Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Yang Penting Istri Sehat


__ADS_3

Elkan benar-benar rela jika dirinya yang mengalami kehamilan simpatik. Sebab, mungkin ini adalah caranya untuk menanggung beban dengan Mira. Sedikit banyak Elkan tahu bahwa kehamilan itu mempengaruhi sistem hormonal, emosi, mengubah bentuk badan yang ideal dan sebagainya. Jika, Elkan hanya merasa mual dan muntah, dia rela menjalaninya.


"Kak, tapi kalau besok belum membaik, kita ke Dokter yah?" ajak Mira kali ini.


"Kamu khawatir sama aku ya, Honey?" tanya Elkan.


"Iya, khawatir banget. Dulu waktu di Sydney saja, waktu masuk angin gak separah ini. Hanya meriang aja. Jadi, ini bisa lebih parah. Mending periksa," kata Mira.


Elkan menganggukkan kepalanya. Dia juga ingat waktu abis bercinta tengah malam dan mandi menjelang dini hari, mereka berdua sampai masuk angin. Benar yang Mira sampaikan bahwa kala itu saja Elkan hanya sekadar meriang. Membandingkan dengan pengalaman masa lalu, pastilah sakitnya Elkan sekarang lebih serius.


"Iya, lusa aja periksanya. Cuma rasanya aku baik-baik saja kok," balas Elkan.


Mira sedikit beringsut dan berbicara kepada suaminya itu. "Kak, aku turun ke dapur dulu yah. Aku buatkan bubur. Kamu kemarin juga melewatkan makan malam. Jangan-jangan perut kamu kosong juga. Kakak istirahat dulu yah," kata Mira.


"Aku ditinggalin nih?" tanya Elkan dengan suara yang terdengar manja.


"Kan masih di dalam rumah. Cuma buatin sarapan. Biar Kakak bisa minum obat," balas Mira.


"Yah, padahal aku maunya nempelin kamu. Kangen, Honey," balas Elkan.


"Padahal semalam aku peluk terus loh, Kak," balas Mira.


Mira juga menyampaikan fakta bahwa dia selalu memeluk suaminya itu. Tidak pernah meninggalkan suaminya. Bahkan semalam, Mira makan juga dibawa ke kamar sembari menunggu suaminya saja.


"Ya sudah, jangan lama-lama yah," pinta Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mulai turun ke dapur. Mira memilih membuat bubur ayam untuk Elkan. Wanita dengan cekatan membuat buburnya terlebih dahulu supaya lebih cepat matang, kemudian membuat ayam suwir saja. Sebab, Elkan tidak terlalu suka bubur dengan kuah kuning. Hanya suka ayam yang suwir saja dan diatasnya nanti diberikan kecap manis sedikit.


Sembari membuat bubur dan menggoreng ayam, Mira menyeduh Teh dengan jahe supaya lebih hangat untuk suaminya. Sembari Mira berpikir lagi apa sebenarnya yang dialami suaminya. Kenapa bisa sakit mendadak seperti ini?


Baru 20 menit Mira berada di dapur. Rupanya Elkan sudah ikut turun dan menyusul istrinya itu. Mira juga bingung kenapa suaminya yang sakit justru menyusulnya ke dapur.


"Kak, kan istirahat saja dulu. Aku takut kalau Kakak kenapa-napa," kata Mira.

__ADS_1


"Kangen, Honey. Kangenku melebihi apa pun deh. Ikut kamu aja," balas Elkan.


Seolah tak biasa dan begitu posesif, Elkan selalu mendekap istrinya itu. Bergelayut manja sembari mendekap istrinya. Tentu manjanya Elkan ini sangat tak biasa, tapi Mira juga tak mau protes. Ya, walau pergerakannya menjadi terganggu.


"Cium bau masakan mual enggak?" tanya Mira lagi.


Elkan menggeleng, dengan dagunya yang mengenai puncak bahu Mira. "Enggak. Ada pawangnya kok," balas Elkan.


"Siapa pawangnya?" tanya Mira.


"Kamu. Kayaknya kalau ada kamu, aku gak mual deh, Honey," balas Elkan.


Mira tersenyum, bagaimana mungkin bahwa hanya karena ada dirinya, Elkan menjadi tidak mual. Bahkan menghirup aroma masakan juga tidak membuat mual.


"Sebentar ya, Kak. Ini sudah mau matang kok. Aku sajikan buat kamu yah," kata Mira.


"Dikit saja, Honey."


Lantaran suaminya sudah meminta porsi sedikit, maka Mira juga mengambilkan porsi yang sedikit saja. Mira meminta suaminya untuk duduk terlebih dahulu, kemudian dia mengambilkan bubur ayam dan air putih hangat.


"Bisa makan sendiri kok, Honey."


Akan tetapi, Mira menolak. Dia memilih untuk menyuapi suaminya itu. Bahkan Mira dengan telaten meniup Bubur Ayam dan kemudian menyuapi Elkan.


"Hakkk, Kak," kata Mira.


Elkan justru tersenyum dirawat sampai sedemikian rupa oleh istrinya. Padahal Elkan sudah merasa baik-baik saja. Tidak ada rasa enak badan. Rasa mual juga sudah tidak ada.


"Aku sudah baik-baik saja, Honey."


"Biar aku suapin Kak. Sama seperti kamu yang selalu merawatku waktu sakit. Aku juga akan merawatmu saat sakit. Janji kita berdua, akan saling merawat satu sama lain," balas Mira.


Elkan menganggukkan kepalanya. Hatinya menjadi hangat mendengar ucapan istrinya itu. Istrinya ini benar-benar layaknya permata. Sebab, begitu mengerti dirinya dan mau merawatnya. Benar-benar menjadi partner seimbang.

__ADS_1


"Mommy Mira keren banget loh, Daddy jadi terharu," balas Elkan.


"Daddy aja selalu baik kok. Sehat-sehat yah, Daddy. Baby Twins sayang Daddy dan pengennya Daddy selalu sehat," kata Mira.


Elkan tersenyum, lantas dia membawa tangannya mengusap perlahan perut istrinya. "Kalau Daddy yang sakit sih, gak apa-apa. Yang penting Mommy sehat, Twins juga sehat-sehat. Asalkan kalian berdua sehat, Daddy sudah bahagia."


Itu adalah pengakuan jujur dari Elkan. Dia benar-benar tidak masalah jika kurang sehat karena kehamilan simpatik. Yang penting istri dan baby Twins selalu sehat.


"Kalau Daddy juga sehat, kami bertiga juga bahagia, Daddy," balas Mira.


"Sudah sehat. Ini buktinya semangkok bubur ayam sudah nyaris habis kok. Yah, mungkin beneran aku yang terkena couvade syndrome, Honey. Gak apa-apa kok," balas Elkan.


Mira memilih tenang dan menuntaskan untuk menyuapi suaminya terlebih dahulu. Bagaimana pun, biarkan suaminya makan dulu, perutnya juga terisi terlebih dahulu. Setelah itu, Mira memberikan air putih hangat, kemudian dia menawarkan obat kepada suaminya.


"Mau minum obat pereda mual enggak, Kak?" tanya Mira.


"Ya, mana. Bantu minumin yah," pinta Elkan.


Mira pun mengambil obat pereda mual dan membantu suaminya itu untuk minum obat. Bahkan Mira sendiri yang menyuapkan obat itu ke mulut suaminya, lalu memberikan air putih.


"Habis ini istirahat dulu, Kak," pinta Mira.


"Ya sudah, ngamar yuk, Honey," ajak Elkan.


Maka Mira menggandeng tangab suaminya itu dan mengajak Elkan masuk kembali ke kamar. Mira juga menata bantal lebih banyak di punggung Elkan, supaya suaminya tidak begitu mual.


"Kayaknya ada obat lagi yang aku butuhkan deh, Honey," kata Elkan sekarang.


Mira mengernyitkan keningnya. Dia sudah menyuapi Elkan dan memberikan obat pereda mual. Lantas obat apa lagi yang sebenarnya dibutuhkan suaminya itu?


"Hm, obat apa, Kak?" tanya Mira.


"Kamu. Serius, jadi pusing," kata Elkan.

__ADS_1


Seketika Mira terdiam, tak mampu menjawab apa pun. Apakah benar dengan obat yang barusan ampuh? Mira merasa bingung, beberapa saat yang lalu suaminya itu mual dan muntah dengan begitu hebat dan sekarang justru menginginkan yang lain. Rasanya tak percaya, tapi itulah yang diminta Elkan sekarang.


__ADS_2