Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Keluarga Narawangsa ke Semarang


__ADS_3

Selang dua pekan kemudian Mama Marsha mendapatkan kabar bahwa Neneknya Mira yang berada di Semarang tengah sakit. Ibu kandung Mama Marsha yaitu Mama Ria, atau Nenek Ria. 


Sebagai seorang anak, Mama Marsha pun ingin pergi ke Semarang. Namun, sebagai orang tua, Mama Marsha juga bingung dengan sekolah Mira dan Marvel. Terlebih putrinya Mira, sudah kelas 3 SMA. 


"Pa, Mama Ria sakit di Semarang. Kalau aku pulang ke Semarang gitu bagaimana ya Pa?" tanya Mama Marsha kepada Papa Abraham. 


Walau sebenarnya hubungan Mama Marsha dengan ibu kandungnya sendiri terbilang tidak akur. Justru Mama Marsha lebih dekat dengan ibu mertuanya yaitu Mama Diah. Namun, walau tidak akur, hati seorang anak tidak mungkin tega melihat Mamanya sendiri kesakitan. 


"Berapa lama di Semarang?" tanya Papa Abraham. 


"Seminggu sampai satu bulan, Pa. Kasihan Mama, anaknya cuma aku," balas Mama Marsha. 


"Ya sudah, aku temenin pulang ke Semarang kalau memang hanya seminggu. Marvel izin dulu saja, Ma," balas Papa Abraham. 


"Mira bagaimana Pa? Dia juga sekolah dan sudah kelas tiga," balas Mama Marsha. 


"Kita panggil Mira dulu saja, Ma. Mau tidak dia izin seminggu untuk pulang ke Semarang," balasnya. 


Akhirnya Mama Marsha dan Papa Abraham menaiki lantai dua menuju ke kamar Mira. Di sana keduanya, ingin membicarakan perihal rencana Mama Marsha untuk pulang ke Semarang. Setidaknya Mira sudah besar juga, sehingga bisa diajak sharing oleh Mama dan Papa nya. 


"Mira, Mama dan Papa ingin bicara," ucap Mama Marsha sembari memasuki kamar putrinya itu. 

__ADS_1


"Iya, Ma, Pa," jawabnya dengan membukakan pintu untuk Mama dan Papanya. 


"Mira, begini … sebelumnya ada kabar kurang bagus. Nenek Ria di Semarang sedang sakit. Sehingga, Mama dan Papa berniat untuk pulang ke Semarang. Mama mungkin akan berada di Semarang satu minggu. Papa juga dan Marvel. Namun, jika kondisi Nenek belum membaik, Mama akan berada di Semarang dulu. Apa kamu bisa mengambil izin seminggu tidak sekolah?" tanya Mama Marsha. 


Mira tampak mengamati wajah Mama dan Papanya. "Maaf Mama, Papa … tapi minggu depan ada latihan ujian, Ma. Jadi, Mira harus sekolah," balasnya. 


Memang begitulah ketika kelas tiga. Banyak latihan ujian menjelang Ujian Akhir Nasional. Mira pun juga tidak ingin ketinggalan pelajaran. 


"Jadi, bagaimana Mira?" tanya Mama Marsha. 


Jujur saja, dia juga bingung. Meninggalkan Mira seorang diri di Jakarta begitu sukar untuknya. Sebab, selama ini Mama Marsha juga tidak pernah meninggalkan Mira sendiri. 


Walau Mira sudah mengatakan bisa menjaga diri, tetap saja Mama Marsha merasa was-was dengan putrinya. Kemudian Mama Marsha pun berbicara kepada sang suami tercinta. "Bagaimana sebaiknya, Pa?" 


"Mira kita titip ke rumah mertuanya aja, Ma. Kan tetangga kita juga mertuanya Mira. Untuk satu minggu," balas Papa Abraham. 


Seketika Papa Abraham memiliki ide utnuk menitipkan Mira ke rumah mertuanya yaitu Keluarga Agastya. Mungkin karena sudah mengenal keluarga Agastya sejak lama, sehingga mereka sangat percaya bahwa Mama Sara dan Papa Abraham sangat bisa menjaga Mira. 


"Kamu di rumah keluarga Agastya dulu satu minggu ya Ra? Mama Sara dan Papa Belva kan juga orang tuamu. Pasti mereka mau untuk menjaga kamu," ucap Papa Abraham. 


"Pa, tapi Mira sungkan," balasnya. 

__ADS_1


"Tidak usah sungkan. Justru mereka akan menjaga kamu. Nanti Mama dan Papa antar ke sana yah," balas Papa Abraham. 


***


Keesokan Harinya ….


Sebelum menuju ke stasiun, Mama Marsha, Papa Abraham, dan kedua anaknya mendatangi kediaman keluarga Agastya. Kali ini karena mereka ingin menitipkan Mira untuk satu minggu selama mereka pergi ke Semarang. 


"Besan, apa kami bisa titip Mira untuk satu minggu ini? Itu semua karena Nenek Ria di Semarang sakit," ucap Papa Abraham kepada kedua besannya itu. 


"Tentu boleh. Justru kami senang karena dipercaya untuk mengasuh Mira. Aman, di sini kan juga rumahnya Mira," balas Papa Belva. 


Ketika diberi mandat untuk menjaga Mira selama satu minggu, justru Papa Belva merasa senang. Itu semua karena Mira bukan orang lain baginya, melainkan Mira adalah menantunya. 


"Tidur di sini aja, Mira. Kamu memakai kamarnya Eiffel boleh, mau memakai kamar tamu boleh. Yang pasti belum boleh sekamar sama Elkan yah, nunggu lulus," balas Mama Sara. 


"Kenapa Mira gak di rumah sendiri aja Ma?" tanya Mira. Sebenarnya Mira pun bukan tipe orang penakut. Di rumah sendiri pun tidak masalah untuk Mira. 


"Jangan Mira. Di sini setidaknya ada Mama Sara dan Papa Belva yang menjaga kamu," balas Papa Abraham dengan tegas. 


Akhirnya mau tidak mau pun, Mira menganggukkan kepalanya. Harus berada di rumah mertuanya untuk satu minggu. Di sana ada Elkan yang mengulum senyuman di bibirnya. Sementara, Mira tampak bingung. Berada di rumah keluarga Agastya justru akan membuat dirinya sering bertemu dengan Elkan juga. 

__ADS_1


__ADS_2