Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Melewati Semester Demi Semester


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian ....


Tidak terasa semester demi semester sudah Elkan dan Mira lewati bersama. Bahkan waktu sudah bergulir dua tahun. Itu artinya tinggal satu tahun bagi Elkan dan Mira untuk menyelesaikan kuliah dan juga wisuda.


Dalam dua tahun terakhir, kuliah dan kehidupan pernikahan seolah tidak ada kendala. Terlebih sudah tidak ada pihak ketiga di antara keduanya sehingga membuat kehidupan pernikahan menjadi lebih adem ayem. Walau masih muda, Elkan juga semakin menekuni bagaimana menjalankan bisnis Coffee Bay nanti. Itu semua juga karena Mama Sara pernah berpesan kepadanya bahwa ketika Elkan selesai kuliah, Coffee Bay akan dilimpahkan secara penuh untuk Elkan.


"Sibuk Kak?" tanya Mira kepada suaminya itu.


"Lumayan, Honey. Harus mulai mempelajari bisnis Coffee Bay nih. Suamimu ini jadi tukang kopi nanti," canda Elkan.


Memang begitulah Elkan, walau waktu sudah bergulir dua tahun. Namun, kadang kala Elkan lebih suka bercanda. Dia bisa-bisanya menyebut pemilik waralaba kopi terbesar di Indonesia justru menjadi tukang kopi. Sampai Mira ikut tertawa karena suaminya itu.


"Nama kamu berubah aja, Kak," sahut Mira.


"Berubah apa, Honey?" tanyanya.


"Elkan Warkop," balas Mira yang kembali tertawa.


"Warung kopi yahhh," balas Elkan.

__ADS_1


Ada-ada saja candaan kedua pasangan muda itu. Bahkan pembahasan biasa, bisa menghadirkan tawa untuk keduanya. Mira sampai terbahak-bahak, wanita itu terkekeh sembari memegangi perutnya yang seakan berguncang karena bercanda dengan Elkan.


"Kamu bisa saja," balas Elkan dengan mencubit hidung Mira.


"Aw, sakit," balas Mira dengan mengusapi hidungnya sendiri.


Elkan merangkul istrinya itu. Sebagai isyarat bahwa dia ingin Kira menemaninya belajar. Terlebih ada buku tahunan perkembangan bisnis Coffee Bay yang harus dia pelajari. Walau berharap di food and baverage, bisnis tetaplah bisnis. Ada target keuntungan yang harus dicapai. Ya, walau Elkan tahu bahwa bisnis ini tidak seserius Agastya Properti yang lebih terkesan kantoran, tender, dan sebagainya.


"Jadi, nanti kamu langsung pegang Coffee Bay ya Kak?" tanya Mira lagi.


"Iya, Honey. Aku gak minat dengan Agastya Properti. Menurutku Kak Evan lebih cocok untuk meneruskan Agastya Properti. Selain itu, Papa juga intens membimbing Kak Evan di bidang properti. Ya, jadi memang Kak Evan yang sudah dipersiapkan Papa di bisnis properti. So, inget, Honey, suami kamu cuma tukang kopi," ucap Elkan.


Mendengar apa yang Elkan katakan Mira kemudian terkekeh geli. Tangannya tergerak dan mengusap-usap kepala suaminya itu. Gemas saja, hingga dia mengusapi helai rambut suaminya itu perlahan.


Sebenarnya memang secara virtual Elkan sangat cakep. Kulitnya yang putih bersih, alisnya hitam dan tebal, hidungnya yang mancung, dan bibirnya bersemu merah alami. Elkan berkata karena dia tidak pernah merokok, sehingga bibirnya menjadi merah alami.


"Hum, kamu udah terperdaya sama tukang kopi ini," balas Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. "Iya, Gak terasa loh Kak ... waktu kuliah kita tinggal satu tahun. Semester depan kita mulai ajukan Skripsi loh, Kak," kata Mira kemudian.

__ADS_1


"Iya, bimbing aku ya, Honey. Biar aku bisa ngimbangi kamu. Biar tukang kopi ini bisa barengan lulus ya sama kamu," jawab Elkan.


"Pasti, selama ini kita akan selalu belajar bersama. Semua dikerjakan bersama-sama. Lalu, nanti kalau sudah selesai kuliah dan tinggal di Jakarta, kita mau tinggal di mana, Kak? Ikut Papa Abraham atau Papa Belva?" tanya Mira.


Namun, di saat yang bersamaan Elkan menggelengkan kepalanya. Walau keluarga mereka dekat dan sangat karib. Justru, Elkan tidak ingin tinggal dengan orang tua atau pun mertua. Dia ingin tinggal sendiri dengan Mira.


"Mandiri saja, Honey. Kita tiga setengah tahun, hidup mandiri di luar negeri. Jadi, nanti kita juga mandiri saja. Pasti bisa," balas Elkan.


Apa yang dikatakan Elkan memang benar adanya. Ketika berada di Sydney untuk kuliah, mereka sudah hidup berdua saja. Mandiri. Sehingga, Elkan juga menginginkan ketika kembali ke Indonesia nanti, mereka bisa mandiri lagi. Tidak perlu ikut orang tua atau mertua.


"Ya sudah, kemana pun, aku tidak masalah. Asalkan sama kamu," balas Mira.


"Oke, Honey. Percaya kepadaku yah. Aku akan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu. Aku akan selalu menjadi pria dan suami yang bertanggung jawab. Lebih dari dua tahun aku sudah membuktikannya, dan selamanya aku akan selalu memberikan bukti untukmu," balas Elkan.


"Iya, Kak Elkan Tukang Kopiku yang cakep," balas Mira.


Elkan sedikit beringsut demi bisa menatap wajah Mira yang masih tersenyum di hadapannya. "Kamu tahu enggak, Honey. Ketika seorang istri memberikan dukungan penuh untuk seorang suami. Rasanya suami itu berubah menjadi sosok yang super power loh. Sama seperti aku, yang tahu bahwa kamu akan selalu mendukungku. Aku sangat bahagia, aku memiliki kekuatan lebih untuk menggapai masa depan. Percayalah Honey, saat kita bertambah usia nanti, akan terasa besarnya support dan cinta dari pasangan kita yang selalu menemani dari kita nol, bukan siapa-siapa sampai kita nanti mencapai level tertentu."


"Iya, Kak. Kita akan saling dukung dan saling melewati pertambahan usia kita bersama yah. Kita nikmati prosesnya. Aku ingat dengan ucapan kamu," balas Mira.

__ADS_1


"Jangan menyerah ketika prosesnya sulit. Yang pasti selalu bersama. Proses yang sulit, ketika kita menjalaninya bersama-sama, hasilnya akan luar biasa," kata Elkan.


Sering kali banyak pasangan menyerah di tengah jalan manakala mengalami proses yang sulit. Merasa tak mampu dan tidak memiliki kekuatan lebih untuk meneruskan perjuangan. Namun, Elkan meminta Mira untuk selalu ada di sisinya. Menemaninya dalam menikmati setiap proses yang ada.


__ADS_2