
Sementara di rumah, Mira yang sedih rupanya juga dirasakan oleh Twins A. Kesedihan Mira bukan tanpa sebab, melainkan karena kondisi Elkan yang kini berada di Rumah Sakit. Kondisi psikologis Busui rupanya bisa dirasakan oleh kedua bayinya.
Malam itu, Aryan dan Aaliya menangis bersahut-sahutan. Mira sendiri sampai menangis juga. Ibarat handphone, Mira tengah kehabisan daya sekarang. Suaminya sakit di rumah sakit, dan bayinya tantrum berdua sekaligus.
"Aryan dan Aaliya jangan menangis dong. Mama sedih jadinya, tambah sedih ...."
Mira berusaha menggendong kedua bayinya bersamaan. Berjalan pelan-pelan ke kanan dan kiri, dengan maksud menenangkan bayinya. Akan tetapi, Twins A sampai menangis.
Kesedihan Mira tak bisa dibendung lagi. Sembari menggendong Twins A, Mira pun menyanyikan lagu dengan maksud membuat kedua bayinya lebih tenang.
*Kupandang langit penuh bintang bertaburan
Berkerlap-kerlip seumpama intan berlian*
Dengan tersedu-sedan dan penuh isakan tangis Mira menyanyikan lagu itu untuk menenangkan Aryan dan Aaliya. Sebisa mungkin Mira berusaha menenangkan dirinya. Untungnya tak berselang lama, Mama Marsha datang ke rumah Mira.
Mama Marsha sendiri sedih melihat putrinya dengan wajah sembab dan masih terisak-isak sembari menggendong kedua bayinya.
"Sini, biar Oma yang gendong Twins. Kamu istirahat dulu, Ra," kata Mama Marsha.
__ADS_1
Sejujurnya Mira enggan memberikan kedua bayinya. Akan tetapi, Mama Marsha datang untuk memberikan support sistem. Mama Marsha tahu kesedihan putrinya itu.
Akhirnya Mama Marsha melihat Aryan dan Aaliya, kemudian Mama Marsha menggantikan baju dan diapers Twins secara bergantian. Siapa tahu ada rasa tak nyaman di badannya. Walau sebenarnya mungkin saja ada koneksi hati dari anak-anak bayi dengan Daddynya. Biasanya sore Daddynya sudah berada di rumah, tetapi sekarang tidak ada Daddynya di rumah.
"Mommynya jangan sedih dulu, kasihan nanti Aryan dan Aaliya ikut nangis. Walau sekecil ini, Aryan dan Aaliya bisa merasakan kalau Mommynya sedih," nasihat Mama Marsha.
"Mira sedih banget, Ma. Kangen Kak El," balasnya.
Tidak dipungkiri bahwa rasanya sedih. Terlebih suaminya yang masih berada di Rumah Sakit. Mira saja yang biasa tegar sekarang bisa menangis dan sesedih ini. Ada faktor kelelahan juga sebagai seorang Ibu. Tak dipungkiri beberapa masalah bisa membuat seorang Ibu menjadi down. Masih bersyukur itu tidak berdampak ke produksi ASI-nya.
"Elkan pasti sembuh, Mira. Percaya saja. Memang tidak dipungkiri ketika suami sakit atau terkena kecelakaan istri rasanya juga kesakitan. Itu yang namanya kalau satu sakit, satunya juga sakit. Begitu juga kalau yang satu bahagia, maka yang satu juga bahagia. Menjadi sepenanggungan," nasihat Mama Marsha lagi.
"Iya, Ma," jawab Mira.
Akhirnya Mira memilih mandi sebentar dengan menitipkan Aryan dan Aaliya ke Mamanya. Setidaknya Mira juga butuh waktu untuk dirinya sendiri. Tenang sejenak dengan mandi air hangat. Setelah itu, Mira makan malam dengan sayur dan lauk yang dibawakan Mamanya. Ada bantuan yang datang memang benar-benar meringankan beban.
"Sudah, Ma ... sini kalau sudah, Ma. Biar Twins minum ASI dulu," kata Mira.
"Yakin, kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Mama Marsha.
__ADS_1
"Sedikit lebih baik, Ma. Walau masih kepikiran Kak Elkan," jawabnya.
Ada rasa yang membuat Mira sedih adalah saat di Australia dulu saat Mira sakit, Elkan yang menjaganya dan merawatnya sepenuh waktu. Sedangkan sekarang ketika Elkan membutuhkan dirinya, Mira justru tidak bisa melakukan lebih untuk suaminya.
"Kan sekarang kamu bukan hanya menjadi istri, tapi jadi Mommy juga. Harus memiliki prioritas mana yang jauh lebih penting. Elkan butuh kamu, tapi Aryan dan Aaliya yang masih kecil ini lebih butuh kamu. Ketika sudah menjadi seorang ibu akan diperhadapkan dengan pilihan-pilihan seperti ini, Mira. Nantinya kondisi dan situasi seperti ini juga yang akan mendewasakan kamu," nasihat Mama Marsha lagi.
Mira menganggukkan kepalanya. Ya, ada beberapa sisi memang membutuhkan kedewasaan. Seharusnya Mira bisa berpikir seperti itu. Sayangnya, Mira merasa terlalu sedih dengan keadaan yang terjadi tiba-tiba.
"Diberi ASI dulu. Kamu kangen Elkan, bukankah Aryan ini mirip sekali dengan Daddy nya? Lihat, matanya Elkan ada di mata Aryan," kata Mama Marsha.
"Iya, begitu mirip Kak Elkan," balas Mira.
"Lihat juga, bukankah keningnya Aaliya ini mirip Daddy nya juga? Lihat Aryan dan Aaliya, kamu sudah melihat Elkan. Doakan supaya Elkan segera sembuh dan bisa pulang ke rumah."
Mira menganggukkan kepalanya. Dia harusnya memang lebih banyak istighfar dan berdoa. Namun, bagaimana lagi manusia biasa terkadang melihat masalah yang sebesar gunung, tanpa melihat ada kekuatan maha dahsyat dari Allah yang bisa memindahkan gunung itu. Sekarang Mira sadar usai mendengarkan nasihat dari Mamanya.
"Tuh, Mommynya tenang, Aryan dan Aaliya juga tenang. Kondisi hati Ibu berdampak ke kondisi babynya," kata Mama Marsha.
"Makasih banyak, Ma," jawab Mira.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Mama dulu juga belajar. Ada masa Mama kehilangan kedewasaan, ada kalanya Mama bimbang. Untuk ada mendiang Nenek kamu yang selalu menolong dan membantu Mama. Ada Papa juga yang lebih dewasa dan dari Papa, Mama juga belajar banyak hal. Melewati suka dan duka bersama pasangan sungguh luar biasa, Mira."
Mira menganggukkan kepalanya lagi. Dia ingin melewati suka dan duka ini dengan suaminya. Walau banyak masalah dan sekarang ada masalah baru, tapi Mira dan Elkan akan saling menguatkan genggaman tangannya untuk bersama-sama melewati cobaan yang datang.