
Setelah hubungan Andin dan Mira sudah lebih baik, Evan berencana mengajak keluarganya untuk piknik bersama. Merayakan masa berbaikan dan juga membuat Mira dan Andin menjadi lebih akrab. Itu juga salah satu upaya Evan sebenarnya supaya istrinya itu bisa lebih dekat dengan Mira. Nanti, Evan juga akan mendekatkan Andin dengan istri rekan kerjanya, biar Andin tidak kesepian. Kadang terlalu sering sendiri dan tidak banyak teman, bisa membuat pikiran negatif muncul. Jika, banyak teman dan bisa sharing, bisa menambah wawasan untuk diri sendiri.
"Piknik bersama yuk?" ajak Elkan.
"Ke mana Kak? Kalau jauh-jauh dan banyak kegiatan fisiknya, belum berani, Kak ... kehamilan Mira masih di trimester satu," balas Elkan.
Barulah Evan tersadar kalau adik iparnya sedang hamil muda. Tidak boleh terlalu kecapekan. Apalagi, Mira juga mengikuti program bayi tabung. Oleh karena itu, harus lebih berhati-hati terlebih dahulu.
"Naik pesawat enggak boleh yah, Ra?" tanya Andin kepada Mira.
"Boleh, tapi setelah 16 minggu, Kak ... menunggu plasenta sudah ada, sehingga embrionya sudah lebih kuat. Kalau sekarang, belum ada plasentanya," jawab Mira.
Mendengarkan cerita Mira, Andin kemudian menganggukkan kepalanya. "Kok, rasanya aku juga pengen hamil yah?"
Mira tertawa. Usai itu, dia berbicara lagi kepada kakak iparnya itu. "Mau aku injak jempol kakinya Kak? Biar segera hamil," canda Mira.
Ya, memang ada mitos, katanya ibu hamil jika menginjak jempol kaki wanita lain bisa hamil. Itu hanya sekadar mitos, tidak bisa dipercaya kebenarannya. Mira memakai itu hanya sekadar bercanda saja dengan kakak iparnya.
"Itu mitos, Ra ... sekarang zaman kan sudah maju," balas Andin.
"Benar ... memang mitos, Kak, tapi masih banyak orang yang melakukannya. Kak Andin memasang kontrasepsi yah berarti?" tany Mira sekarang.
"Iya, memakai. Cuma, kok lihat kamu hamil, aku rasanya juga pengen yah, Ra," kata Andin.
Mendengarkan ucapan Andin, Mira kembali tertawa. "Lepas saja, Kak ... hamil kan juga anugerah dari Allah juga. Biar Kak Andin dan Kak Evan makin happy bersama baby," jawab Mira.
__ADS_1
"Kalau hamil sambil skripsi repot enggak, Ra?" tanya Andin lagi.
"Asal bisa menjalani keduanya sih, gak masalah, Kak. Dulu kan aku memang masih SMA. Hehehe, masih SMA sudah menikah, jadi memang memakai kontrasepsi untuk berjaga dan menyelesaikan kuliah. Makanya cuma 3,5 tahun aja kuliah dan begitu pulang maunya langsung punya baby. Diobrolkan dulu dengan Kak Evan saja, Kak ... Kak Evan pasti menyetujui keinginan Kakak kok."
Mira mengembalikan semuanya kepada Andin dan Evan. Jika berdiskusi dengan pasangan pastilah akan mendapatkan hasil yang baik. Berdasarkan keputusan bersama bukan hanya satu pihak.
"Benar ... piknik yuk," ajak Andin.
"Boleh, tapi ya itu ... jangan jauh-jauh Kak," sahut Mira.
Sekarang mereka berpikir piknik kemana yang tidak terlalu jauh, tapi bisa menikmati waktu bersama-sama. Namun, ketika tinggal di Jakarta, juga ketika ingin menikmati pemandangan alam harus ke Bogor atau sekitarnya. Kalau di pusat kota, yang ada mall dan berbagai pusat perbelanjaan.
"Monas aja yuk?" ajak Elkan dengan tiba-tiba.
"Boleh," jawab Evan.
Akhirnya mereka sepakat, akhir pekan nanti akan piknik ke Monas bersama-sama. Sekadar menikmati akhir pekan, dan cara supaya Andin dan Mira bisa menjadi lebih akrab.
***
Akhir Pekan Tiba ....
Sekarang nyatanya bukan hanya pasangan Elkan dan Mira, Evan dan Andin yang pergi ke Monas. Akan tetapi, Mama Sara dan Papa Belva juga ikut. Sehingga, keluarga Agastya benar-benar piknik bersama. Bahkan cukup menaiki satu mobil saja, dan satu mobil Alphard milik Papa Belva cukup untuk membawa mereka berenam. Kali ini, seperti biasa Evan yang menyetir.
"Tumben kalian ini piknik bersama?" tanya Papa Belva.
__ADS_1
"Iya, Pa ... sebenarnya mau ngajakin Elkan dan Mira baby moon, tapi Mira belum bisa naik pesawat. Ya sudah, di dalam kota saja," balas Evan.
"Kalau baby moon, Mama dan Papa ikut yah," kata Mama Sara dengan tertawa.
Elkan kemudian menjawab. "Duh, kalau semua ikut, kami gak bisa flying to the moon dong."
Semua yang ada di dalam mobil pun tertawa. Elkan bisa-bisanya bercanda seperti itu. Mira saja sampai malu mendengarkan jawaban dari Elkan.
"Jangan kaget, Ndin ... adik iparmu memang kayak gitu," kata Papa Belva.
"Tidak kaget kok, Pa," balas Andin.
Begitu sudah tiba di Monas, Papa Belva yang membeli tiket masuk. Senang sekali menikmati akhir pekan bersama anak dan menantu. Memang itu keinginannya dulu, anak dan menantu bisa berkumpul dan saling rukun, untuk orang tua itu sudah menjadi anugerah tersendiri.
"Jalannya pelan-pelan saja, Ra," kata Mama Sara.
"Iya, Ma ... lihat, Ma ... Mira cuma memakai sandal jepit," kata Mira dengan tertawa. Bahkan Mira tak malu memperlihatkan sandal jepit miliknya.
Mama Sara juga tertawa. Memang Mira sudah seperti anaknya sendiri, bisa cerita dan bercanda apa pun. "Kamu ini ... tapi itu paling nyaman untuk Ibu hamil. Mama dulu juga begitu kok," balas Mama Sara.
"Setuju paling nyaman ... ringan untuk jalan juga, Ma," jawab Mira.
"Mama dan Mira seserver yah, waktu hamil sukanya sandal jepitan," sahut Andin.
"Iya, sapa tahu nanti kamu juga, Ndin. Kita bertiga seserver," jawab Mama Sara.
__ADS_1
Mama Sara juga adalah seorang mama mertua yang bisa menyesuaikan diri dengan anak dan menantunya dengan baik. Justru bersama para menantu yang masih muda, Mama Sara seakan kembali muda. Senang rasanya bisa menjadi rekan dan sahabat untuk menantunya sendiri.