
Bergelung dalam satu selimut, lantas Elkan membawa Mira dalam pelukannya. Elkan tahu, pasti sakit untuk Mira. Akan tetapi, Elkan berharap bahwa sakit itu hanya sesaat saja. Ketika Mira sudah nyaman dengan dengannya dan terbiasa, pasti rasa sakit itu akan lenyap dengan sendirinya.
"Sakit yah?" tanya Elkan lagi.
Jujur saja, Elkan sedih dan merasa bersalah jika harus menyakiti Mira. Akan tetapi, cara satu-satunya untuk mereguk madu pertama pernikahan memang harus diawali dengan rasa sakit terlebih dahulu. Mira bak terkulai lemas sekarang. Dia sudah melepas kegadisannya, menyerahkan diri sepenuhnya untuk Elkan, suaminya. Masih ada rasa malu, karena itu Mira benar-benar menyelimuti dirinya.
"Perih banget, Kak. Ngilu rasanya," balas Mira.
Mendengar apa yang Mira ucapkan, membuat Elkan merasa bersalah. Namun, bagaimana lagi kalau memang itu adalah satu-satunya cara penyatuan antara suami dan istri. Lantas, Elkan beringsut, dia kembali mendekap Mira. Pemuda yang kini telah sepenuhnya menjadi pria itu menundukkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di kening Mira. Ya, dia mengecup kening Mira untuk beberapa saat lamanya.
"Maaf yah ... nanti kalau sudah terbiasa sih akan biasa dan enggak sakit kok," balas Elkan.
Mira yang semula memejamkan mata, kini membuka matanya, menatap Elkan yang berada di hadapannya. "Kak, tadi kamu kok bisa begitu? Belajar dari mana?" tanya Mira.
"Amatiran aja sih. Aku cuma mempelajari mata pelajaran biologi itu. Lebih mengenali struktur tubuh kamu, biar benar masuknya," jawab Elkan.
Mira mencoba menerima jawaban Elkan itu, hingga akhirnya dia bertanya lagi kepada Elkan. "Kok bisa langsung benar masuknya?"
Terlihat jelas sisi polos Mira dan rasa ingin tahu. Hingga, dia selalu bertanya kepada Elkan. Di sana, Elkan terkekeh perlahan sembari mengusapi puncak kepala Mira.
"Benar dong. Aku sudah belajar dulu ... tentang anatomi tubuh," balas Elkan.
Mendengar apa yang Elkan sampaikan, Mira kemudian menganggukkan kepala. Menerima saja jawaban dari suaminya itu. Sembari Mira memejamkan matanya perlahan. Sebelum Mira bisa benar-benar tidur, Elkan kemudian kembali berbicara.
"Mira Sayang, mandi dulu yuk. Dosa nanti kalau abis begituan enggak mandi," ajak Elkan.
Mira kembali membuka matanya. Lantas hendak menuju ke dalam kamar mandi. Namun, sedikit bergerak dan masih berada di ranjang saja, pangkal pahanya terasa sakit.
"Kak, kamu duluan aja yang mandi. Aku setelahnya, masih sakit punyaku," ucap Mira. Sekadar merasakan sakit itu saja, kedua bola mata Mira berkaca-kaca. Tadi saja sudah sakit, dan sekarang juga masih sakit.
__ADS_1
"Barengan aja yah, aku siapkan airnya dulu," balas Elkan.
"Eh, Kak ... jangan. Aku malu. Sendiri-sendiri aja," sahut Mira.
Elkan tersenyum kecil. "Aku udah lihat kamu seutuhnya, tidak ada yang terlewat. Saling membiasakan diri. Kamu ingat kan, bahwa di sini aku tidak akan segan-segan kepadamu."
"Ya ..., tapi malu," balas Mira dengan menundukkan wajahnya. Sembari dia mempertahankan selimut untuk benar-benar menutupi bagian tubuhnya.
"Gak usah malu, kita sudah halal untuk satu sama lain," balas Elkan.
"Jadi Kak Elkan enggak malu?" tanya Mira dengan mengamati wajah Elkan.
"Ya, malu. Namun, kenapa juga aku harus malu. Yang pacaran yang bisa unboxing padahal mereka belum halal untuk satu sama lain aja gak malu. Sementara kita udah nikah, tidak usah malu. Aku kian kagum rasanya, kamu cantik banget," ucap Elkan.
Mendengar apa yang baru saja Elkan sampaikan membuat Mira malu. Yang dimaksud dengan cantik banget itu dengan tolok ukur apa? Selain itu, dalam kondisi seperti ini rasanya perasaan malu itu menjadi-jadi.
"Makasih yah, aku sudah menjadi yang pertama untukmu. Beruntung banget aku," ucap Elkan. Dilanjutkan pria itu memberikan kecupan di kening Mira.
Tiba-tiba Mira bertanya demikian. Dia hanya ingin sekadar bertanya saja. Hingga akhirnya, Elkan menganggukkan kepala. "Ya, yang pertama. Aku gak pernah macam-macam. Baru sekarang nih macam-macam. Sayangnya, baru sekali coba aku langsung ketagihan."
"Ah, udahan Kak. Yuk, mandi. Aku ngantuk deh," ucap Mira dengan mengalihkan pembicaraan.
Elkan kemudian beringsut dari ranjang. Dia menyibak begitu saja. Menunjukkan tubuhnya tanpa sehelai benang di sana. Mira menutup wajahnya dengan tangan. Elkan yang berdiri, justru Mira yang merasa malu.
"Kak, itu ... pakai celana deh."
Elkan berbalik, menoleh menghadap Mira. Pria itu justru tersenyum. "Apa?"
"Itu, gak tertutup. Malu," balasnya.
__ADS_1
"Oh, ini. Biarkan saja. Biar dia kenalan sama pemiliknya. Yuk, mandi enggak?" ajak Elkan kepada Mira.
"Gantian saja Kak," balas Mira.
"Udah, sekalian saja." Sekarang, Elkan sudah berdiri di hadapan Mira. Sebenarnya Elkan malu, tapi dia sudah siap dengan semuanya. Memang terkadang harus membiasakan diri terlebih dahulu.
Mira ragu-ragu. Hendak menyibak selimutnya saja rasanya galau. Masih ada rasa malu. Hingga sekarang tangan Elkan terulur. Bahkan satu tangan yang lain mulai menyibak selimut yang Mira kenakan.
"Pelan-pelan berdirinya. Sakit pasti," ucap Elkan.
Menyingkirkan rasa malu, Mira terlihat berdiri. Namun, telapak kakinya baru menginjak lantai saja, rasa ngilu itu menjalar dari kaki ke pangkal pahanya. Sangat sakit. Mira sudah menangis dan berlinang air mata.
"Sakit banget?" tanya Elkan lagi.
"Ii ... iya, sakit, perih."
Bukan respons berlebihan, tapi ketika baru pertama kali bercinta. Terkoyak selaputnya, rasanya memang menjadi sangat sakit. Perih dan juga ngilu. Rasa sakit itu juga bertahan hingga tiga hari.
Elkan akhirnya menggendong Mira ala bridal style, membawa wanita yang baru saja dia ambil mahkotanya menuju ke kamar mandi. Dia mendudukkan Mira dulu, kemudian mengisi bath up dengan air dengan suhu ruangan.
"Mau gosok gigi dulu?" tanyanya.
Elkan mengambilkan sikat gigi yang sudah diberikan pasta gigi. Menunggu Mira yang masih duduk. Sebab, dia tahu kalau Mira kesakitan. Setelah air dan busa sabun telah siap, dia mengajak Mira untuk sama-sama berendam di bath up.
Memang hanya sekadar berendam. Sebab, Elkan juga kasihan kalau Mira justru kian kesakitan. Satu kali saja, besok masih ada waktu untuk mencoba lagi. Setelah semuanya usai, kemudian Elkan kembali membantu Mira mengenakan bajunya. Elkan juga mengenakan kaos saja dan celana pendek kotak-kotak. Sangat pendek. Sakit pendeknya celana Elkan hanya di atas paha.
"Enggak kependekan itu Kak?" tanya Mira mengamati Elkan sekarang.
"Enggak, kan cuma di ruangan tertutup sama kamu. Aku di rumah juga cuma begini dong. Udah, bobok dulu. Nanti aku aja yang keluar dari carikan makan siang. Terima kasih banget ya, Honey. I Love U," ucap Elkan.
__ADS_1
Ya, usai menikmati suasana panas. Melakukan pendinginan terlebih dahulu. Tidak perlu tergesa-gesa. Ada masa satu bulan sebelum kuliah, Elkan dan Mira bisa saling beradaptasi dan juga menikmati masa bulan madu di Australia.