
Untuk warga yang tinggal di Ibukota, kadang Monas atau Monumen Nasional menjadi tempat untuk dijadikan mengisi akhir pekan. Melihat kota Jakarta dari puncak Monas, atau menikmati semilir angin di cawan Monas. Bagi lainnya, bisa juga menikmati sepeda santai dan sebagainya di pelataran Monas yang luas.
Sekarang, Papa Belva berjalan bersama istrinya dan melihat Elkan dan Mira yang saling bergandengan tangan, serta Evan dan Andin. Papa Belva sangat bahagia, dia pun berbicara kepada istrinya.
"Sebagai orang tua. Inilah yang aku inginkan ... melihat anak dan menantu hidup rukun dan bahagia," kata Papa Belva.
"Kebahagiaan orang tua itu tidak muluk-muluk yah, Pa," kata Mama Sara.
"Benar, Ma ... Mama masih ingat cita-citaku dulu enggak?" tanyanya.
Dengan cepat Mama Sara pun menganggukkan kepalanya. "Papa ingin melihat anak dan keturunan Papa hidup bahagia dan rukun. Ingin menua bersama anak-anak, menantu, dan cucu," jawab Mama Sara.
"Benar sekali ... agaknya semua itu perlahan-lahan akan terjawab yah, Pa," balas Mama Sara.
"Semoga saja. Bahkan tidak lama lagi, kita akan memiliki cucu. Aku sudah mengatakan bukan, Mama memang bukan yang pertama untukku, tapi aku pastikan yang menghabiskan waktu denganku dan menemaniku sampai aku menua hanya Mama. I Love U," kata Papa Belva.
Keduanya memang bukan pasangan muda. Usia saja sudah kepala tua, tapi keduanya tak segan untuk selalu mengatakan 'i love u' satu sama lain. Sebab, itu bukan sekadar ungkapan, tapi bukti untuk saling mencintai. Di setiap musim kehidupan, cinta mereka berdua tidak akan pernah surut.
"Nanti lebih ramai, kalau Evan dan Andin juga memiliki baby yah ... kita belum terlalu tua dan sudah memiliki cucu-cucu," balas Mama Sara.
"Iya, ini juga keinginanku ingin menikmati waktu bersama cucu. Bermain bersama cucu," balas Papa Belva.
Ya, untuk Papa Belva bahwa ini adalah kenangan yang indah. Oleh karena itu, Papa Belva kemudian mengajak anak-anaknya untuk berfoto bersama. Mengabadikan momen piknik tipis-tipis itu.
__ADS_1
"Kita foto bersama yuk?" ajak Papa Belva. Mumpung berada di Monas, sayang rasanya kalau tidak mengabadikan momen kebersamaan ini. Lagipula, jepretan melalui lensa bisa menjadi kenang-kenangan untuk waktu yang lama.
"Boleh, Pa," jawab Elkan.
Akhirnya Papa Belva memilih foto dengan fotografer yang terbiasa ada di Monas. Fotonya juga langsung jadi, sekaligus membagi rejeki untuk para tukang foto di sana. Tak segan, Papa Bela meminta beberapa foto, untuk harga sama sekali tidak menjadi masalah. Akhirnya, mereka berenam foto bersama dengan Papa Belva dan Mama Sara di tengah, kemudian di sisi kanannya ada Andin dan Evan, dan sisi kiri Mama Sara ada Mira dan Elkan. Saling merangkul, menandakan ikatan kekeluargaan yang erat. Selain itu, sebagai back up Papa Belva meminta dipotretkan di handphonenya.
"Nah, bagus ini ... foto ini akan jadi kenangan yang indah untuk kita semua," kata Papa Belva.
"Kayak poster film India," kata Andin dengan tiba-tiba.
Praktis, semua yang ada di sana pun tertawa. Tidak mengira kalau Andin langsung teringat dengan poster film India kala melihat foto mereka di handphone.
"Yang mana Kak?" tanya Mira.
Bukan hanya menjawab, tapi Andin juga menunjukkan poster film India yang pernah rilis tahun 90an itu. Melihat poster yang ditunjukkan kakak iparnya, Mira juga tertawa. Tidak menyangka bahwa poster itu memang ada. Hasilnya memang mirip.
"Eh, serius mirip," kata Mira.
Mama Sara pun turut menengok poster film Bollywood itu, dan mengangguk setuju. Hasil fotonya memang sama. Hanya saja, mereka berlatar belakangkan Monumen Nasional.
"Nanti kalau Eiffel kembali dan memiliki suami, kita foto lagi berdelapan," kata Papa Belva.
"Siap Papa," jawab Elkan.
__ADS_1
"Siap, Pa ... di studionya Papanya Mira yah?" tanya Evan dengan tertawa.
"Hasil berkualitas, harga bersahabat yah Kak Evan," sahut Mira.
"Benar ... setuju." Evan menjawab dengan tertawa.
Andin kemudian ikut menyahut. "Katanya studio langganan keluarga Agastya yah, Ra?"
"Iya, sudah zaman Kak Evan dan Kak Elkan kecil kali, Kak," jawab Mira.
"Mama foto waktu hamil Evan yang motret Papanya Mira kok. Kala itu, Mama manggilnya Mas Bram loh," cerita Mama Sara dengan tertawa.
"Sekarang memanggilnya Besan." Papa Belva menyahut.
Sungguh, banyak sekali kenangan yang sudah mereka lewati bersama. Namun, sejauh ini Papa Belva bersyukur karena banyak melewatkan hal indah bersama dengan keluarga Narawangsa yang sekarang menjadi besannya.
"Seru yah," balas Andin.
"Iya, sama Besan sudah seperti sama keluarga sendiri," balas Mama Sara.
"Pentingnya relasi seperti itu, Andin. Berawal dari kerja sama, berakhir menjadi keluarga. Yang pasti Papa dan Mama welcome kepada siapa saja. Kami sebagai orang tua juga tidak mengharuskan anak-anak kami dapat dari kalangan pengusaha dan sebagainya. Kalau cinta ya sudah ... yang penting satu iman, anaknya baik, dan sopan santun. Terbukti kan, kamu dan Mira adalah wanita beruntung yang dicintai Evan dan Elkan. Tidak peduli bagaimana latar belakang keluarganya," kata Papa Belva.
Andin menganggukkan kepalanya. Benar, bahwa keluarga mertuanya itu sangat baik. Ketika sekarang banyak keluarga memperhitungkan latar belakang dan sebagai, ada keluarga Agastya yang notabene adalah keluarga kaya raya, tapi bisa welcome kepada siapa saja. Tidak ada syarat khusus menjadi menantu. Yang penting cinta, dan lainnya bisa dibicarakan dengan baik-baik.
__ADS_1