa pernah menikah selama beberapa tahun dengan mendiang Mama Anin. Sekian tahun, pernikahan Papa dengan almarhumah tidak mendapatkan keturunan. Oleh karena itu, Papa menikah lagi dengan Mama Sara. Dulu, Papa bolak-balik dan menghabiskan berapa ratus juta untuk proses bayi tabung. Selalu gagal. Setelah menikah dengan Mama Sara, akhirnya kami dianugerahi Evan," cerita Papa Belva.
"Mama Sara. Evan, Elkan, dan Eiffel adalah anak-anak Mama Sara. Almarhumah mengidap endometriosis akut sehingga tidak bisa mengandung. Alasan mendapatkan keturunanlah yang membuat Papa menikah lagi. Maaf, baru sekarang Papa menceritakannya," kata Papa Belva.
"Mama, kenapa Mama mau, Ma?" tanya Elkan.
"Mama cinta sama Papa kamu, El. Apalagi yang bisa membuat gadis yatim piatu gila, selain cinta. Jadi, semuanya adalah buah cinta Mama dan Papa kamu. Tidak peduli, siapa yang datang terlebih dahulu, yang pasti Mama singgah untuk waktu lama dalam hidup Papamu. Sampai akhir hayat Mama nanti."
Elkan terkejut sebenarnya, tapi dia memahami alasan Mamanya. Walau begitu, seumur hidup, Elkan juga tahu bagaimana Mama dan Papanya membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis.
"Semua orang memiliki masa lalu, El. Mohon memaklumi itu," balas Papa Belva.
Hingga akhirnya Elkan menganggukkan kepalanya. Dia paham bahwa semua orang memiliki masa lalu. Entah itu pahit atau manis, masa lalu seolah akan selalu mengikuti.
__ADS_1
"Maafkan, El, Pa ...."
"Tidak perlu meminta maaf, El," balas Papa Belva.
"Pada akhirnya Mama Anin meninggal dunia ya, Pa?" tanya Mira.
Papa Belva menganggukkan kepalanya. "Iya, endometriosis yang akhirnya menjadi kanker serviks dan Mama Anin menyerah. Papa bahkan sempat menduda selama dua tahun, Mira. Menjadi duda dan mengasuh Evan sendiri. Dalam kesendirian dan tenggelam untuk mengasuh dan membesarkan Evan seorang diri, hingga akhirnya semesta memiliki cara untuk mempertemukan Papa dengan Mama kamu. Memang Mamamu bukan yang pertama untuk Papa, tapi Papa akan pastikan bahwa Mamamu akan menjadi cinta terakhir untuk Papa. Cinta terakhir sampai Papa menutup mata."
Mendengar cerita dan pengakuan Papa Belva seketika air mata Mira luruh juga. Ya, Mira menangis mendengar cerita itu. Bagi Mira itu adalah pernyataan dan pengakuan cinta yang sungguh-sungguh dalam. Mengesampingkan masa lalu, tapi jauh dari itu ada arti cinta yang sangat besar di sana.
"Kok malahan menangis?" tanya Mama Sara.
"Ter ... ha ... ru, Ma." Mira menjawab dengan terisak-isak.
"Sudah, itu kan hanya masa lalu. Yang pasti, Mama dan Papa saling mencintai. Mama dan Papa sudah membuktikan hampir 30 tahun membina rumah tangga dengan pasang surutnya. Insyaallah, Mama akan menjadi yang terakhir untuk Papa, begitu juga sebaliknya."
Mama Sara kemudian memeluk Mira. Wanita itu tersenyum dan mengusapi punggung Mira."Sudah, jangan menangis. Kamu lelah juga. Mama dan Papa kan saling mencintai."
"Iya, Ma," jawab Mira dengan terisak.
"Maaf, mendengar bayi tabung, Papa jadi teringat masa lalu," kata Papa Belva.
Dengan sendirinya ada setitik air mata yang jatuh dengan begitu saja. Melihat respons Papanya, Elkan dan Evan duduk mendekat ke Papanya. Keduanya merangkul sang Papa bersamaan.
"Tidak apa-apa, Pa. Boleh kok kalau Mama ke memorial park dan mengirim doa," kata Elkan.
"Iya, Pa. Mama juga pasti ngebolehin," sahut Evan.
Mama Sara kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Papa. Yang dikatakan anak-anak benar adanya. Tidak apa-apa," kata Mama Sara.
__ADS_1
Mira melihat sosok Mama mertuanya yang berhati besar. Memberikan izin dan kesempatan untuk suaminya mengunjungi memorial park istri pertamanya. Sungguh, luar biasa mama mertuanya itu.