Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Menjelang UAN


__ADS_3

Sungguh tidak terasa bahwa Mira dan Elkan hanya tinggal satu bulan menuju Ujian Akhir Nasional. Tentu, untuk belajar Mira dan Elkan sama-sama harus semakin giat belajar. Namun, sebelum menuju UAN, ada ujian praktik yang harus diikuti semua siswa kelas 12.


Seperti hari ini, Sekolah sudah mengumumkan waktu untuk memulai Ujian Praktik. Lantaran sudah lama sekolah di luar negeri, Elkan juga bertanya kepada Mira proses untuk ujian praktik akan seperti apa. Selain itu, apakah akan ada jam pulang sekolah lebih pagi.


"Mira, ujian praktik itu seperti apa sih?" tanya Elkan.


"Kita akan diuji untuk mata pelajaran yang membutuhkan praktik misalnya olahraga, kimia dengan praktik di laboratorium, dan mata pelajaran yang disebutkan dalam jadwal itu, Kak," jelas Mira.


Elkan menganggukkan kepalanya. Mencoba memahami bagaimana proses ujian praktik itu nanti. Sebab, dulu ketika berada di Singapura hanya ada ujian akhir saja. Tidak ada ujian praktik. Sekaligus, Elkan menjadi tahu bahwa ujian di SMA Indonesia cukup rumit.


"Terus ini waktunya hanya sampai jam segini berarti nanti pulang jam segini, Ra?" tanya Elkan lagi.


Sekarang Mira menganggukkan kepalanya. "Benar Kak ... pulang pagi," balas Mira.


Sekarang terlihat Mira yang menyentuh perlahan jadwal ujian praktik itu. "Enggak terasa masa di Putih Abu-Abu akan berlalu. Satu bulan lagi juga akan dilaksanakan UAN. Semakin singkat."


Orang berkata bahwa masa-masa di Putih Abu-Abu adalah masa paling indah. Bisa mengejar cita dan cinta. Ada transisi meninggalkan masa remaja dan memasuki masa pemuda. Namun, untuk Mira ada sedikit kesedihan tersimpan di dalam hati. Dengan akan segera berakhirnya masa Putih Abu-Abunya, akan semakin sedikit waktu yang bisa sia habiskan bersama kedua orang tuanya dan adiknya.


Sebab, begitu SMA berakhir, Mira akan bersiap terbang ke Australia dan menempuh pendidikan di Negeri Kangguru itu. Ada kebahagiaan dan ada kesedihan. Rasanya Mira harus siap dengan semuanya.


"Kok kamu kelihatan sedih?" tanya Elkan.

__ADS_1


"Kan kalau SMA selesai, aku akan ke Australia dan berpisah dari Mama dan Papa. Seumur hidupku mana pernah aku berpisah jauh dari Mama dan Papa. Kalau pun berpisah hanya satu minggu ketika seluruh keluarga berada di Semarang. Namun, saat harus ke luar negeri, pasti beda cerita, Kak."


Mira pun menyadari jarak Jakarta ke Sydney bermil-mil jauhnya. Berbeda benua dan melintasi samudra. Sementara Semarang ke Jakarta bisa ditempuh dalam waktu lima jam saja dengan menaiki kereta api. Elkan tahu, untuk Mira yang sebelumnya tidak pernah pergi jauh dan berpisah jauh dengan orang tuanya pasti berat.


"Tenang saja, Ra. Di Sydney kamu tidak sendiri kok. Ada aku," balas Elkan.


Mendengar apa yang Elkan sampaikan Mira tersenyum. Bagaimana pun juga sudah menjadi keputusannya untuk mengambil kuliah di luar negeri. Semoga saja tidak ada kendal dan nanti Mira bisa lulus tepat waktu.


"Udah jangan sedih. Kita selesaikan masa SMA kita satu per satu yah," ucap Elkan.


"Hmm, iya Kak," jawab Mira.


Kini Mira sudah bisa tersenyum. Alih-alih memikirkan masa depan yang nanti bisa membuat Mira menjadi sedih. Lebih baik untuk menjalaninya dengan sepenuh hati. Menikmati momen yang ada.


"Bisa-bisanya senyam-senyum di dalam kelas. Loe pikir ruangan kelas ini milik bokap loe?"


Sonya berbicara dengan begitu nyolot. Hingga beberapa siswa di sana menatap ke arah mereka berempat. Sementara Mira dan Elkan sama-sama memilih abai. Meladeni Sonya justru hanya akan membuang energinya saja.


"Heh, loe gak malu apa, ngrebut ceweknya dia?" Lagi Sonya berbicara, dan kini kedua matanya membelalak. Seolah-olah dia mengajak bertengkar Mira dan Elkan.


"Udah, Sonya. Gak usah berkata yang aneh-aneh. Loe gak usah sewot akan hidup gue," balas Mira.

__ADS_1


Sekarang, Sonya benar-benar kesal. Niatannya untuk menekan Mira ternyata sama sekali tidak berhasil. Yang ada justru Mira menunjukkan perlawanan.


"Sekolah dan guru BK akan mengawasi kalian berdua. Sebaiknya gak usah cari perkara deh sama gue, atau ntar gue sebar luaskan rekaman suara kalian ke YouTube. Biar orang tahu, gimana perilaku siswa SMA itu," balas Mira.


Sekarang ucapan Mira terdengar seperti gertakan. Akan tetapi, itu adalah bentuk kenapa dia tidak perlu merasak takut dengan Sonya dan Bagas. Mira merasa dirinya benar. Oleh karena itu, Mira tidak akan takut sama sekali.


"Gak usah nyolot," balas Elkan yang kini sudah berdiri.


Melihat Elkan yang sudah berdiri saja, Sonya menjadi gentar. Kemudian dia beralih pergi dengan Bagas. Sementara, Elkan memilih untuk kembali duduk.


"Memang lebih baik segera lulus dari SMA deh, Ra. Biar kita bisa tenang. Toxic banget tuh, orang," balas Elkan.


Mira kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, gak bosen-bosennya berkata dusta. Gedek, aku jadinya."


Elkan kemudian tersenyum tipis. "Sudah tenang aja. Intinya aku akan selalu jagain kamu. Nanti malam main ke rumahku, Ra. Aku ajak melakukan sesuatu yang seru."


"Malam?" tanya Mira.


"Iya, malam nanti."


"Jemput dan pamitkan sama Papa dan Mama. Berani enggak?" tanya Mira kemudian.

__ADS_1


Dengan cepat Elkan menganggukkan kepalanya. "Oke, siapa takut."


Mira kembali tersenyum. Sebenarnya apa yang akan dilakukan Elkan hingga mengajaknya ke rumahnya malam nanti? Selain itu, benarkah Elkan akan berani menjemput dan berpamitan dengan Mama dan Papanya secara langsung?


__ADS_2