
Jika ada seseorang yang bisa memberikan perhatian dengan tulus, itu adalah Elkan. Sebenarnya, sejak menelpon tadi dia melihat bagaimana mata Mira berkaca-kaca. Akan tetapi, Elkan juga melihat Mira yang berusaha untuk tidak menangis ketika melihat Mama dan Papanya.
"Sini, Honey. Masih sedih?" tanya Elkan.
Tanpa Mira berbicara, rupanya Elkan sudah tahu kalau istrinya itu memang sedih. Elkan pun merangkul Mira. Pun, Mira yang tidak menolak. Sekarang, justru rangkulan dan pelukan Elkan seolah menjadi sesuatu yang Mira sukai. Ada kehangatan dalam pelukannya, ada kasih sayang yang coba Elkan salurkan kepadanya.
"Aku cengeng ya Kak?" tanya Mira perlahan.
"Biasa aja sih, Honey. Biasanya di rumah aja sama Mama dan Papa, terus sekarang jauh banget, jadi wajar kok. Kalau mau nangis, gak apa-apa. Nangis aja. Biasanya seminggu pertama itu yang berat. Setelahnya biasa saja. Besok jalan-jalan yah, biar kamu terhibur."
Mira kemudian menggelengkan kepalanya. "Jangan besok, Kak. Kayaknya, aku masih belum bisa jalan. Masih perih banget," balas Mira.
Sekarang justru Elkan yang tertawa. Dia lupa kalau tadi usai menikmati pagi menggelora untuk kali pertama. Jadi, pastilah pangkal Mira masih sakit. Lagipula, bisa Elkan lihat sendiri darah yang keluar dari sana. Tanda memang Mira sudah sepenuhnya jadi miliknya.
"Oh, iya ... aku lupa. Ya sudah, nanti malam lagi yah. Biar gak sakit," balas Elkan.
Sekarang Mira tampak memanyunkan bibirnya. Kadang dia berpikir kalau begini kok Elkan bisa banyak tahu, yang dia tidak tahu pun suaminya bisa tahu. Dia bertanya kepada suaminya.
"Teori dari mana, Kak?"
"Teori alamiah itu, Honey. Ya, dua sampai tiga kali masih sakit. Kalau sudah, pasti gak akan sakit kok. Enak malahan," balas Elkan.
__ADS_1
"Ngeles deh, Kak," balas Mira dengan masih cemberut.
Elkan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bohong, dari mana. Sejak menikah aku sudah belajar, Yang. Aku mempersiapkan diri satu semester lebih untuk melakukannya tadi. Itu karena pengalaman pertama ada sobekan di selaput milikmu. Setelahnya dengan permainan agak lama dan menunggu kondisi basah, lama-lama tidak akan sakit. Aku ajak nanti ke negeri di awan, penting kamu mengelola stress dan kecemasan. Dinikmati aja. Kan sudah sah dan halal untuk satu sama lain," jelas Elkan.
Mira tampak berpikir, lalu juga menilai kecemasannya. Namun, memang tidak dipungkiri kali pertama terasa cemas dan takut. Terbayang dengan rasa sakit kala suaminya itu melakukan pene-trasi kuat dan dalam untuk merobek selaputnya.
"Jiwa mudaku menggelora, Honey. Baru pertama dan sensasinya tiada tara. Masih pengen lagi dan lagi," ucap Elkan lagi.
"Kalau sakit berhenti ya Kak. Tadi berdarah," balas Mira.
Sekarang Mira menatap Elkan. Sepenuhnya menyadari bahwa memang gejolak jiwa muda terkadang menginginkan lagi dan lagi. Masih ada rasa penasaran. Toh, dulu Mamanya selalu mengatakan bahwa harus melayani suami. Ketika sudah menikah, istri adalah milik suaminya. Kendati demikian, bisa dibicarakan baik-baik. Terkadang meminta pengertian suami ketika istri memang sedang sakit atau sedang haid tidak ada salahnya.
Mira menganggukkan kepala. Kadang juga Elkan begitu dewasa. Ucapannya juga begitu logis dan jika sedang begini, Elkan seperti figur Kakak untuknya.
"Makasih Kak Elkan. Besok mulai menata koper-koper kita ya, Kak. Belum ditata, Kak. Biar bersih unitnya," balas Mira.
"Iya, besok kita tata bersama. Oh, iya ... kemarin Papa berikan modal untuk bulan madu kita berdua. Kamu mau bulan madu enggak Honey?"
"Enggak usah, Kak. Bukankah tinggal bersama juga sudah bulan madu?" tanya Mira.
Terlihat bagaimana polosnya Mira. Menganggap bahwa tinggal bersama seperti ini juga adalah bulan madu. Elkan tersenyum perlahan.
__ADS_1
"Kamu ini polos banget sih, Honey. Kan jalan-jalan ke mana, nginep di hotel yang bagus. Itu namanya bulan madu. Kalau cuma di unit gini, namanya tinggal bersama," balas Elkan.
"Ya, kan tinggal bersama juga di Australia, Kak. Ngapain lagi. Lusa kan bisa jalan-jalan. Modal dari Papa dibelikan saham aja, Kak. Biar nambah nanti," balas Mira.
"Ah, kamu ini. Yakin gak pengen nginep di hotel sama aku? Mencoba experience baru sama aku," balas Elkan.
Mira dengan cepat menggeleng. "Di sini saja Kak, di sini juga udah nyaman. Mau apa lagi? Kapan-kapan aja mencoba nginep di hotel yang bagus. Gak harus sekarang kan?"
"Ya sudah, terserah kamu saja. Penting kamu inget dengan perkataanku kan? Aku gak akan segan-segan lagi," balas Elkan.
Jika sudah begini, Mira bergidik ngeri. Bahkan pangkal pahanya mendadak juga nyeri. Masih takut, tapi Elkan mengatakan bahwa dia tidak akan segan-segan. Seolah ucapan itu menjadi sinyal tersendiri untuk Mira.
"Kamu bisa seperti ini juga ya Kak," balas Mira.
"Bisa dong. Aku sudah bukan anak-anak lagi, Honey. Dengan kegiatan panas tadi, aku sudah sepenuhnya menjadi pria. Kamu pun kalau pengen bilang aja, pasti aku kasih."
Membayangkan keinginan itu, Mira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tak bisa untuk membayangkan, terlalu malu meminta itu kepada Elkan.
"Udah, gak usah dibayangkan. Pertama memang malu, lama-lama akan terbiasa juga. Percintaan dan kuliah penting berjalan seimbang."
Mira menghela nafas panjang. Semoga saja dengan hidup bersama Elkan, kehidupan rumah tangga dan kuliah bisa berjalan selaras. Selain itu, juga Mira tidak memikirkan perihal anak, karena memang sudah memasang kontrasepsi terlebih dahulu. Menunda dulu selama kuliah di Australia.
__ADS_1