Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Bisa Menerima


__ADS_3

Elkan juga berjalan dengan lebih cepat dan sekarang dia sudah berjalan di sisi Mira. Tanpa perlu izin, Elkan segera menautkan tangannya di tangan Mira dan menggenggamnya erat. Lagipula sekarang sudah di luar kampus. Mereka hanya perlu berjalan kurang lebih lima menit untuk tiba di unitnya.


Sepanjang perjalanan memang Mira lebih banyak diam. Namun, Elkan bisa menerimanya. Dia memahami kesalnya perasaan Mira sekarang ini. Akan tetapi, Elkan akan bertanya kepada Mira nanti dan tentunya meminta maaf juga.


Begitu sudah sampai di unitnya, rupanya Mira memilih mengganti bajunya terlebih dahulu. Cukup mengenakan celana pendek dan kaos rumahan saja. Setelahnya dia menuju ke dapur untuk meminum air putih. Begitu juga dengan Elkan yang mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Setelah itu, rasanya begitu kantuk, sehingga Mira berniat tidur sebentar.


"Honey," suara Elkan yang memanggil Mira, sehingga Mira yang semula hendak merebahkan diri di ranjang. Sekarang hanya bisa duduk di tepian ranjang itu.


"Hmm, ya Kak?" balas Mira.


"Sorry buat yang tadi yah, aku tahu kamu kesal. Aku juga mengikuti ucapan kamu, aku harap hari ini kamu tidak akan marah kepadaku," ucap Elkan.


Akan tetapi, Mira tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak marah sama Kakak kok. Aku marah sama Rosaline. Aku sudah berbaik hati menawarkan untuk menemani dia makan. Eh, malahan dia ngadi-ngadi. Ya sudah, lebih baik aku pergi," balas Mira.


Elkan tersenyum ketika mendengarkan penjelasan Mira. Jika sudah seperti ini, Mira itu terlihat galak. Berbeda jauh dengan keseharian Mira yang diam dan tenang. Namun, bagi Elkan itu jauh lebih baik daripada Mira hanya diam. Lebih baik Mira bisa menyuarakan perasaannya. Sebab, ketika Mira kesal dan memilih diam, Elkan sendiri justru menjadi serba salah.


"Judesnya Nyonya Miranda," balas Elkan dengan cengar-cengir.


"Iyalah, ibarat kata sudah dikasih hati, dia minta ampela. Sama aku sejudes itu, kalau sama Kakak aka dimanis-manisin," balas Mira.


Sebenarnya apa yang diungkapkan Mira itu adalah bukti bahwa Mira sendiri sedang cemburu. Namun, Mira juga sudah berkata jujur bahwa dia sudah berbaik hati, menawarkan untuk dirinya saja yang menemani makan. Sebab, Mira tahu bahwa untuk beberapa orang yang tidak pernah, makan seorang diri memang terlihat kasihan. Namun, ketika Mira sudah berbaik hati, dan Rosaline menolaknya dan menyuruhnya pergi, maka itu cukup menjadi penolakan nyata.

__ADS_1


"Iya, aku tahu perasaan kamu, Honey. Terima kasih sudah berada di sampingku. Teruslah seperti itu. Aku selalu berjanji tidak akan mengkhianati kamu," pinta Elkan sekarang.


Jika tadi Elkan terlihat cengar-cengir, sekarang Elkan menunjukkan keseriusannya. Dia meminta kepada Mira untuk selalu berada di sampingnya. Memang itulah yang dia minta.


"Jangan memberi celah untuk wanita lain, Kak. Sekali kamu memberi celah, ya sudah. Aku pastilah yang tersisih," ucap Mira sekarang.


Elkan merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Tentu, Honey. Aku gak akan memberi celah untuk siapa pun. Janji!"


Setelah itu, Mira sedikit tersenyum. "Aku cemburuan ya Kak?" tanyanya.


"Sudah sewajarnya kok. Kalau suami istri, pasangan, dan tidak ada rasa cemburu itu justru yang dipertanyakan. Cemburu kan tanda cinta, penting bukan cemburu buta," balas Elkan.


Dalam cinta memang ada cemburu. Hanya saja jangan sampai cemburu buta. Terlebih keduanya masih muda. Ibarat kata baru mengenal cinta, baru terjun dalam dunia pernikahan. Sementara banyak godaan yang bisa saja datang. Cemburu itu wajar.


Mira kemudian menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan belajar dan membedakan cemburu dan cemburu buta. Hatinya juga bisa membedakan kedua hal itu. Selain itu, Mira juga menganggap wajar karena Elkan sendiri memang tampan. Wajar jika sekarang dan nanti banyak cewek yang naksir kepada suaminya itu. Namun, Mira juga mengharapkan Elkan yang tidak akan memberikan celah untuk wanita lain.


"Makasih, Kak. Sorry yah ... aku enggak marah kok sama Kakak," ucap Mira lagi.


"Iya, tidak apa-apa. Ya sudah, kamu mau ngapain habis ini?" tanya Elkan kepada Mira.


"Mau tidur sebentar deh, Kak. Bangun agak sore. Hehehhe ... baru males, Kak. Mungkin mau PMS," balas Mira.

__ADS_1


Elkan sekarang mengernyitkan keningnya. "PMS apaan?" tanya Elkan.


"Pre menstruasi syndrom, kalau aku sih bawaannya ngantuk, badan pegal-pegal, dan bisa marah-marah kayak tadi," ucap Mira.


"Oalah, palang merah yah? Wah, libur lagi dong, yah. Abang pusing kalau libur lagi," balas Elkan dengan tertawa.


Mira pun tersenyum dan sembari sedikit manyun. "Gimana lagi, siklusnya begitu. Kalau gak palang merah malahan yang bahaya, Kak. Bisa-bisa aku hamil," jawabnya.


Pasangan muda itu sama-sama tertawa, kemudian Elkan menganggukkan kepalanya. "Bener banget, tapi aku pengen banget hamilin kamu. Kebayang nanti lucunya anak-anak kita. Mira dan Elkan Junior," ucapnya.


"Isshh, sabar Abang. Setelah lulus kuliah yah," balas Mira. Geli sendiri memanggil Elkan dengan sebutan Abang.


Lagi-lagi keduanya tertawa. Hingga Elkan akhirnya kembali berbicara. "Iya, buat kamu, aku selalu sabar. Sekarang, gini dulu udah seneng banget. Ya sudah, bobok saja, Honey. Aku ikutan bobok yah. Ngantuk," balas Elkan.


"Iya, tapi tangannya jangan nakal ya Kakak," balas Mira.


"Siapa juga yang nakal. Palingan cuma pelukin kamu aja. Udah ayo, nanti bangun terus mandi dan makan," ucap Elkan.


"Anterin ke laundry juga ya, Kak. Yang sprei mau aku laundry soalnya gak ada tempat buat jemur," balas Mira.


"Siap, Nyonya. Nanti sore yah, dianterin," balas Elkan.

__ADS_1


Syukurlah sekarang Mira bisa belajar menyuarakan isi hati dan emosinya. Elkan juga belajar untuk mengetahui reaksi istrinya. Usia mereka masih muda, kadang memang bisa cemburu menggebu-gebu. Namun, keduanya sudah membicarakan bersama. Menemukan titik terang. Jika memiliki komunikasi yang baik, pasti sampai nanti Elkan dan Mira bisa menyelesaikan setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan pernikahan mereka.


__ADS_2