
Hari libur semester pertama pun tiba. Hari yang nyatanya dimanfaatkan oleh kedua belah pihak keluarga yaitu keluarga Agastya dan keluarga Narawangsa untuk mewujudkan mimpi dan rencana yang sudah terucap belasan tahun yang lalu. Kesepakatan verbal untuk menikahkan Mira dan Elkan.
Sekarang, di villa keluarga Agastya yang berada di Bogor, dua anak manusia yang masih remaja itu akan sama-sama dinikahkan. Tidak banyak dekorasi mewah. Hanya bunga-bunga mawar putih yang menghiasi area taman hingga ruang tamu. Perbukitan hijau dan pohon cemara yang berada di sisi villa justru menjadi dekorasi alamiah yang membuat tempat itu menjadi kian romantis.
Sementara, di dalam kamar, tanpa make up berlebihan. Mira tengah bersiap dengan mengenakan kebaya putih dan kain jarik. Tidak ada paes yang biasanya digambar di kening dengan cairan pidih berwarna hitam. Hanya sanggul biasa dengan sedikit bunga Melati yang menghiasi rambut sang pengantin SMA.
Pun di kamar yang berbeda, Elkan hanya mengenakan Setelan Jas berwarna hitam, dan peci berwarna hitam yang berada di kepalanya. Elkan sendiri, sudah cukup umur. Sebab, dia sudah berusia 20 tahun sekarang, sementara Mira masih berusia 18 tahun.
"Hari ini tiba, El ... kamu akan menikahi Mira," ucap Mama Sara yang tampak menitikkan air matanya menatap putra bungsunya yang hendak menikah.
Elkan pun menatap sang Mama, "Kan katanya Mama, Elkan harus menjaga Mira. Jadi, Elkan siap untuk menjaganya," balasnya.
"Iya, jagain Mira ... sayangi dia. Kamu masih ingat bukan bahwa kalian itu saling sayang sejak kecil?" tanya Mama Sara.
Elkan memilih diam. Ya, sejak kecil dia sayang dengan Mira. Namun, ada peristiwa di mana dia pernah merasa kesal dengan Mira, hingga Elkan memilih pergi ke Singapura.
"El akan jaga Mira, Ma," balasnya dengan yakin.
Sementara itu, di kamar yang lain Mama Marsha pun menitikkan air matanya.
"Anak Mama akhirnya menikah juga," ucapnya.
"Untuk memenuhi amanah Mama dan Papa," balas Mira.
__ADS_1
Ya, kali ini Mira menganggap kesediaannya menikah hanya sekadar memenuhi amanah Mama dan Papanya. Sembari berharap, suaminya tidak akan menghalanginya untuk mengejar mimpinya.
"Janji kan, Ma ... bahwa Mira boleh sekolah tinggi? Mengejar mimpi dan cita-cita Mira?" tanyanya.
Mama Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Elkan pasti akan selalu mendukung kamu. Mama, Papa, Mama Sara, dan Papa Belva juga akan selalu mendukung kamu, Mira," balas Mama Marsha.
Saat mengucapkan akad pun tiba, Mama Marsha kemudian membawa Mira untuk turun ke bawah. Namun, Mira meminta waktu dulu. Gadis itu perlu melakukan relaksasi sederhana dengan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan melalui mulutnya. Setelah itu, Mira mengambil kacamatanya dan mengenakannya.
"Harus memakai kacamata juga Mira?" tanya Mama Marsha.
"Hmm, iya Ma," balas Mira dengan sedikit tersenyum.
"Kenapa? Bukankah Elkan juga akan tahu bahwa kamu itu cantik dan kacamatamu itu hanya kacamata baca, tidak minus atau silinder sama sekali," balas Mama Sara.
Terlihat Mira tersenyum, "Biarkan saja Kak El melihatku seperti ini," balas Mira.
Keluar dari villa dan menuju taman yang ada di samping kolam renang. Jantung Mira kian berpacu, berdegup dengan begitu kencang. Bahkan beberapa kali, Mira harus menghela nafas. Sementara di depannya sudah ada penghulu dan Papanya yang duduk berhadapan dengan Elkan yang mengenakan Jas berwarna hitam.
"Ayo, Mira," ajak Mama Marsha dengan berbisik lirih.
Mira pun menganggukkan kepalanya, dengan rasa tidak percaya diri, Mira terus berjalan dan akhirnya Mama Marsha membantu Mira untuk duduk di samping Elkan. Tampak Papa Abraham menunjukkan matanya yang berkaca-kaca melihat anak gadisnya berhias sebagai pengantin hari ini.
"Bisa kita mulai akadnya?" tanya petugas dari Kantor Urusan Agama.
__ADS_1
Seluruh keluarga pun menganggukkan kepalanya, "Ya, bisa."
Lantas petugas dari catatan sipil membacakan syarat dan ketentuan pernikahan menurut Undang Undang perkawinan, kemudian dilanjutkan dengan pengucapan ijab dan qobul.
Sekarang, Papa Abraham mengucapkan Bismillah dan menjabat tangan Elkan di sana.
"Saya nikahkan dan kawinkan putri yang kukasihi Miranda Lastika Narawangsa binti Abraham Narawangsa dengan engkau, Elkan Agastya dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai."
Selang sekian detik, disertai dengan suaranya yang tegas Elkan pun menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Miranda Lastika Narawangsa binti Abraham Narawangsa dengan mas kawin tersebut tunai."
Tidak ada keraguan dalam diri Elkan. Setiap kata yang dia ucapkan penuh dengan keyakinan, bahkan Elkan mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu kali tarikan nafas.
"Sah!"
Ketika petugas dari Kantor Urusan Agama dan saksi nikah mengucapkan sah, rasanya seluruh bulu kuduk berdiri. Pun dengan Mira yang meneteskan air matanya. Masa SMA yang indah, masa bersemi di putih abu-abu, rasanya berlalu. Dia justru menjadi pengantin SMA sekarang.
Dua wanita yang duduk di belakang Elkan dan Mira pun turut meneteskan air matanya. Siapa lagi jikalau bukan Mama Sara dan Mama Marsha. Keduanya menangis haru. Bahkan Papa Belva pun turut meneteskan air matanya. Keluarga Agastya tidak menyangka bahwa Elkan, putra bungsunya yang akan terlebih dahulu menikah dan melangkahi Evan, kakaknya.
Acara pun dilanjutkan dengan penyematan cincin pernikahan di jari manis kedua mempelai. Pertama, Mira terlebih dahulu yang memasang cincin pernikahan di jari manis Elkan. Disertai dengan mencium punggung tangan suaminya sebagai bentuk rasa kasih dan hormat dari seorang istri kepada suaminya. Dilanjutkan dengan Elkan yang kini memasangkan cincin pernikahan di jari manis Mira.
Kali ini, Elkan sedikit mendekat dan untuk kali pertama dalam hidupnya, dia mengecup kening Mira di sana. Cup!
Hati Mira dan Elkan sama-sama berdesir. Walaupun wajahnya seolah tak menunjukkan ekspresi, tetapi jantung mereka benar-benar berpacu. Gugup, dan bingung. Ya, walau sudah tahu keduanya akan dinikahkan, tapi menilik ketidakakraban keduanya sekarang membuat Mira dan Elkan tampak begitu tegang.
__ADS_1
Setelahnya pihak KUA menyerahkan buku pernikahan. Warna cokelat untuk suami, dan warna hijau untuk istri. Bahkan foto kedua mempelai yaitu Elkan dan Mira juga disematkan di halaman pertama. Ini bukti bahwa pernikahan mereka tidak terjadi di bawah tangan. Melainkan pernikahan yang sah di mata agama dan hukum sipil negeri ini.
Hari ini adalah hari yang sah untuk Mira dan Elkan menyandang gelar sebagai suami dan istri. Pernikahan di usia belia ketika sama-sama duduk di bangku SMA telah terjadi. Selanjutnya akan ada banyak romansa dan kisah seru yang mewarnai kehidupan meraka dalam menggapai cita dan cinta.