
Dalam perjalanan pulang dari Pengadilan Negeri. Papa Belva mengajak Papa Abraham dan Elkan mampir ke Coffee Bay terlebih dahulu. Sebab, ada beberapa hal yang ingin Papa Belva bicarakan dengan Papa Abraham.
"Mampir ngopi sebentar yah," ajak Papa Belva.
"Boleh, Besan ... kamu gimana, El?" tanya Papa Abraham sekarang.
Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Pa. Kalau sebentar. Jangan terlalu lama. El juga ingin turut mengasuh Aryan dan Aaliya," balasnya.
"Bagus, El. Berbagi pengasuhan itu penting. Dulu, sesibuk apa pun bisnisnya Papa, ketika sudah di rumah handphone Papa non-aktifkan. Papa fokus untuk anak-anak dan Mama kamu. Benar, kami memiliki ART, tapi masalah anak-anak, Mamamu tak pernah menggunakan Babysitter. Semuanya diasuh sendiri. Itu yang membuat Papa harus ikut membersamai kalian," cerita Papa Belva.
Walau Papa Belva seorang CEO dan memiliki tugas yang banyak, tapi ketika di rumah sebisa mungkin Papa Belva fokus untuk istrinya dan anak-anak. Selain itu, memang ada beberapa ART, tapi urusan anak, Mama Sara tak pernah menggunakan jasa Babysitter. Semuanya diasuh dan dirawat sendiri. Papa Belva justru mendukung sikap Elkan.
"El mikirnya begitu juga, Pa. Masih tumbuh kembang Aryan dan Aaliya tidak akan terulang."
Sementara Papa Abraham yang mendengarkan cerita menantunya itu tersenyum saja. Walau begitu, Papa Abraham bangga karena Elkan adalah orang yang baik. Bukan hanya bisa menjaga Mira, tapi Elkan bisa belajar menjadi seorang Papa walau usianya masih begitu muda.
"Ada yang ingin Papa tanyakan sebenarnya kepada Papa mertua kamu. Masih menyangkut hal yang Papa dengar barusan. Hak untuk anak di luar nikah itu seperti apa? Kalau anak tanpa nasab, mereka hanya berkerabat dan memiliki warisan sang Ibu, tidak menyangkut warisan sang Papa. Sikapmu sendiri bagaimana, Besan?"
Jika menilik secara jauh, Bagas pun tanpa nasab sebenarnya. Tidak pernah ada hubungan pernikahan antara Mendiang Melvin Andrian dan Lista. Namun, sekarang Bagas meminta harta warisan. Jika berdasarkan ke hukum islam mengenai anak tanpa nasab, mereka tidak berhak mewarisi harta kekayaan Papanya. Kekerabatan mereka juga hanya mengikuti garis keturunan Ibu.
Papa Abraham terdiam, tapi kemudian dia menggulir mesin pencarian di handphonenya dan menunjukkan kepada Besannya itu. Terdapat sebuah kutipan demikian.
Anak luar kawin tidak hanya punya hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, tetapi juga mempunyai hubungan perdata dengan ayah dan/atau keluarga ayahnya selama dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan atau alat bukti lain menurut hukum bahwa laki-laki tersebut adalah ayah dari anak luar kawin tersebut.
"Aku mengikuti hukum tertulis saja, Besan. Konstitusi kita, kalau memang Bagas bisa membuktikan bahwa dia adalah putra kandung, garis keturunan adikku, maka aku akan memberikan warisannya," kata Papa Abraham.
__ADS_1
Papa Belva terdiam. Untuk urusan mengalah dan tidak tamak akan harta dunia, Papa Abraham juaranya. Bahkan sikap Papa Abraham sekarang jelas bahwa memilih mengikuti hukum tertulis jika memang keabsahan Bagas sebagai putra kandung mendiang Melvin Andrian, Papa Abraham akan memberikan bagian warisannya.
"Semuanya kamu berikan?" tanya Papa Belva.
Bila pewaris meninggal dengan meninggalkan keturunan yang sah dan atau suami istri, maka anak luar kawin yang diakui mewarisi 1/3 bagian, dari mereka yang sedianya harus mendapat, seandainya mereka adalah anak sah.
"Lihat, bagian ini ... aku akan memberikannya sepertiga. Ada dasar hukumnya," balas Papa Abraham.
"Kenapa kamu selalu mengalah perihal harta?"
"Orang hidup ketika kembali kepada Allah tidak membawa harta dunia, melainkan membawa amal ibadahnya," balas Papa Abraham lagi.
Mendengarkan apa yang disampaikan Papa Abraham, Papa Belva merasa sangat salut kepada Besannya itu. Jujur, sebelumnya Papa Belva pernah diperhadapkan dengan masalah dan menyakut warisan. Untung saja semua sudah terselesaikan.
"Kamu selalu hebat. Bahkan aku belajar darimu, Besan."
Papa Abraham tersenyum tipis, dia kemudian menyeruput kopi hitamnya yang masih panas. "Aku tidak pernah ingin mengambil hakku. Jadi, biarkan saja. Daripada menimbun harta duniawi yang dimakan rayap dan ngengat, lebih baik memperbanyak amal dan ibadah."
"Sarannya Elkan harus memastikan supaya Bagas tidak memalsukan keabsahannya, Pa. Maaf, Bagas itu licik," kata Elkan.
"Setuju dengan sarannya El, Besan. Kalau dipikir-pikir untuk apa Bagas dendam kepada Elkan? Tidak ada hubungannya," balas Papa Belva.
"Mungkin kesal dengan keluarga Mira atau gimana, dan membalasnya melalui Elkan. Merasa ketika menyakiti Elkan, bukan hanya Mira yang tersakiti, tapi keluarga Mira juga," balas Elkan.
Sekarang Papa Belva dan Papa Abraham menganggukkan kepalanya. Jawaban Elkan juga terdengar logis.
__ADS_1
"Mungkin ada benarnya juga, El. Ya, walau itu tidak tepat. Bahkan mencuri ide dan resep Coffee Bay itu adalah tindakan yang tidak benar," balas Papa Belva lagi.
"Ya, bagaimana lagi, Pa. Ketika hati dipenuhi amarah, sebal, dan tidak suka, semua yang dilakukan hanya untuk menghancurkan orang yang kita anggap rival. Simplenya begitu sah sih," balas Elkan.
"Bisa saja. Besan, tolong pertimbangkan ucapan Elkan. Jangan mempercayai begitu saja. Akan tetapi, pastikan keabsahan tes DNA nanti," balas Papa Belva.
Setelah itu, Papa Abraham menganggukkan kepalanya. Dia akan mempertimbangkan apa yang baru dikatakan menantu dan besannya.
"Baik, terima kasih sarannya," balas Papa Abraham.
"Makasih, Pa. Papa jadi teladan yang keren untuk, El," kata Elkan sekarang.
"Untuk apa?"
Elkan tersenyum. "Elkan memiliki dua figur yang hebat. Papa Belva dan Papa Abraham yang begitu keren. Papa Abraham harus tahu bahwa Mira sangat mengidolakan Papa."
"Mira memang selalu begitu," balas Papa Abraham tersenyum.
"Kalau membutuhkan bantuan hukum dan pengacara, bilang kepadaku, Besan. Kita bukan orang lain lagi, kita adalah keluarga," kata Papa Belva.
"Siap, Besan. Terima kasih," balas Papa Abraham.
"Semoga semuanya berjalan baik yah, Pa. Elkan juga akan mulai kembali bekerja. Sudah lama Elkan hanya bekerja dari rumah," kata Elkan sekarang.
"Tidak memilih bekerja dari rumah saja, El?" tanya Papa Belva.
__ADS_1
"Tidak, Pa. Sebagai seorang pria dan seorang suami serta Daddy, Elkan akan bekerja keras. Papa-Papa saja bekerja keras, masak Elkan enak-enak di rumah. Sebagai pria, Elkan harus tanggung jawab ke istri dan anak-anak," kata Elkan dengan sungguh-sungguh.
Sekarang Papa Belva dan Papa Abraham saling pandang. Keduanya kemudian tersenyum bersama. Namun, keduanya bangga dengan Elkan. Tidak mudah mengambil tanggung jawab di usia muda. Akan tetapi, Elkan sudah menunjukkan sejak dulu bahwa dia berani mengambil tanggung jawab lebih ketika usianya masih begitu muda. Tak takut untuk menafkahi istri, walau harus bekerja jarak jauh kepada Papanya sendiri. Pun sekarang ketika Elkan sudah sembuh, Elkan juga berusaha untuk bertanggung jawab secara penuh.