Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Operasi Caesar yang Dramatis


__ADS_3

Usai melakukan pemeriksaan bersama dengan Dokter Indri. Elkan dan Mira harus mengurus administrasi terlebih dahulu untuk mendapatkan kamar. Untuk biaya persalinan tentu Elkan tidak bingung sama sekali, karena Elkan bekerja keras, bukan sekadar menggantung hidup kepada orang tuanya yang kaya raya. Ketika menunggu, Mira hanya duduk dan lebih banyak diam. Sesekali wanita hamil itu mengusapi perutnya.


"Twins, besok kita akan berjumpa yah ... doakan kita akan berdoa dalam keadaan yang baik. Twins, Mommy, dan Daddy. Semuanya sehat dan selamat. Walau Mommy cemas, tapi Mommy akan selalu kuat untuk kalian," gumam Mira.


Elkan kemudian berjalan mendekat ke istrinya. Sebenarnya, perawat menawarkan kursi roda untuk pasien. Akan tetapi, Mira memilih berjalan kaki saja. Dengan tangan yang saling menggenggam dengan tangan suaminya.


"Tidak menyangka ya, Kak," kata Mira.


"Iya, aku juga tidak menyangka sama sekali. Bagaimana lagi, Honey ..., ada pertimbangan khusus. Kita hadapi bersama yah," kata Elkan.


"Iya," jawab Mira.


Menuju ke kamar untuk kelas VIP. Mira sudah berganti dengan baju pasien. Setelah itu, ada perawat yang mengantarkan makan malam dan obat.


"Ibu Mira ... jadi ini makan terakhir yah. Setelah ini tidak boleh makan lagi. Besok operasinya dilangsungkan jam 06.00 pagi," kata perawat.


"Iya," jawab Mira.


Elkan kemudian duduk di tepi brankar. Pria itu menyuapi istrinya dengan telaten. Walau Mira mengeluhkan bahwa makanan itu kurang enak dan tidak berbumbu, tapi Mira juga memakannya. Setidaknya untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Elkan benar-benar memprioritaskan Mira dulu. Usai itu, Elkan juga membantu Mira untuk meminum obat. Setelah semuanya selesai, Elkan berbicara kepada istrinya untuk menghubungi orang tuanya terlebih dahulu. Setidaknya Mama dan Papanya harus tahu terlebih dahulu.


Papa Belva


Berdering ....


"Halo, Pa," sapa Elkan dengan panggilan telepon malam itu.


"Ya, halo, El ... ada apa?" tanya Papa Belva.


"Begini, Pa ... Elkan mau menyampaikan kabar yang sebenarnya cukup dadakan. Jadi, Mira sudah mulai masuk Rumah Sakit, Pa. Esok pagi akan dilakukan operasi caesar," kata Elkan pada akhirnya.


Benar kabar ini adalah dadakan, Papa Belva sendiri saja juga merasa bingung. Menurut istrinya Mira sehat dan tidak kenapa-napa, dan sekarang menantunya itu sudah harus dirawat di Rumah Sakit dan esok akan dilakukan operasi Caesar. Di dalam hati Papa Belva sudah menduga ada sesuatu yang terjadi.


"Di Rumah sakit mana, El? Papa akan ke sana yah," kata Papa Belva. Suara Papa Belva saja sudah mengisyaratkan bentuk kepanikan.


"Jangan khawatir, Pa ... Elkan akan menjaga Mira selalu kok. Bisa minta tolong sampaikan kabar ini kepada Mama Marsha dan Papa Abraham, Pa? Sekaligus minta tolong mengambil dua koper berwarna silver di dalam kamar Elkan bisa Pa? Isinya perlengkapan bayi. Tadi, pikirnya cuma periksa, ternyata besok SC," balas Elkan.

__ADS_1


"Oke El ... bisa, pasti bisa. Ya sudah, nanti kami akan ke Rumah Sakit dulu. Aman kok. Papa juga akan mengabari mertuamu. Tenang yah, El ... selalu kabarin Papa."


Walau Papa Belva sendiri panik, tapi dia menyampaikan kepada Elkan untuk bisa bersikap tenang dan tidak panik. Bentuk dukungan dari seorang Papa kepada anaknya.


Usai menelpon, mungkin efek dari obat, mata Mira terlihat begitu mengantuk. "Kak, aku kok ngantuk yahhh," kata Mira.


"Untuk bobok aja, Honey ... tadi Dokter Indri kan bilang, kamu harus bobok sapa tahu tekanan darahnya turun yah," balas Elkan.


Elkan mengusapi perlahan puncak kepala Mira. Biarkan istrinya itu tidur terlebih dahulu. Di dalam hati, Elkan juga berharap bahwa Mira akan baik-baik saja. Tekanan darah tinggi yang dialami Mira sekarang juga bisa turun ketika operasi besok dilakukan.


Lebih dari setengah jam, sekarang Papa Belva dan Papa Abraham datang ke Rumah Sakit. Namun, mereka hanya bisa menemui Elkan di luar semua karena jam jenguk yang sudah habis. Sehingga Elkan yang turun ke luar terlebih dahulu.


"Bagaimana, El?" tanya Papa Abraham.


"Mira mengalami tekanan darah tinggi, Pa ..., makanya Dokter menyarankan untuk operasi Caesar. Esok pagi jam 06.00 operasinya," kata Elkan.


Sebagai seorang Papa, Papa Bram sangat sedih. Tidak mengira Mira bisa mengalami kondisi seperti ini. Walau begitu, Papa Abraham juga berharap semuanya akan baik-baik saja.


"Ini kopernya, El," kata Papa Belva menyerahkan dua koper untuk Elkan.


"Sudah tidur, Pa ... mungkin reaksi obatnya tidur karena harus istirahat. Siapa tahu besok pagi tekanan darahnya turun, Pa," jelas Elkan lagi.


"Elkan, jaga Mira yah ... Papa benar-benar khawatir." Papa Abraham merasa sangat khawatir sekarang. Pikirannya hanya tertuju kepada Mira saja.


"Pasti, Pa ... Elkan akan selalu menjaga Mira."


Malam itu, akhirnya Papa Bram dan Papa Belva memutuskan menginap di hotel yang berada di depan rumah sakit. Mereka akan mendampingi Mira juga keesokan paginya. Nanti Mama Sara dan Mama Marsha akan menyusul juga. Keluarga siap menemani dan mensupport Elkan dan Mira.


***


Keesokan Harinya ....


Sekarang, tepat jam 06.00 dan Mira sudah dibawa ke dalam ruang operasi. Di dalam ruang operasi hanya ada Elkan, sementara keluarga menunggu di luar. Sebelum operasi dimulai, Dokter Indri memimpin doa untuk kelancaran operasi menurut agama masing-masing. Elkan juga bersiap di sisi Mira.


"Aku temenin, Honey. Selalu," kata Elkan.

__ADS_1


"Iya, Kak," balas Mira.


Mulailah kain berwarna hijau direntangkan menutupi perut Mira, kemudian mulailah perawat memasang Kateter ke dalam kandung kemih guna mengambil urine. Jarum infus atau intravena juga dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan untuk memasukkan cairan infus dan obat-obat yang akan dimasukkan melalui infus.


Mulailah Dokter Anestesi melakukan anestesi epidural (suntikan bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang) yang akan menimbulkan mati rasa dari bagian perut hingga kaki saja. Sementara untuk perut ke atas sampai kepala tetap dalam kondisi biasa, tidak dalam kondisi dibius.


Dokter Bedah pun mulai berbicara, "Kita mulai bedah caesar sekarang juga," ucapnya perlahan.


Mira tampak berlinangan air mata di sana, tidak mengira dirinya harus melakukan operasi caesar secara dadakan sekarang. Elkan pun kian menggenggam erat tangan istrinya itu.


"Ada aku ... kuat yah, Honey ... bayangkan yang indah-indah saja," kata Elkan lirih.


"Iya, Kak," balas Mira.


Di bawah sana, Dokter bedah dan tim medis mulai membersihkan area perut Mira, dilanjutkan dengan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusar sampai ke tulang ke-maluan. Dokter bedah kemudian mulai membuka rongga perut Mira dengan membuat sayatan demi sayatan satu per satu di setiap lapisan perut. Setelah rongga perut terbuka, dilanjutkan dengan membuat sayatan di bawah rahim. Hingga peralahan rahim Mira tampak. Perlahan Dokter Indri mengambil bayi yang masih terbungkus dengan lapisan air ketuban dan plasentanya. Kemudian Dokter Indi mengambil bagian tersebut dari bagian perut Mira, dan memecahkan air ketubannya di luar.


"Bismillahirrahmanirrahim, bayi pertama adalah bayi laki-laki yah Mira dan Elkan," ucap Dokter Indri dengan mengangkat bayi laki-laki itu. Terlihat bayi itu dengan badannya yang masih dipenuhi cairan ketuban dan darah di bagian darah dan hidungnya.


Oek ... Oek ... Oek ....


Suara bayi laki-laki itu begitu kencang. Sampai Mira dan Elkan sama-sama menangis mendengarkan tangisan bayi laki-laki mereka. Bahkan hati Mira bergetar. Jatuh cinta pada pandangan pertama kepada bayi laki-lakinya.


Bayi pertama diberikan ke tim medis untuk dibersihan. Dilanjutkan dengan Dokter Indri mengangkat bayi kedua yang berjenis kelamin perempuan, dan memecahkan ketuban di luar.


Oek ... Oek ... Oek ....


Tangisan bayi perempuan ini rupanya jauh lebih kencang dari kembarannya yang berjenis kelamin laki-laki. Sama, badannya masih basah dan ada darah di hidungnya.


"Bismillahirrahmanirrahim, bayi kedua perempuan yah ... girl," kata Dokter Indri lagi.


Ruang operasi itu seakan menjadi tempat paling dramatis untuk Elkan dan Mira. Keduanya sama-sama menangis. Tidak mengira akan bertemu dengan kedua bayinya. Kembar Fraternal, laki-laki dan perempuan. Belum usai moment bahagia itu, Mira mengalami pendarahan serviks yang hebat. Seketika Dokter Indri menginstruksi untuk memasang kantong darah sebagai transfusi darah. Elkan pun panik bukan main.


"Kuat, Honey ... doa."


Elkan melihat sendiri banyaknya darah yang Mira keluarkan. Ah, hati Elkan rasanya benar-benar habis. Banyak doa yang dia panjatkan dan selalu berharap semuanya akan baik adanya.

__ADS_1


__ADS_2