
Dua hari setelahnya, ketika ada ulangan Bahasa Indonesia mengenai jenis karangan berdasarkan isinya, Elkan terlihat mengerjakan dengan penuh percaya diri. Seolah-olah, apa yang sudah dia pelajari bersama Mira semua keluar dan Elkan merasa tidak ada halangan kala mengerjakan. Bahkan Elkan yakin bahwa jawabannya benar.
Walau duduk satu meja, tapi untuk urusan ujian, mereka tetap mengerjakan sendiri-sendiri. Tidak pernah menyontek atau meminta bantuan satu sama lain. Elkan pun selama ini yang kurang menguasai Bahasa Indonesia, tapi saat ujian juga tidak pernah bertanya kepada Mira. Berapa pun nilai yang dia dapatkan, Elkan akan puas dengan nilainya.
Ketika ujian selesai, Mira pun menanyai Elkan. "Bisa mengerjakan?" tanyanya.
"Bisa, waktu belajar sama kamu keluar semua. Rasanya aku akan mendapatkan nilai bagus di ujian kali ini," balas Elkan dengan yakin.
Mira pun tersenyum. Jika sampai Elkan mendapatkan nilai yang baik tentu dia akan sangat senang. Jika bisa sama-sama mendapatkan nilai yang baik, bukankah itu jauh lebih baik?
"Ke kantin yuk, Ra?" ajak Elkan kepada Mira.
Mira pun menganggukkan kepalanya dan menegakkan punggungnya, perlahan berdiri dan berjalan di sisi Elkan untuk ke kantin. Pun Elkan yang tersenyum tipis, ketika Mira berjalan di sisinya. Tanpa bergandengan tangan karena memang mereka harus bisa menempatkan diri di sekolah. Agar tidak menjadi pembicaraan.
"Tebar pesona," ucap Sonya dengan nada bicara yang terdengar begitu ketus.
Akan tetapi, baik Mira dan Elkan memilih untuk mengabaikan Sonya. Walau Sonya kala itu untuk mengikuti mereka menuju ke kantin. Pandangan matanya menatap tajam pada Elkan dan Mira.
"Sok benget sih baru jadian. Toh, loe itu juga ngerebut Mira dari Bagas. Ups, tunggu. Atau memang Mira aja yang gak setia," balas Sonya.
Mendengar apa yang Sonya katakan, keduanya memilih untuk tidak terusik. Membiarkan saja Sonya dengan mulut pedasnya itu. Toh, sebenarnya ada jalinan yang lebih kuat dari Elkan dan Mira.
"Gak usah ditanggepin, Ra. Mau pesen apa?" tanya Elkan.
"Es Teh aja, pengen yang dingin," balas Mira.
Elkan pun segera berdiri dan memesankan es teh untuk Mira. Tidak lupa, Elkan membeli camilan. Walau waktu istirahat hanya lima belas menit, tapi bisa dimanfaatkan dengan baik. Tidak perlu menggubris apa yang diucapkan Sonya.
__ADS_1
"Es Teh dan camilan," ucap Elkan yang kemudian mengambil tempat duduk di depan Mira.
Pemuda itu bersikap biasa. Senyam-senyum juga tidak. Walau sebenarnya, Elkan sangat senang bisa menikmati sekolah sembari pacaran seperti ini. Teman-temannya yang lain kemungkinan besar ada yang pacaran kelewat batas, berciuman di sekolah, atau mungkin melawat hubungan suami istri yang menjadi catatan kelam mereka yang duduk di bangku SMA.
Namun, baik Mira dan Elkan memilih versi aman. Layaknya remaja di masanya. Mengubah pacaran yang hanya mengedepankan hasrat menjadi pacaran yang membangun, dan memotivasi minat belajar. Lima belas menit waktu berlalu, mereka kembali ke kelas dan menyelesaikan pelajaran hingga jam terakhir.
Kini keduanya, sudah berada di dalam mobil untuk pulang ke rumah. Ketika mobil baru keluar dari gerbang sekolah, rupanya turun hujan.
"Yah, kok turun hujan sih," ucap Mira dengan mengamati hujan yang turun dengan begitu derasnya.
"Biar semakin romantis, Ra. Pengen deh hujan-hujan sama kamu naik sepeda motor lagi," balas Elkan.
"Nanti kena flu lagi, Kak," balas Mira dengan sedikit tersenyum.
"Ya enggak apa-apa sih, tapi kan dapat bonus dipeluk kamu," balas Elkan.
Hujan di luar dan ucapan Elkan yang membahas pelukan seolah membuat atmosfer di dalam mobil itu terasa berbeda. Mira juga kemudian memilih diam, sesekali gadis itu mengusapi tangannya karena memang dingin.
"Iya," balasnya.
Elkan pun segera mengecilkan AC di dalam mobil, kemudian dia perlahan menautkan tangannya di tangan Mira. Bisa Elkan rasakan bahwa tangan Mira begitu dingin. Mungkin karena hujan begitu deras sehingga Mira merasa sedikit dingin.
"Nanti kalau di Australia gimana? Di sana waktu musim salju, bisa sangat dingin loh," ucap Elkan.
"Beli room heater, Kak. Biar hangat," balas Mira.
Elkan kemudian tersenyum. "Kalau liburan musim dingin, kamu di dalam apartemen aja. Biar aku yang keluar beli makan dan kebutuhan kita. Ditambah dapat pelukan pasti hangat," balas Elkan.
__ADS_1
Sekarang, Mira tertunduk malu. Dengan tangan Elkan yang menggenggam tangannya dan juga ucapan Elkan yang kembali membahas pelukan, membuat Mira merasa malu. Namun, Mira berusaha tenang supaya bisa menguasai keadaan.
"Kan setelah tiga bulan lagi boleh," ucap Elkan lagi.
"Fokus nyetir, Kak," balas Mira.
Setelah beberapa saat menyetir mobilnya, kini mobil itu sudah berhenti di depan rumah Mira. Namun, Elkan masih menahan Mira di sana. Tangannya masih menggenggam tangan Mira. Pun, dengan pemuda itu yang melepaskan sabuk pengamannya dengan cepat, lalu dia beringsut dan mendekat ke arah Mira.
Tiba-tiba Mira menjadi was-was. Apa yang hendak dilakukan oleh Elkan dengan posisi sedekat ini, dan deru nafas hangat pemuda itu yang bisa Mira rasakan. Tangannya yang masih dalam genggaman Elkan menjadi kian dingin, bahkan refleks Mira memejamkan matanya karena wajah Elkan yang sudah berada tepat di depan wajahnya.
Sementara Elkan sendiri dalam posisi seperti itu justru tersenyum. Dia bisa merasakan tangan Mira yang begitu dingin, dengan wajah gadis itu yang merona-rona, bahkan mata Mira yang terpejam.
Namun, Elkan kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya dan memakaikannya di rambut Mira. Ya, sebuah pita dari brand ternama. Setelahnya Elkan sedikit menjauh, ditandai dengan kelopak mata Mira yang perlahan-lahan terbuka.
"Kamu memejamkan mata, Ra? Kamu kira, aku mau ngapain?" tanyanya.
Gelagapan. Mira buru-buru mendorong dada Elkan dan dia membuang wajahnya ke arah jendela di mobil itu. Debaran yang dia rasakan kala Elkan kian mendekat ternyata hanya karena Elkan memasangkan pita di kepalanya.
"Cantik, dipakai olehmu," ucap Elkan.
"Makasih, Kak ... aku turun yah," balas Mira.
Di saat seperti ini, rasanya Mira ingin segera melarikan diri karena malu. Sementara Elkan justru sekarang menahan tangan Mira. Pemuda itu kembali beringsut, membuat tubuh Mira sedikit mendekat kepadanya.
Kemudian Elkan dengan begitu impulsif mendaratkan bibirnya di pipi Mira. Hanya sekian detik saja.
Cup!
__ADS_1
"Aku sayang kamu, Mira."
Ya Tuhan, debaran jantung Mira kian menjadi-jadi. Wajah Mira pasti kian memerah sekarang. Untuk kali pertama, ada pria yang menciumnya. Walau ciuman di pipi, tapi itu sangat mendebarkan. Di luar hujan dan wiper di mobil memang sengaja tidak dinyalakan oleh Elkan. Pun, dengan ciuman di pipi yang membuat jantung Mira tidak baik-baik saja sekarang.