
Tampaknya usaha Tante Lista sia-sia. Niat hati ingin mengusahakan kebebasan Bagas. Akan tetapi, keluarga Agastya tetap kukuh pada pendiriannya bahwa dia tidak akan menarik laporannya. Bagi Papa Belva sendiri ketika seseorang melakukan kejahatan, maka dia layak mendapatkan hukuman. Bukan semata-mata benci, tapi Bagas sudah melukai tiga orang sekaligus.
Tante Lista kemudian menatap Mama Marsha dan Ayah Pandu di sana. "Marsha, tidak bisakah kamu menolongku? Sebab, Bagas adalah putra kandung dari almarhum Melvin Andrian. Kalau begitu, dia juga adalah keponakanmu sendiri bukan? Sebab, almarhum Melvin adalah adik suamimu itu."
Bak tak kehilangan akal, Tante Lista berusaha untuk menjelaskan asal-usul Bagas. Bagaimana Bagas memiliki keterkaitan dengan Mama Marsha dan Papa Abraham. Elkan sama sekali tidak terkejut, sementara Mira justru yang sangat terkejut. Apakah itu artinya Bagas adalah sepupunya sendiri.
"Bahkan dulu ... kamu pernah menjadi istrinya Almarhum Melvin," kata Tante Lista lagi.
Ini adalah cara mengungkap masa lalu yang pelik. Masa lalu dengan kisahnya yang berliku. Tentu saja Mira kaget bukan main.
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu, Lista. Sebab, saat Almarhum masih resmi menjadi suamiku, bukankah almarhum menghabiskan malam-malamnya bersamamu?"
Mama Marsha memberikan jawaban seperti itu. Bukan mengungkit masa lalu, hanya menegaskan bahwa Almarhum menghabiskan malam-malamnya bersama Lista jauh lebih banyak dibandingkan dengan istri sahnya.
Bagaimana pun masa lalu dulu sangat tidak harmonis. Kisah cinta dipenuhi air mata dan pengkhianatan. Hingga akhirnya masing-masing memilih jalannya sendiri.
"Mama pernah menikah sebelumnya?" tanya Mira.
Mira meneteskan air matanya. Rupanya ada rahasia besar di dalam keluarganya yang tidak Mira ketahui. Baru sekarang Mira mengetahuinya. Sementara Elkan yang sebelumnya sudah tahu memang sengaja tidak memberitahu Mira karena mengkhawatirkan kondisi Mira pasca melahirkan dan tengah menyusui saat itu.
__ADS_1
"Nanti Mama dan Papa akan menceritakan semuanya kepadamu, Mira. Dan, sekarang Lista sebaiknya tidak usah memperbincangkan masa lalu lagi. Kalau memang Bagas adalah anak dari Almarhum, aku mengucapkan selamat," kata Mama Marsha.
"Walau kamu sekarang sudah mengetahuinya, apakah kamu tidak bisa meminta Besanmu untuk menarik kembali laporannya?" tanya Lista.
Mama Marsha menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak bisa. Sebab, yang dilukai Bagas bukan hanya Elkan, tapi juga dua pegawai Coffee Bay yang terluka parah. Selain itu mencelakai Elkan, artinya juga mencelakai anakku, Mira. Kami akan memastikan Bagas mendapatkan hukuman sesuai kesalahannya," balas Mama Marsha.
Tante Lista menitikkan air matanya. Tidak mengira bahwa Marsha tidak memberikan pintu maaf. Tidak berusaha untuk berbicara dengan Besannya. Walau Bagas adalah keponakannya sendiri. Di mata Tante Lista justru keluarga Narawangsa sudah melupakan hubungan darah yang ada. Melupakan Bagas yang di dalam tubuhnya mengalir darah Melvin Andrian.
"Hubungan darah itu akan tetap terjalin, Lista. Hanya saja, pelaku kejahatan memang harus mendapatkan hukumannya. Supaya Bagas nantinya belajar dari kesalahannya, dan juga lebih berhati-hati dalam bertindak," balas Mama Marsha.
__ADS_1
Di sana Papa Belva dan Mama Sara menganggukkan kepalanya. Bukan karena dendam, tapi tetap melanjutkan proses hukum adalah supaya Bagas menyadari kesalahannya dan lebih berhati-hati dalam bertindak. Itu juga yang diharapkan Papa Belva. Ada kalanya kalau pelaku kejahatan tidak diberi hukuman, tidak ada efek jera yang dialaminya nanti.