
Usai menikmati sepiring mie goreng instan, sekarang keduanya duduk bersama di sofa. Elkan dengan santainya berbaring dan menggunakan istrinya sebagai sandaran. Semestara tangan Mira sendiri mengusap rambut suaminya. Quality time bersama. Melakukan bounding untuk mendekatkan satu sama lain, dan menciptakan keharmonisan suami dan istri.
"Kamu pulang ke Jakarta hanya membawa satu koper kabin. Kenapa waktu pulang membawa dua koper, Kak?" tanya Mira.
Ya, itu karena Mira mengamati bahwa ada dua koper di unit. Padahal sebelumnya, suaminya itu pulang ke Jakarta hanya membawa satu ransel dan satu koper berukuran kabin.
"Yang satu koper berukuran besar itu isinya oleh-oleh buat kamu, Honey. Dari kedua orang tua kita. Ada suvenir pernikahan dari Kak Evan juga," balas Elkan.
Usai itu, Elkan beringsut. Dia membuka satu koper dan mengambil gift box berwarna hitam dengan tulisan yang dicetak emas itu. Tertera nama Evan dan Andin di sana. Lalu, Elkan memberikan gift box itu kepada Mira.
"Souvenir pernikahan Kak Evan," katanya.
Mendapat gift box itu saja Mira sangat senang. Dia membuka pita yang terikat di sana dan membuka kotaknya perlahan. Ternyata isinya botol tumbler, sapu tangan, dan botol parfum. Terhitung mewah untuk gift box putra seorang CEO.
"Bagus yah, kayak punya artis-artis," balas Mira.
"Kak Evan kan artis juga, Honey. Artisnya Agastya Properti. Katanya sih, Kakak itu maskotnya Agastya Properti. Tampan, pinter, putra CEO. Kurang apa lagi coba?" balas Elkan.
__ADS_1
Mira tersenyum dan beberapa kali menganggukkan kepalanya. Setuju juga dengan perkataan suaminya kalau Kakak iparnya adalah maskot Agastya Properti. Bahkan sekilas, Kak Evan begitu mirip dengan Papa Belva. Sementara suaminya, lebih mirip dengan Mama Sara.
"Kalau kamu maskot di hatiku, Kak," balas Mira.
Mendengar ucapan Mira, Elkan tersenyum. Pria itu kemudian kembali berbaring dan menggunakan paha istrinya sebagai alas tempat tidur. Namun, tentu saja Elkan senang mendengar jawaban istrinya itu.
"Kamu ini bisa saja. Honey, aku bawa sesuatu dari rumah kita di Jakarta," kata Elkan sekarang.
"Hm, kamu bawa apa Kak?" tanya Mira.
Rupanya Elkan memang membawa seragam SMA miliknya dan milik Mira kala pulang ke Jakarta. Sebelumnya Elkan ingin merasakan romansa pengantin SMA dengan seragam SMA. Sekarang, Elkan mengatakan niat hatinya itu kepada Mira.
"Pakai seragam SMA Indonesia, di Sydney? Kakak serius?" tanya Mira.
"Iya, pengen, Honey. Mau yah. Kapan kita ngedate saat SMA dulu? Yang ada aku nganterin kamu waktu ketemu Jerome dulu," balas Elkan.
Mendengar yang dikatakan oleh suaminya. Mira terkekeh. Tangannya mengacak-acak rambut suaminya itu.
__ADS_1
"Gak ngedate lah, kan aku juga duduk sama kamu. Kemana-mana sama kamu. Pergi dan pulang juga sama kamu," balas Mira.
"Haruslah, aku kan penjagamu," balas Elkan.
"Iya-iya, satu-satunya yang dipercayai Papaku," balas Mira.
Sekarang Elkan sedikit beringsut. Pria itu sekarang duduk, dan menatap Mira. "Mau yah ... besok kita ngedate kayak anak SMA. Aku mau mewujudkan fantasiku," balas Elkan.
"Kemana aja emangnya?" tanya Mira.
"Nonton, jalan-jalan saja. Memakai seragam SMA. Ya, normal seperti kita biasanya, hanya pakai seragam SMA aja kok," jawabnya.
"Oke deh, demi suamiku apa sih yang enggak," balas Mira.
"Yes. Akhirnya keinginanku terwujud. Thanks Honey."
Tentu Elkan menjadi sangat senang karena itulah keinginannya. Bahkan demi mewujudkan impiannya itu, Elkan sampai mengambil seragam SMA mereka. Sekadar menikmati dating ala anak SMA dan merasakan romansanya.
__ADS_1