Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Kabar Bahagia untuk Keluarga


__ADS_3

Pulang dari Rumah Sakit, begitu masuk di mobil. Mira kembali menangis. Rasanya begitu haru. Masih tidak menyangka bahwa dua embrionya berkembang dengan aktif bahkan sudah membentuk kantung rahim.


"Kenapa kok nangis?" tanya Elkan.


"Terharu, Kak," balas Mira.


Elkan belum melajukan mobilnya. Dia memilih untuk memeluk Mira terlebih dahulu. Ya, Elkan melepas sabuk pengaman yang semula dia kenakan, kemudian mulai memeluk Mira. Bukan hanya Mira yang terharu, tapi Elkan juga.


Keduanya sekarang sama-sama berpelukan dan menitikkan air matanya. Begitu penuh haru rasanya, sungguh ini adalah anugerah Allah yang sangat luar biasa. Air mata ini adalah bukti betapa bahagia dan bersyukurnya keduanya.


"Aku bersyukur banget, Honey. Sangat bersyukur. Rencana kita satu demi satu terwujud. Kita mulai bersama dengan baby ini," kata Elkan.


Rasanya memang luar biasa, setiap apa yang mereka berdua rencanakan perlahan-lahan bisa tercapai. Walau hari menikmati proses yang tidak singkat, tapi Elkan dan Mira juga terlibat dan menikmati proses itu. Memetakan rencana untuk menggapainya.


"Sekarang, udah resmi jadi Bumil yah. Harus lebih berhati-hati lagi. Aku akan selalu menjaga kamu dan baby kita," kata Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. Dia tidak akan ragu dengan Elkan yang sudah pasti akan bisa merawatnya. Selama bersama dengan Elkan, tidak pernah ada keraguan di dalam hati Mira.


"Kita pulang ke rumah yah? Kita bagikan kabar bahagia ini ke Mama dan Papa kita. Oke?"


"Oke, Kak. Makasih banyak yah ... Daddy El," balas Mira.


Elkan tersenyum sendiri dan mengusapi puncak kepala istrinya itu. Setelahnya, Elkan mulai melajukan mobilnya untuk pulang. Namun, kali ini bukan pulang ke rumah, melainkan ke rumah Mama Sara dan Papa Belva. Kabar yang Elkan dapatkan adalah keluarga sedang berkumpul dan menunggu Mira dan Elkan.


Perjalanan lebih dari 45 menit ditempuh Elkan, dan sekarang mereka sudah tiba di rumah Mama Sara dan Papa Belva. Turun dari mobil saja, Elkan segera menggandeng tangan istrinya itu, mengajak Mira untuk masuk ke dalam rumah.


"Hati-hati jalannya, Honey," kata Elkan.


"Iya, Kak. Hati-hati banget kok ini."


Membuka pintu rumah sudah ada pasangan Mama Sara dan Papa Belva, Mama Marsha dan Papa Abraham, lalu ada Evan dan Andin. Mama Sara dan Mama Marsha memeluk Mira bersama. Ada tangisan bahagia di sana.


"Selamat Mira ...."


Mama Sara dan Mama Marsha kompak memberikan selamat kepada Mira. Mira sendiri tersenyum dengan berurai air mata. Siapa sangka di usia 22 tahun Mira sudah hamil, nanti ketika usianya 23 tahun babynya sudah lahir.

__ADS_1


"Makasih Mama," balasnya.


Setelah itu, giliran Papa Belva dan Papa Abraham yang bergantian memberikan pelukan untuk Mira. "Sehat-sehat ya, Ra. Selamat yah, Papa bahagia," kata Papa Belva.


"Terima kasih banyak Papa," balas Mira.


Sekarang di pelukan Papa Abraham, Mira benar-benar menangis. "Papa," ucapnya dengan terisak-isak.


"Jangan nangis. Sudah jadi Bumil loh putrinya Papa ini. Selamat ya Mira. Papa bahagia banget. Siapa sangka, usia Papa belum kepala lima, sudah akan menjadi Opa," kata Papa Belva dengan tersenyum.


"Opa keren yah, Pa," balas Mira.


"Pasti dong. Papa selalu keren di mata kamu yah?"


Sekarang Papa Abraham dan Mira sama-sama tertawa. Walau begitu masih terdengar isakan di tawa Mira. Setelah itu, mereka duduk bersama di ruang tamu. Seakan siap mendengarkan cerita dari Elkan dan Mira.


"Jadi, tadi sudah dilakukan pemeriksaan kehamilan, dan ... dua embrio yang ditanam bersamaan di dalam rahim Mira semuanya bergerak aktif. Alhamdulillah, semua ini tentunya karena Allah," cerita Elkan.


"Alhamdulillah ...."


"Ada empat embrio yang didapatkan dari hasil inseminasi. Dua ditanam di dalam rahim Mira, dan dua embrio sisanya akan dibekukan. Nanti, jika kami berniat menginginkan buah hati lagi, akan melakukan transfer embrio lagi. Hasil pemeriksaan tadi juga sudah ada dua kantung embrio. Tinggal menunggu adalah akan ada satu plasenta atau dua plasenta. Doakan yah Mama dan Papa, Kak Evan dan Kakak Ipar, semoga semuanya lancar sampai hari persalinan nanti," cerita Elkan dengan detail juga.


"Jadi, twins dong?" tanya Mama Sara.


"Iya, Ma. Cowok dan cewek. Kembar fraternal. Alhamdulillah, ini sungguh berkah luar biasa dari Allah," balas Elkan.


"Alhamdulillah ...."


Papa Belva kemudian berbicara. "Besan, nanti kita ajak cucu ke Dufan yah. Masih ingat tidak dulu kita pernah mengajak Evan, Elkan, dan Mira ke Dufan. Nanti kita ajak cucu-cucu ke Dufan. Opa keren ngasuh cucu dong," katanya.


"Siap. Harus, Opa keren itu mau main dan ngasuh cucu," balas Papa Abraham.


"Papa," sahut Mira dengan menatap Papanya.


"Benar, Ra. Dulu, kamu masih sangat kecil mungkin empat tahun, Papa ajak ke Dufan dengan Kak Evan dan Elkan. Kamu dan Elkan naik komedi putar sampai tujuh kali," cerita Papa Abraham.

__ADS_1


"Dari kecil udah kelihatan kan siapa yang bisa jagain kamu, Honey," kata Elkan kepada Mira.


"Aku tahu," balas Mira.


"Memang begitu, Andin. Evan, Elkan, dan Mira sudah kenal sejak mereka kecil. Istilahnya masa kecilnya bagaimana juga kenal karena sering bermain bersama," kata Papa Belva kepada Andin.


Mendengarkan cerita Papa mertuanya, Andin menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa," katanya singkat.


"Maaf, jangan heran yah Kak Andin. Memang kalau sudah ngumpul ceritanya macam-macam," kata Mama Marsha kepada Andin.


"Iya, Tante Marsha. Tidak apa-apa kok," balas Andin.


Setelah itu, Mira kemudian berbicara kepada Kak Andin. "Aku doakan skripsinya lancar ya Kak Andin. Semoga usai lulus, Kakak dan Kak Evan juga bisa segera nyusul."


Andin tersenyum tipis. Evan yang memberikan jawaban. "Amin, doakan yah, Ra. Selamat yah untuk kalian berdua," balas Evan.


"Makasih Kak Ev," balas Mira.


"Kak Evan kok aku perhatikan sejak tadi hanya diam?" tanya Elkan mendadak.


Mungkin karena sudah kenal banget dengan sosok kakaknya, Elkan merasa bahwa Kakaknya sekarang menjadi lebih pendiam. Untuk itulah, Elkan bertanya seperti itu. Mira juga menoleh ke suaminya, dalam hati Mira setuju dengan pertanyaan Elkan. Beberapa kali bertemu Kak Evan, memang kakak iparnya terlihat berbeda. Namun, Mira hanya diam, memberitahu Elkan pun tidak. Siapa sangka sekarang Elkan justru bertanya demikian.


"Oh, gak apa-apa, El. Baru banyak kerjaan di kantor aja," balas Evan.


Tentu itu adalah jawaban sebuah dalih. Yang benar, Evan memang tengah menjaga istrinya itu. Daripada memunculkan kecurigaan berlebih, Evan memilih diam dan tidak bersikap berlebihan.


"Yakin Kak?" tanya Elkan lagi.


"Iya, gak ada apa-apa kok," jawab Evan.


"Kalau misal ada masalah bisa sharing, Kak. Sama seperti yang dulu. Kita sudah sama-sama menikah bukan berarti membuat hubungan menjadi jauh, kita tetap kakak dan adik yang kompak. Jadi, Kakak bisa cerita sama aku," balas Elkan.


"Siap," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya.


Kala Elkan dan Evan terlibat dalam pembicaraan itu, Andin menunduk. Memang dia yang meminta kepada suaminya untuk tak terlalu dekat dengan Mira. Di mata Andin, Mira itu sosok yang hangat, pintar, dan ramah. Dia tidak ingin suaminya terlalu dekat dan akrab dengan adik iparnya sendiri. Walau sudah tahu Mira sudah kenal keluarga Agastya sangat lama, Andin tetap meminta suaminya menjaga jarak.

__ADS_1


__ADS_2