
Beberapa pekan berlalu, Elkan disibukkan dengan beberapa pekerjaan dari perusahaan Papanya. Walau menjadi staf jarak jauh, tapi yang dikerjakan Elkan sudah banyak. Bahkan sekarang ada permintaan khusus dari Papa Belva kepada putranya itu.
"El, bisa tidak Papa percayakan data perusahaan kepadamu?" tanya Papa Belva kepada putranya itu melalui panggilan telepon.
"Kenapa, Pa?" tanya Elkan.
"Dulu banget data di perusahaan pernah disalahgunakan orang. Bisa tidak kita memiliki bank data sendiri?" tanya Papa Belva.
Tampak Elkan mendengarkan instruksi dari Papanya. Sebenarnya Elkan menangkap apa yang diinginkan Papanya. Namun, untuk mengerjakan semua itu perlu waktu khusus dan harus dikerjakan terus-menerus.
"Penyimpanan di cloud, Pa. Jadi, semua data perusahaan itu aman. Data fisik bisa hilang atau memungkinkan kerusakan dokumen, tapi kalau data digital akan bertahan. Selama tidak menghapusnya pastinya selalu ada," jawab Elkan.
"Gimana nanti selesai S1, kamu sekolah lagi, El. Mengambil IT. Jadi, kamu bisa membantu perusahaan juga," tawaran dari Papa Belva.
"Bukannya tidak mau, Pa. Elkan juga ingin berumah tangga, memiliki anak-anak yang lucu. Masih muda tidak masalah, justru kami masih muda ketika anak-anak beranjak dewasa," balas Elkan.
Elkan mengatakan itu dengan jujur. Bukannya tak mau, tapi ada rencana lainnya yang sudah Elkan buat dengan Mira. Elkan hanya ingin Papanya juga tahu mengenai rencana masa depannya.
"Oh, jadi anaknya Papa ini sudah memiliki planning yah. Keren kamu, El. Baiklah, nanti kuliah di Jakarta saja tidak apa-apa. Yang bisa kamu kerjakan sekarang, kerjakan dulu saja. Nanti kamu kan terjun di Coffee Bay, bisa sekalian handle untuk IT perusahaan," balas Papa Belva.
"Salary nya double yah, Pa," balas Elkan dengan bercanda.
Ya, dia hanya tertawa saja. Kalau terjun di dua bidang sekaligus, artinya dia juga mendapatkan gaji atau salary double. Sebatas bercanda saja dengan Papanya yang sebenarnya sarang duit itu.
"Santai, El. Papa tahu itu, salary dari Papa juga banyak kan selama ini?" balas Papa Belva.
"Tidak usah banyak-banyak, Pa. Yang penting El bisa menafkahi istri. Sudah jadi suami, Pa. Jadinya harus bertanggung jawab."
Mendengar jawaban Elkan, Papa Belva di sana menganggukkan kepalanya. Salut dengan putranya yang masih muda secara usia, tapi sudah berani bertanggung jawab. Bahkan Elkan juga tahu tugas seorang suami adalah menafkahi istrinya.
"Baiklah, tugasnya seperti biasa di Drop box yah. Selama ini yang Papa berikan apa kurang, El?" tanya Papa Belva.
Sekadar bertanya, karena kebutuhan di luar negeri pastilah tidak sama dengan kebutuhan di dalam negeri. Sebagai seorang Papa, tentu ada khawatir jika anaknya kekurangan uang ketika berada di luar negeri. Untuk itulah, Papa Belva menanyai demikian.
"Sudah kok, Pa. Sudah cukup. Kami juga bisa menabung sedikit-sedikit. Tenang, Menteri Keuangannya jago kok, Pa," balas Elkan dengan bercanda.
Kalau bukan karena Mira yang jago mengelola uang pastilah mereka juga kekurangan. Namun, Mira sangat pandai mengelola uang. Bahkan pemberian dari Elkan setiap bulan saja ditabung, itu artinya mereka tidak hidup berkekurangan.
__ADS_1
...🍀🍀🍀...
Selang Sepekan Kemudian ....
Sekarang, Elkan mendapatkan telepon dari seseorang yang ternyata liburan ke Sydney. Sehingga, mau tidak mau Elkan harus menemuinya. Tentunya Elkan tidak sendirian, tapi mengajak serta istrinya.
"Honey, ikut aku sebentar yah," ajak Elkan.
"Kemana Kak?"
"Ada yang sedang liburan ke Sydney, pengen ketemu sebentar," balas Elkan.
"Kak Evan dan Kakak Ipar ke sini yah? Untuk bulan madu?" tanya Mira.
Mira pikir yang datang ke Sydney adalah Kak Evan dan istrinya. Maklum saja Kakak iparnya itu masih menjadi pengantin baru, siapa tahu Kak Evan ke Sydney untuk berbulan madu. Itu tebakan Mira.
Akan tetapi, Elkan dengan cepat menggelengkan kepalanya. Sebab, yang datang bukanlah Kak Evan.
"Bukan Kak Evan juga," balas Elkan.
"Fans berat kamu dulu, Jerome," balas Elkan.
Oh, rupanya yang datang ke Sydney adalah Jerome. Pantas saja, sejak pagi Elkan seperti badmood. Sementara Mira tersenyum dan memeluk suaminya itu dari belakang.
"Hubby, badmood?" tanyanya.
"Iya, takut dia rebut istriku," balas Elkan.
"Kan aku cuma milikmu, Kak. Apa ya kurang semua pembuktiannya?" tanya Mira.
"Enggak, aku takut saja. Dia masih suka sama kamu enggak ya, Honey?" tanya Elkan.
"Ya, aku gak tahu perasaan dia. Yang pasti, aku sendiri sih cintanya cuma sama kamu. Selera nomor satu," balas Mira.
Sengaja Mira bercanda, supaya suaminya itu tidak lagi badmood. Toh, sejak dulu juga Mira tidak pernah menyimpan perasaan kepada Jerome. Jika ada cowok yang pernah Mira suka, tentu dia hanya Elkan. Cowok yang kini menjadi suaminya.
"Percaya, Honey. Stand with me yah ... jangan tinggalin aku," kata Elkan sekarang.
__ADS_1
"I'll always stand with you, Hubby."
Usai itu, keduanya bersiap. Mereka hendak menemui Jerome di dekat Sydney Opera House. Jerome memang sepupunya, tapi Elkan tahu bahwa sepupunya itu mencintai Mira dulu. Wajar saja jika ada was-was di dalam hati.
Menempuh perjalanan dari unit ke Sydney Opera House, akhirnya mereka bertemu dengan Jerome di salah satu kafe. Elkan sudah bersikap biasa. Intinya, dia akan menjaga Mira selalu.
"Hei, Jer," sapa Elkan.
"Halo, Kak Jerome," sapa Mira.
"Wah, disambut couple terhits di Sydney nih," balas Jerome dengan tertawa.
Jujur, setelah sekian lama bagi Jerome bisa bertemu lagi dengan Mira itu sangat menyenangkan. Akan tetapi, Jerome juga sangat tahu bahwa Mira sudah menjadi istri sepupunya sendiri.
"Sama siapa?" tanya Elkan.
"Sendirian aja, El. Gimana happy di Sydney?" tanya Jerome.
Elkan mengangguk. "Tentu bahagia. Kuliah sembari membina rumah tangga," balas Elkan.
"Keren lah, kalian. Gue liburan dulu, awal bulan gue mulai bekerja jauh, El. Di Shanghai," balas Jerome.
Rupanya kedatangan Jerome ke Sydney memang untuk liburan. Sebab, awal bulan nanti dia akan mulai bekerja di Shanghai. Menurut Jerome, ketika sudah bekerja nanti pastilah akan susah untuk liburan.
"Jauh amat, Kak," sahut Mira.
"Iya, dapatnya di sana. Sebenarnya mau urus perusahaan Papa di Bogor, tapi kayaknya Jeanette, adikku lebih cocok. Jadi, aku yang bekerja di luar negeri saja. Mencari pengalaman," balas Jerome.
"Wah, dapat Cici di sana nanti, Jer," goda Elkan.
Jerome tertawa. "Ya, do'ain aja. Kamu udah nikah, Kak Evan udah nikah. Moga nanti aku segera nyusul deh," balas Jerome.
"Amin. Undangannya Kak Jer," kata Mira sekarang.
"Nikahnya nunggu kalian lulus saja. Biar kalian udah stay di Jakarta."
Walau awalnya ada rasa badmood, tapi tetap bertemu sepupu sendiri juga senang. Terlebih Jerome juga sudah melupakan Mira. Itu berarti, Elkan tidak memiliki kekhawatiran berlebih.
__ADS_1