
Ketika sekarang sudah tahu berapa lama hukuman yang didapatkan Bagas, walau kasihan sebenarnya Elkan juga kasihan. Akan tetapi, menyadari keangkuhan Bagas, Elkan berpikir bahwa memang lebih baik Bagas berada di penjara terlebih dahulu. Semoga saja seiring dengan berjalannya waktu, Bagas akan menyadari salahnya.
Kembali ke rumah pun, Mira menyambut suaminya itu dengan senyuman. Tak hanya itu, Mira memberikan pelukan yang hangat untuk suaminya. Mira tahu bahwa banyak hal yang berat yang terjadi.
"I Love U," kata Mira. Bukan sekadar memeluk, tapi ada usapan yang Mira berikan di punggung suaminya itu.
Sementara Elkan membalas pelukan istrinya dengan begitu erat. Pelukan yang hangat dan selalu saja memberikan ketenangan untuk Elkan.
"I Love U too, Honey."
Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam. Lebih merasakan kehangatan dari pelukan keduanya. Selain banyak berbicara, pelukan juga cara yang baik untuk menyatakan perasaan, menunjukkan kepedulian. Pulang ke rumah dan mendapatkan pelukan seperti ini sangat melegakan.
Mengurai pelukannya, Mira tersenyum dan menatap suaminya itu.
"Duduk, Dad ... aku buatin minum dulu," kata Mira.
"Yang dingin aja, Honey," pinta Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. Dia kemudian membuatkan Es Cappuccino kesukaan suaminya. Mira kemudian menyajikannya.
__ADS_1
"Silakan, Daddy. Minum dulu, biar seger," balas Mira dengan sedikit bercanda.
"Thanks, Honey. Kamu selalu tahu apa yang ku mau."
Elkan meminum Es Cappuccino buatan istrinya itu terlebih dahulu. Rasanya enak, minuman yang dibuat oleh Mira menurut Elkan selalu saja rasanya enak.
"Bagaimana hasilnya, Kak?" tanya Mira sekarang.
"Hukumannya terbilang ringan. Walau begitu, aku kasihan dengan Bagas. Bagaimana masa muda ini berlalu begitu saja dan dia harus melewatkannya dari balik jeruji besi," kata Elkan.
Walau menilai tetap kasihan Bagas, semua ini adalah bukti sisi kemanusiaan Elkan yang tinggi. Ada rasa kasihan ketika seorang pemuda menghabiskan waktu di balik jeruji besi. Padahal masa muda adalah masa yang indah, waktunya mewujudkan mimpi dan menggapai cita-cita. Sementara Bagas harus menghabiskannya di hotel prodeo.
"Berapa lama hukumannya, Kak?" tanya Mira lagi.
Ada anggukan samar dari Mira. Untuk Mira sendiri, tujuh setengah tahun juga terbilang begitu lama. Namun, bagaimana lagi karena itu memang hasil perbuatan Bagas sendiri.
"Bukannya aku tidak kasihan, tapi memang itu jauh lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang sebelumnya mengatakan Bagas bisa dikenai lima tahun penjara," kata Mira.
"Ya, memang benar. Akan tetapi, berada di balik jeruji hampir sewindu terbilang lama, Honey. Kasihan juga sebenarnya," balas Elkan.
__ADS_1
Mira menautkan tangannya dan juga menggenggam tangan suaminya di sana. "Setidaknya mereka yang bersalah akan belajar dari salahnya. Semoga saja usai hukuman ini, nantinya Bagas menjadi pribadi yang lebih baik. Masalah ini boleh kita anggap selesai, semua kembali ke masa normal," kata Mira.
Ya, menurut Mira ini adalah masa kembali normal. Elkan dengan pekerjaannya, Coffee Bay tetap dengan bisnis dan franchisenya, juga keluarganya. Walau Mira juga memikirkan hubungan darah antara Bagas dengan keluarganya. Namun, setidaknya ada waktu tenang, masa normal selama tujuh setengah tahun.
"Yang kamu katakan benar. Aku bisa kembali bekerja, kamu dan anak-anak juga aman tidak akan ada ancaman lagi. Ada sisi baiknya," balas Elkan.
"Benar, Kak. Aku setuju. Semoga saja usai ini banyak kebahagiaan untuk kehidupan berumahtangga kita yah? Mengingat lebih dari sebulan banyak sekali masalah yang terjadi," balas Mira.
"Banyak berdoa, Honey. Semoga saja. Kita fokus lagi, menenangkan pikiran juga. Fokus untuk Aryan dan Aaliya juga. Kita perbaiki lagi satu per satu yah," balas Elkan.
Sekarang memang seakan kembali ke masa normal. Tatanan awal, karena Bagas berada di dalam penjara. Semoga saja seusai ini banyak kebahagiaan dalam kehidupan berumahtangga keduanya. Bisa mencecap kebahagian demi kebahagiaan dalam berumahtangga dan juga membesarkan Aryan dan Aaliya.
"Ingin piknik bersama?" tanya Elkan.
Mendengarkan ajakan suaminya, Mira justru tertawa. "Mau ke mana sih, Kak? Sekarang kita punya dua bocils. Sudah susah kalau mau pergi-pergi," balas Mira.
"Iya sih, agak susah pergi-pergi. Namun, suatu saat nanti kita wujudkan impian kita yah? Kita ajak Aryan dan Aaliya ke Sydney dan juga mengulang kisah indah kita di apartemen kita," kata Elkan.
"Nunggu Aryan dan Aaliya empat tahun yah, Kak. Kita ajak mereka melihat Sydney Opera House. Rasanya ingin membawanya ke Desa Pertanian yang pernah kita kunjungi bersama di Sydney, tapi perjalanan terlalu jauh. Kangen dengan kehidupan di Sydney dulu," kata Mira.
__ADS_1
"Oke, nunggu Twins A empat tahun. Nanti. Kita mengulang masa indah di Sydney."
Semoga saja nanti Elkan dan Mira bisa mewujudkan keinginannya itu membawa kedua buah hatinya untuk melihat kota Sydney. Sebuah kota yang menjadi tempat bersejarah untuk Mira dan Elkan. Di sanalah keduanya belajar berumahtangga, di sanalah cinta itu semakin tumbuh dan terus menguatkan keduanya.