Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Di Belakang Gedung Sekolah


__ADS_3

Berangkat ke sekolah bersama dari rumah menjadi hal yang menyenangkan untuk Elkan. Mira juga turut berpamitan kepada Mama Sara dan Papa Belva yang mengantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah. Rasanya kedua orang tua merasa lucu karena anaknya yang masih berseragam SMA, pada kenyataannya sudah menikah.


"Mama, Papa ... Mira berangkat ke sekolah dulu yah," pamitnya dengan mencium tangan Mama dan Papa mertuanya itu.


"Iya, sekolah yang pinter ya Sayang ... yang rajin. Lulus sama-sama, ke Australia bersama-sama nanti," ucap Mama Sara.


Mira hanya tersenyum dan mengingat bahwa usai lulus SMA, dirinya akan melanjutkan pendidikan ke Australia. Hampir saja, Mira lupa. Akan tetapi, sekarang dia diingatkan lagi dengan mimpinya kuliah di negeri Kangguru itu.


Setelahnya keduanya memasuki mobil dengan warna hitam keluaran Eropa dengan merek Audi milik Elkan. "Masuk, Ra," ucap Elkan dengan membukakan pintu untuk Mira.


Gadis itu pun menganggukkan kepalanya, dan memasuki mobil itu. Sementara Elkan berjalan mengitari mobil dan barulah dia duduk di balik stir kemudi. Tampak Elkan melirik ke Mira.


"Lulus SMA ke Australia sekalian Honeymoon ya, Ra," ucapnya dengan tiba-tiba.


Ya Tuhan, mendengar kata Honeymoon rasanya begitu aneh untuk Mira. Gadis itu menundukkan wajahnya dan juga tidak merespons apa pun ucapan Elkan. Bagi Mira, kata Honeymoon itu masih berada jauh di awang-awang. Tidak menyangka, di sana, Elkan justru menepinya mobilnya sejenak di bahu jalan, kemudian Elkan mengeluarkan kartu berwarna hitam dari dompetnya. Kemudian menyerahkannya kepada sebuah kartu berwarna hitam.


"Ini, Ra ... buat kamu," ucap Elkan.


"Buat apa Kak?" tanya Mira dengan bingung karena saat itu, Elkan menyodorkan sebuah Debet Card untuk Mira.

__ADS_1


"Kan aku suamimu, Ra ... seorang suami kan memberikan nafkah untuk istrinya," balas Mira.


"Kak, tapi kamu kan belum bekerja," balas Mira. Menurutnya, suaminya itu belum bekerja sehingga juga tidak perlu memberikannya nafkah. Toh, Mira sendiri juga belum menjalankan peranannya sebagai seorang istri.


"Siapa bilang? Aku sudah bekerja kok, Ra. Sistem di Coffee Bay aku yang kerjakan dengan berbasis internet. Mama juga berikan aku gaji dari itu," jelas Elkan.


Coffee Bay sendiri memiliki cabang ratusan di Indonesia, sehingga memang perlu sistem untuk mengorganisasi semuanya. Elkan rupanya yang membuat program untuk bisa memonitoring semuanya. Rupanya Elkan sendiri sudah tertarik dengan dunia bisnis, terutama Food and Baverage yaitu Coffee Bay.


"Tidak usah Kak," balas Mira.


Akan tetapi, Elkan memberikan kartu itu untuk Mira di genggaman tangan gadis itu. "Terima saja. Walau kita belum hidup bersama, tetapi aku suamimu, Ra. Biar aku menjalankan peranku sebagai suami," tegas Elkan.


Akhirnya mau tidak mau, Mira pun menerima debet card itu dari Elkan. Mira menyimpan debet card itu ke dalam dompetnya yang ada di dalam tas. Walau sebenarnya dia tidak mengharapkan nafkah lahir dari Elkan, karena kehidupan rumah tangga benar-benar belum terjalin.


"Iya, sama-sama," balas Elkan.


Pemuda itu segera melajukan mobilnya kembali. Kurang lebih setengah jam, dan mereka sudah tiba di sekolahnya. Mengikuti mata pelajaran seperti biasanya. Hingga akhir pelajaran pun tiba. Akan tetapi, Mira tidak bisa buru-buru pulang karena hari ini adalah harinya piket.


Ketika hari piket biasanya siswa yang piket hari itu harus membersihkan kelas dan juga membuang sampah ke tempat sampah yang ada di belakang gedung sekolah. Mira pun sudah berpamitan kepada Elkan bahwa dia akan membuang sampah di belakang gedung sekolah.

__ADS_1


"Aku buang sampah ke belakang gedung sekolah dulu, Kak," ucapnya.


"Mau dianterin enggak?" tanya Elkan.


Akan tetapi, Mira menggelengkan kepalanya. "Gak usah, nanti dicurigain yang aneh-aneh," balas Mira.


Elkan menganggukkan kepalanya, dia lebih memilih untuk menunggu Mira. Pemuda itu memandangi Mira yang berjalan dengan tangannya yang membawa kantong plastik berwarna hitam yang di dalamnya ada sampah.


Mira pun seakan tidak memiliki firasat apa pun, dia berjalan dan terus berjalan, hingga akhirnya dia sampai di tempat pembuangan sampah itu. Akan tetapi, rupanya ada Sonya dan Bagas di sana. Tampak Sonya menatap tajam kepada Mira.


"Hei, Ra ... yang ngerasa sok pinter dan sok alim ke SMA kita ini," ucap Sonya dengan menatap tajam Mira.


Mira pun menghela nafas panjang. Pikiran seketika merasa tidak enak. Sudah pasti Sonya memiliki maksud tidak baik kepadanya.


"Ada apa, Sonya?" tanyanya.


"Gak usah bertanya-tanya!"


Sonya membentak dan membuat Mira sampai memegangi dadanya. Begitu kaget dengan suara Sonya yang melengking naik.

__ADS_1


"Bagas, loe suka kan sama Mira? Gimana kalau kita beri pelajaran aja sama dia. Biar dia gak jual mahal lagi. Mumpung dia hanya sendirian. Gak akan ada yang nolongin dia. Apa jadinya jika siswa terbaik SMA ini ternyata melakukan tindak asusila di sekolah. Siap kan loe, Gas?" Sonya berbicara dan seakan memberikan pesan terselubung kepada Bagas yang berdiri di sana.


Ya Tuhan, di dalam hatinya Mira sangat berharap bahwa Elkan akan datang dan menolongnya. Harusnya tadi dia mengiyakan ketika Elkan hendak mengantarkan ke belakang gedung sekolah. Akan tetapi, sekarang justru terjebak dengan situasi di luar nalar yang sudah direncanakan oleh Sonya dan juga Bagas.


__ADS_2