
Sebenarnya, berada satu kamar membuat Mira dan Elkan merasa sungkan. Kendati demikian, bersikap normal dan sewajarnya tetap dilakukan Mira dan juga Elkan. Tepat seperti yang dikatakan Elkan bahwa sepulang sekolah, pemuda itu benar-benar ke rumah Mira.
"Aku bawakan kue, buah, dan susu, Ra ... mau makan atau minum?" tawarnya sekarang.
"Boleh deh, Kak ... kuenya saja," balas Mira.
Elkan pun mengambilkan kue, kemudian dia keluar dari kamarnya Mira. Elkan berjalan menuju ke dapur dan meminta sendok kue kepada Mama Marsha.
"Elkan bawa kue, Ma," ucapnya kepada Mama Marsha.
"Iya, kamu tadi sudah makan belum? Sambil makan tidak apa-apa," ucap Mama Marsha.
"Tadi sudah makan kok, Ma ... Elkan pinjam sendok kue ya, Ma ... untuk Mira," ucapnya.
Di sana Mama Marsha mengulas senyuman di wajahnya. Elkan memang selalu seperti itu. Dari kecil hingga sekarang, justru Elkan terlihat tidak berbeda sama sekali. Selain itu, Mama Marsha teringat dengan kenangan semasa Mira dan Elkan masih sama-sama kecil. Dulu, ketika Mira kecil sakit, selalu saja Elkan datang dan membawa kue, buah , dan susu sterilisasi. Walau tahun sudah berganti tahun, tapi Elkan masih sama. Sekarang, pemuda itu kembali datang dengan membawa kue, apel, dan susu sterilisasi.
"Kamu tidak berubah, El ... selalu sama. Walau kamu dan Mira sudah dewasa sekarang. Akan tetapi, kamu tidak berubah. Selalu tahu apa yang Mira suka," ucap Mama Marsha.
"Makasih, Ma ... sekarang Elkan kembali ke kamarnya Mira ya, Ma," balasnya.
"Iya, El," balas Mama Marsha.
Elkan pun kembali masuk ke kamarnya Mira, dengan membawa sepiring kecil kue. Kemudian dia menggeser kuris belakang Mira dan membawanya ke dekat ranjang milik Mira. Selanjutnya, Elkan mengambil sedikit kue itu, dan hendak menyuapkannya kepada Mira.
"Aku suapin, Ra," ucap Elkan.
__ADS_1
"Kak, aku sendiri saja," balas Mira yang sebenarnya sungkan karena sebelumnya mana pernah dia disuapin Elkan.
"Gak apa-apa, Ra ... kan aku suami kamu," balasnya.
Seolah Elkan menegaskan bahwa dia adalah suaminya. Jika sekadar menyuapi saja, rasanya tidak masalah. Sementara Mira masih bingung dan sungkan. Walau mereka adalah teman kecil, tapi rasanya juga sungkan sekarang.
"Yuk, buka mulutnya," balas Elkan.
Akhirnya, mau tidak mau Mira membuka mulutnya dan menerima suapan kue dari Elkan itu. Walau sangat sungkan, tetapi memang dia mengikuti saja apa yang menjadi perintah Elkan sekarang.
"Nanti kalau kita sudah hidup bersama, tiap kamu sakit, aku akan merawat kamu, Ra," ucap Elkan dengan tiba-tiba.
"Makasih, Kak," balas Mira perlahan.
"Minum obat lagi jam berapa lagi?" tanya Elkan kemudian.
Sampai kue untuk Mira habis, Elkan kemudian keluar dari kamar, dan kembali menuju ke dapur dan memberihkan piring dan sendok kue itu. Sebenarnya Mama Marsha sudah melarang, tapi Elkan bersikeras mencucinya sendiri, karena dia terbiasa dengan pekerjaan rumah katanya. Selama di Singapura, Elkan juga suka membersihkan apartemennya sendiri.
Hingga malam, waktunya makan malam, mereka berkumpul di meja makan. Dengan Mira yang turut bergabung di meja makan itu. Akan tetapi, kali ini Elkan tidak mau dilayani oleh Mira. Sebagai gantinya dia justru yang mengisi piring milik Mira.
"Aku saja, Ra ... kamu baru sakit," ucap Elkan.
"Kak, tidak sopan. Tugasku untuk mengisi piring kamu dulu," balas Mira.
"Tidak apa-apa. Zaman sudah modern, Ra. Istri yang sakit sebaiknya sembuh dulu," balasnya.
__ADS_1
Di sana diam-diam Papa Abraham pun mendengarkan percakapan Elkan dan Mira. Namun, di dalam hatinya justru Papa Abraham seolah menemukan sosok dirinya sewaktu muda dulu pada diri Elkan. Pria yang mau berkorban untuk istri, tidak menuntut istri harus terus-menerus melayani suami. Melainkan, suami yang melayani istri pun tidak menjadi masalah.
"Tidak apa-apa, Ra ... dulu Papa juga Papa sudah kok melayani Mama kamu," balas Papa Abraham.
Mama Marsha pun tersenyum. "Bukan hanya dulu, sampai sekarang pun Papa sering melakukan hanya hal untuk Mama," jawabnya.
"Tentu dong, Ma ... selalu mengisi tangki air cinta kita berdua," balas Papa Abraham.
Sementara Marvel yang masih remaja memilih bersikap acuh saja. Tidak tertarik terlibat perbincangan mereka yang sudah menikah.
"Mama, Papa ... karena Mira sakit. Apakah Elkan boleh menginap?" tanyanya.
Rupanya Elkan sangat bernyali. Dia tipe pemuda yang berani mengutarakan apa yang dia mau. Toh, Elkan merasa memiliki tanggung jawab untuk bisa merawat Mira.
Mendengar apa yang Elkan sampaikan, Papa Abraham dan Mama Marsha pun saling pandang. Kemudian Mama Marsha tentu menyerahkan semuanya kepada suaminya, sang kepala keluarga yang membuat keputusan di rumah.
"Di sini tidak ada kamar tamu, El," balas Papa Abraham.
"Tidur di bawah ranjangnya Mira, tidak apa-apa, Pa. Pakai kasur lipat saja, atau di sofa. Elkan cuma mau menjaga Mira saja kok," balasnya.
"Satu kamar dengan Mira?" tanya Papa Abraham.
"Iya, Pa ... Elkan janji gak akan ngapa-ngapain kok. Masih tiga bulan lagi," jawab Elkan.
Mira sampai tidak melanjutkan makannya karena juga bingung dengan keberanian Elkan sekarang. Padahal Mira juga tidak tahu jika Elkan ingin menginap di rumahnya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan sentuh Mira dulu yah," balas Papa Abraham.
Merasa sang Papa mertua sudah memberikan lampu hijau, Elkan pun tersenyum. Dia pastikan akan selalu merawat Mira. Siapa tahu usia menginap semalam, nanti Elkan akan berusaha menginap di hari Sabtu dan Minggu. Namanya juga usaha, yang penting mau mencoba.