Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Yang Datang dari Jepang


__ADS_3

Tidak terasa waktu sudah bergulir satu bulan lamanya. Tentunya, durasi pernikahan Elkan dan Mira juga sudah berjalan selama satu bulan lamanya. Kendati demikian, keduanya bersikap biasa saja. Sekolah juga bisa berjalan tanpa ada kendala. 


Walaupun kelakuan Sonya semakin hari kian menjadi-jadi. Akan tetapi, Mira memilih sabar dan tidak terlalu menanggapinya. Lebih baik, dia fokus belajar. Daripada harus meladeni Sonya dengan bicaranya yang pedas dan selalu memojokkan. 


Setelah satu bulan berlalu, sekarang keluarga Agastya akan menyambut tamu spesial yang datang dari Jepang. Bukan Evan, karena Evan masih berada di London untuk menyelesaikan kuliahnya. Jika Mama Sara dan Papa Belva tampak excited, tapi Elkan justru terlihat biasa saja. 


"Kok lemes sih El?" tanya sang Papa kepada putranya itu. 


"Kecapekan aja kok, Pa," balas Elkan. 


Papa Belva pun berdiri di belakang putranya itu dan memijat kedua bahu Elkan. Siapa tahu dengan sedikit pijatan bisa membuat Elkan lebih bersemangat. "Ayo, semangat! Kamu masih muda, harus lebih semangat daripada Papa," ucap Papa Belva. 


Elkan pun tersenyum tipis dan mengangukkan kepalanya. "Iya, Pa. Mungkin Elkan kecapekan aja. Kan juga habis pulang sekolah. Sekarang sudah bantuin persiapan ini," balasnya. 


"Nanti kalau Mira datang, kamu pasti lebih semangat," balas Papa Belva. 


Mendengar nama Mira disebut, kali ini justru Elkan menghela nafas panjang. Justru di dalam hatinya dia berharap, Mira tidak akan bergabung dalam acara sore ini. Lebih baik begitu adanya. Akan tetapi, Mama dan Papanya sudah terlanjur meminta Mira untuk datang. 


"El, bantuin Mama untuk memasang lampu ini yah … biar romantis, menantu Mama kan juga akan datang," panggil Mama Sara kepada putranya itu. 


Tanpa banyak bicara, Elkan menaiki kursi dan segera memasang lampu di taman, seperti yang diinstruksikan Mamanya. Setelah semua beres, Elkan turun dari kursi dan kemudian melihat bahwa persiapan ini menurutnya sih berlebihan. Namun, Elkan juga tidak berani protes karena pasti Mama dan Papanya tidak akan mendengarkan protesnya yang tanpa alasan sebenarnya. 


Menjelang petang, tamu yang sudah dinanti kedatangannya pun tiba. Pemuda tampan yang baru saja menyelesaikan S1 nya di Universitas Waseda, di Jepang. Tampak Mama Sara dan Papa Belva menyambut pemuda yang baru saja tiba itu dengan penuh kebahagiaan. 


"Koniciwa," salamnya dengan bahasa Jepang. 

__ADS_1


Tampak Papa Belva memeluk pemuda tampan berkulit putih itu. "Sudah empat tahun berlalu, akhirnya keponakan Uncle ini lulus juga dan kembali ke Tanah Air," sambut Papa Belva dengan senang. 


"Setelah di Jepang, memberi salamnya dengan Bahasa Jepang yah. Koniciwa, Sayonara … kochi-kochi-kochi … Sayonara," balas Mama Sara dengan setengah bernyanyi lagu yang sering keluar di Reel YouTube itu. 


Sang pemuda itu pun tertawa, "Onty Sara update juga yah. Itu trending beberapa waktu yang lalu," balasnya. 


"El, apa kabar?" Kini giliran Elkan yang disapa untuk tamu yang baru datang setelah empat tahun berada di Jepang. 


"Baik, Jer," balas Elkan. 


Ya, yang datang kala itu adalah Jerome, keponakan Papa Belva. Jerome adalah putra adiknya Papa Belva, yaitu dari Tante Amara dan Om Rizal. Menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di Bogor, akhirnya Jerome memilih untuk kuliah Teknik Matematika di Universitas Waseda yang ada di Jepang. 


Memang sejak kecil, Jerome menonjol di bidang Matematika. Sehingga, ketika kuliahnya pun dia mengambil jurusan Teknik Matematika atau biasa disebut juga dengan Matematika Terapan. Tentu kepulangan Jerome setelah empat tahun berada di Jepang disambut oleh Uncle Belva dan Onty Sara. 


"Gimana di Jepang, betah di sana?" tanya Papa Belva kepada Jerome. 


Tampak Papa Belva pun tertawa. "Ada yang bisa dinikmati selain kuliah ya Jer," balas Papa Belva. 


"Benar Uncle, pasti Kak Evan pun begitu. Di London ada hal lain yang bisa dia nikmati selain kuliah," balas Jerome. 


"Namun, Elkan anaknya terlalu tertutup, Jer. Dia lebih banyak mengambil program intensif seputar bisnis dan manajemen. Ketika Onty tanyain kenapa gak bersenang-senang? Dia jawab, mau memanfatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar. Padahal Onty juga pengen Evan bisa menikmati masa mudanya," balas Mama Sara. 


Memang begitulah Evan, ketika teman sebayanya di London bisa kuliah dan menikmati hidup. Evan justru menghabiskan masa mudanya untuk belajar. Tak jarang, Evan juga mengambil kursus di luar jam kuliahnya untuk menambah ilmu bisnis dan manajemen. 


"Kak Evan itu serius, Onty. Cita-citanya besar untuk bisa terjun ke Agastya Properti nanti," balas Jerome. 

__ADS_1


"11-12 sama Papanya," sahut Mama Sara. 


Di sana Papa Belva pun tertawa. "Itu karena dia putraku, Sayang. Lihatlah Elkan juga tertarik dengan Food and Beverage, itu karena dia putramu. Keduanya putra kita, jadi mewarisi karakter dan juga minat kita," balas Papa Belva. 


Jerome kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar Uncle, Jerome juga satu bulan lagi membantu Papa di perusahaan. Ya, mencari pengalaman bekerja dulu," balasnya. 


"Itu bagus, Jer … setidaknya kamu siap untuk membantu Papa kamu mengurus perusahaannya. Hanya saja, kalau Uncle boleh memberikan saran, rintis lah dari bawah dan nikmati prosesnya. Ketika kamu memulai dari bawah, Uncle yakin kamu akan lebih menghargai proses. Bisa melihat kondisi staf yang ada di bawah karena kamu sudah pernah merasakannya sebelumnya. Namun, ketika kamu memulai dari atas, mereka yang ada di bawah akan menilai kamu bisa cepat naik karena kamu adalah putra sang CEO," nasihat dari Papa Belva. 


Jerome yang mendapatkan nasihat dari Uncle nya pun menganggukkan kepalanya. "Benar juga ya Uncle. Nanti Kak Evan apa juga begitu?" tanya Jerome. 


"Iya, di posisi sesuai ijazahnya minimal. Biar Evan berjuang. Walau dia nanti yang akan memegang Agastya Properti, Uncle ingin dia berproses dari bawah. Menikmati proses dan juga bisa menempatkan dirinya dengan baik," balas Papa Belva. 


Jerome kembali tersenyum. "Kalau Agastya Properti in chargenya Kak Evan, kalau Coffee Bay in charge di Elkan, pasti yang Skincare ke Eiffel ya Uncle?" tebaknya. 


"Sejauh ini, itu harapan dan rencana orang tua, Jer. Ke depannya bagaimana, kita tidak tahu. Sebaik-baiknya rencana manusia, tetap saja rencana Allah yang terlaksana," balas Uncle Belva. 


Mama Sara pun turut merespons dengan menganggukkan kepalanya. Setuju dengan ucapan suaminya bahwa sebaik apa pun rencana manusia, yang terlaksana hanya rencana Allah semata. Sebab, semua yang terjadi ini semuanya atas izin dari Allah semata. 


"Sambil minum dan makan yuk, khusus loh ini buat kamu. Kamu kan sudah lama tinggal di Jepang, jadi Onty sediakan masakan khas Indonesia. Kalau Onty sediain makanan khas Jepang, sudah biasa kan untuk kamu?" 


"Benar Onty, justru kangen sama makanan khas Indonesia yang kuat rempah-rempahnya. Kemarin aja, begitu landing, Jerome langsung mampir ke Rumah Makan Padang. Kangen banget sama Rendang dan Sambal Hijau," ceritanya. 


Mama Sara pun tertawa. "Masakan khas Nusantara memang istimewa ya, Jer," ucapnya. 


"Bener banget, Onty. Apalagi Toast di Coffee Bay yang Beef Rendang. Itu juara banget untuk Jerome. Kemarin langsung beli Frappuccino dan Toast Beef Rendang," cerita Jerome. 

__ADS_1


"Kamu bisa aja, bikin Onty seneng," balas Mama Sara dengan tertawa. 


Terlihat jelas ketika Mama Sara dan Papa Belva bahagia menyambut kedatangan Jerome. Elkan justru bersikap biasa-biasa saja. Pemuda itu memang turut bergabung, tapi irit sekali berbicara. 


__ADS_2