Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Alibi Seorang Andin


__ADS_3

Jujur saja Evan juga merasa tidak enak ketika Elkan menanyakan demikian. Sebagai seorang kakak, memang Evan merasa ada yang kurang. Dia biasanya begitu akrab dengan Mira dan Elkan, sementara sekarang justru harus menjaga jarak.


Kurang lebih satu bulan yang lalu, Andin meminta sesuatu kepada Evan. Lantaran cinta dengan istrinya, Evan pun mengangguki dan dia akan melakukan apa yang diminta istrinya.


"Walau aku sudah tahu bahwa Mas Evan sudah mengenal Mira sangat lama, tapi aku mau Mas Evan jaga jarak dengan Mira," kata Andin.


"Kenapa memangnya, Sayang? Aku tidak punya perasaan apa-apa sama Mira. Sejak dulu, aku sayang dengan Mira. Sayang seorang kakak kepada adiknya sendiri. Bahkan untukku Mira dan Eiffel itu adalah dua adik yang aku sayangi," kata Evan.


Bukan bermaksud mengajak bertengkar. Hanya saja memang Evan menjelaskan bahwa di hatinya Mira dan Eiffel itu sama. Dia sayang dengan Mira sama seperti rasa sayangnya kepada Eiffel. Bukan sayang berlebihan, tapi rasa sayang seorang kakak kepada adiknya.


"Tuh, Mas Evan aja mengakui sayang Mira," balas Andin dengan rasa kesal di dalam dada.


"Sayang antara kakak dan adik, Yang. Bukan aneh-aneh," jawab Evan.


"Aku gak mau. Ipar sama ipar ya biasa saja. Apalagi, kalian berbeda jenis kelamin. Bisa berbahaya," balas Andin.


Evan melirik istrinya itu. Bukan menghakimi, tapi latar belakang keluarga dan beberapa hal bisa memengaruhi pola pikir seseorang. Walau Mama dan Papanya juga sempat bercerita bahwa Mira adalah anak mereka lantaran sudah kenal sejak lama, tapi Andin merasa bahwa suaminya tetap harus menjaga jarak.


"Mas Evan gak tahu saja, banyak kasus ipar main serong," kata Andin.


"Astagfirullah, Sayang. Kenapa berbicara yang aneh-aneh. Toh, yang bakalan main serong juga siapa? Kalau aku mau, bisa tuh dulu aku minta ke Mama dan Papa kalau yang dijodohkan dengan Mira sejak kecil aku saja, dan bukan Elkan," jelas Evan.


Evan dengan ingatannya yang setia bisa tahu dan mengingat bahwa Elkan dan Mira sudah dijodohkan sejak kecil. Bukan dengan serta-merta, tapi memang Elkan sejak kecil seolah sudah menunjukkan ketertarikan dan sayang dengan Mira. Hal itu yang membuat Mama dan Papanya akhirnya menjodohkan saja Elkan dan Mira.


"Kenapa kamu gak mau?" tanya Andin.


"Dari kecil yang sayang Mira itu Elkan. Sayangku kepada Mira hanya sayang seorang kakak ke adiknya," jelas Evan lagi.

__ADS_1


Kembali Evan memberikan penjelasan. Sekali lagi Elkan menjelaskan bahwa perasaannya kepada Mira hanya sayang seorang Kakak kepada Adiknya saja. Bahkan, Evan juga mengatakan bisa saja kalau dia mau, dia yang memilih untuk dijodohkan saja dengan Mira sewaktu masih kecil dulu. Namun, Evan tak melakukan itu. Sejak dulu di mata Evan, Mira hanya adik kecil baginya. Berbeda dengan Elkan yang memang sayang dengan Mira dan seolah memang tertarik dengan Mira.


Evan menyadari sukarnya untuk memberikan pengertian kepada Andin. Dia berusaha menjelaskan semuanya, tapi nyatanya Andin masih meminta Evan untuk lebih baik berjaga jarak dengan Mira.


"Padahal Mama dan Papa itu pengennya kamu dan Mira bisa saling akrab satu sama lain loh. Layaknya adik dan kakak," kata Evan lagi.


"Kayaknya itu susah deh, Mas ... kamu tahu sendiri kalau hubunganku saja dengan kakakku tidak baik, Arine. Bagaimana bisa aku bisa akrab dengan Mira? Yang jelas-jelas baru saja ku kenal," balas Andin.


Andin juga tak segan mengungkapkan bagaimana hubungannya dengan kakaknya sendiri yang memang tidak rukun. Di mata Andin, Arine hanya seorang kakak yang terus mengambil apa yang Andin miliki. Mungkin kekhawatiran itu jugalah yang dirasakan Andin sekarang. Bisa saja, Mira mengambil apa yang dia miliki. Andin hanya memasang sikap antisipasi.


"Jangan sama Arine dengan Mira, Sayang ... keduanya jelas-jelas berbeda. Aku memang begitu mengenal Arine, tapi aku sangat mengenal Mira. Mira tidak mungkin seperti Arine," balas Evan.


"Kamu selalu membela Mira sih Mas?" tanya Andin.


"Bukan membela, aku hanya menyampaikan fakta. Aku sudah mengenal Mira seumur hidupnya. Dari Mira bayi, sampai dia menjadi adik iparku. Jika ada sosok yang baik itu adalah Mira. Karakternya sangat baik, dan ramah. Tidak akan mungkin Mira bersikap seperti Arine," balas Evan.


Evan hanya bisa menghela napas panjang. Sekali lagi pembicaraan panjang lebar yang tidak menghasilkan apa pun. Yang ada justru Andin meminta dia untuk menjaga jarak dengan Mira. Usai itu, Andin memilih untuk pergi. Sementara Evan masih duduk di kursi dan mengusap wajahnya beberapa kali.


Jika berada di posisi Evan, tentu permintaan Andin ini tidak mudah. Ketika sudah akrab dan sayang dengan seseorang, lalu harus menjaga jarak. Padahal sayang itu murni perasaan kakak kepada adiknya. Bukan sayang yang macam-macam. Beban Evan juga semakin bertambah ketika Andin mengatakan agaknya susah untuk akrab dengan Mira.


***


Sekarang ....


Ketika keluarga sedang berkumpul, tampak Evan menyendiri di taman yang ada di dekat kolam renangnya. Elkan yang melihat kakaknya pun segera mendatang Evan. Seperti biasa, Elkan adalah orang yang hangat dan reaktif. Elkan melihat ada sesuatu yang berbeda, karena itu kesempatan ini dia jadikan momen untuk berbicara serius dengan Kakaknya.


"Kak ... kok di sini sendirian?" tanya Elkan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, El ... baru banyak kerjaan. Aku pusing," jawab Evan.


Elkan tersenyum melihat kakaknya itu. Sebab, tidak pernah biasa Evan mengaku pusing. Sebab, kakaknya itu adalah seorang yang paling bisa diandalkan untuk menangani masalah pekerjaan. Papa Belva saja sangat percaya kepada kakaknya.


"Tumben Evan Agastya mengaku pusing," balas Elkan dengan tertawa.


"Biasa, manusiawi, El ... kenapa?" tanya Evan sekarang.


"Enggak ... aku nyamperin Kakak saja kok. Kak, jika ada sesuatu yang memberatkan Kakak, jangan segan untuk cerita yah. Kita adalah saudara, Kak. Selama bertahun-tahun kita bisa saling sharing. Ku harap, kali ini pun sama," kata Elkan.


"Pasti, El ... gimana kamu siap menjadi calon Papa?" tanya Evan.


"Sangat siap ... aku memang ingin memiliki anak ketika aku masih muda, Kak. Biar nanti kalau anak-anakku besar, aku tidak begitu tua. Aku masih kuat menggendong cucu-cucuku nanti," jawab Elkan.


Evan tertawa dan menepuki bahu adiknya itu. "Kamu itu kadang ngaco, El ..., tapi ada benarnya. Dijaga baik-baik yah Mira dan twins," balas Evan.


"Kalau menjadi Mira dan baby kami sih pasti, Kak. Kak Evan yakin enggak kenapa-napa kan? Menurutku ada sesuatu yang meberatkan Kakak," balas Elkan.


"Tidak, aku tidak apa-apa kok," balas Evan lagi.


Usai itu Elkan menganggukkan kepalanya. Lantas dia berbicara lagi kepada kakaknya. "Istri-istri kita perlu didekatkan supaya lebih akrab tuh, Kak. Kakak punya ide enggak biar Mira dan Kak Andin bisa dekat dan akrab?"


"Aku tidak tahu, El ... Andin juga sibuk dengan skripsinya. Kita cari waktu kalau skripsinya Andin sudah selesai yah," balas Evan.


"Baiklah, Kak," balas Elkan.


Setidaknya Elkan sudah mengatakan semuanya. Dia siap untuk menjadi rekan sharing bagi kakaknya. Sungguh, dengan Evan yang terlihat berpikiran berat seperti ini membuat Elkan ingin terus ada di sisi kakaknya. Elkan ingin memberikan telinganya dan mendengarkan setiap cerita kakaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2