Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Salah Tingkah


__ADS_3

Ada senyuman tipis di sudut bibir ketika Mira justru menunjukkan wajah yang cemberut. Di benaknya, Elkan sangat yakin bahwa soal satu kamar dengan istrinya adalah perkara waktu saja. Lagian, Elkan dari awal juga tidak pernah menolak Mira. Walau sikapnya terkadang dingin, tetapi sebenarnya Elkan adalah sosok yang baik.


"Ra, kenapa yah kalau sama kamu gerimis manis kayak gini yah?" tanya Elkan sembari melirik Mira.


Mira menatap pada kaca bagian depan mobil dengan whiper yang bergerak ke kanan dan ke kiri menyingkirkan air supaya jarak pandang sang pengemudi aman. Namun, rasanya memang aneh karena dua kali ini, bersama Elkan turun hujan. Awalnya gerimis, tiba-tiba hujan deras.


"Kebetulan aja kali, Kak," balas Mira.


"Kamu sudah bawa baju ganti, Ra?" tanya Elkan perlahan.


Mira kemudian menunduk sesaat, menatap pakaiannya sekarang dan ada piyama tidur di tas ranselnya. "Ada satu, kan aku bisa bolak-balik pulang, Kak. Rumah kan juga dekat, selemparan batu juga nyampai," balas Mira.


Elkan mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawaban yang realistis dari Mira. Memang jarak rumah mereka dekat. Hanya berbeda cluster saja, tapi juga tidak terlalu jauh. Jika menaiki sepeda motor, hanya menyusuri jalan kompleks saja juga sudah sampai.


"Oh, iya ... pakai bajuku juga boleh. Banyak kok kaos-kaos kalau mau," balas Elkan.


Sementara Mira memilih diam. Canggung yang sekarang ini dia rasakan. Selain itu juga bingung bagaimana harus berbicara dengan Elkan. Seakan dia kehabisan topik pembicaraan.


"Kalau malam gini, nyampe Semarang jam berapa Ra?" tanya Elkan.


"Lima jam perjalanan naik kereta sih, Kak. Sebenarnya enak perjalanan pagi, Kak. Pemandangannya sawah, hutan, dan pegunungan gitu. Cuma Mama dan Papa ingin segera tiba di Semarang karena Nenek sakit," balas Mira.


"Kapan-kapan kita ke sana yuk Ra? Kereta pagi saja, biar bisa melihat pemandangan seperti yang kamu ceritakan itu. Itu Nenek yang mana sih Ra? Kenapa aku cuma kenal Eyang Diah aja yah?" tanya Elkan.

__ADS_1


"Nenek Ria itu ibunya Mama, Kak. Aku sendiri juga kurang mengenalnya. Kalau Eyang Diah itu Mamanya, Papa," jawab Mira.


Elkan menganggukkan kepalanya. Seingatnya yang dia kenal adalah Eyang Diah. Eyang yang baik hati, ketika dia kecil dulu sering kali Eyang Diah yang menemaninya bermain dengan Mira kecil. Sementara Nenek Ria ini sama sekali Elkan tidak mengenalnya.


"Oh, makanya ... aku tidak kenal," balas Elkan.


Setelah satu jam berlalu, kini keduanya pun sampai di kediaman Agastya. Tampak Mama Sara dan Papa Belva menunggu keduanya di ruang tamu. "Hujan El?" tanya Mama Sara.


"Iya, Ma ... habis nurunin Mama dan Papa, hujan," jawab Elkan.


Mira pun tampak menganggukkan kepalanya kepada Mama Sara dan Papa Belva. "Mama, Papa," sapanya kepada mertuanya.


"Sini, Mira ... duduk sini, jangan sungkan. Anggap rumah sendiri," ucap Mama Sara.


"Pertama kali menginap di sini, Ma ... jadinya canggung," balas Papa Belva.


Mama Sara pun tersenyum. "Iya ya, Ra ... anak gadisnya, Mama. Biasa saja, kami juga orang tuamu kan? Dulu waktu kamu masih bayi, pernah loh dititipkan Mama dan Papa kamu di sini, waktu Papanya Papa Bram meninggal dunia," cerita Mama Sara.


"Apa iya, Ma?" tanya Mira.


"Iya, beberapa kali kamu di sini waktu bayi dulu. Ya, kamu bermain sama Elkan di rumah. Evan kan sudah sekolah dasar waktu itu, yang ada di rumah Elkan. Jadi, kalian berdua main gitu bersama," cerita Mama Sara lagi.


"Dari teman bermain, jadi suami istri," balas Papa Belva.

__ADS_1


"Cuma belum sepenuhnya sah, Pa ... harus lulus SMA dulu kan?" Elkan menyahut. Baginya pernikahannya belum sepenuhnya sah karena memang baru benar-benar sah ketika mereka sudah lulus SMA nanti.


"Sudah sah, El ... cuma penyatuannya nanti usai kalian lulus SMA. Sabar dulu. Jangan-jangan kamu tidak sabar?" tanya Papa Belva.


Jika Elkan hanya senyam-senyum, Mira justru menundukkan wajahnya. Salah tingkah rasanya. Namun, Elkan justru terlihat biasa-biasa saja.


"Elkan gak sabar ya Mira ... nanti kalau tidur, pintu kamarnya dikunci dari dalam yah. Biar El gak macam-macam," ucap Mama Sara.


Mira menganggukkan kepalanya. "Pasti, Ma," balasnya.


"Kapan boleh sekamar Ma?" tanya Elkan tiba-tiba.


Mama Sara pun menggerakkan tangannya dan menjewer telinga putranya itu. "Ih, ngeyel banget kamu, El. Dijaga sampai lulus SMA."


"Duh, aduh ... sakit, Ma. Sakit." Elkan memekik dengan memegangi telinganya yang abis dijewer Mamanya.


"Habis kamu ini aneh-aneh saja. Awas yah, Mama akan mengawasi kamu 24 jam. Kalau perlu, kamu tidur saja sama Papa. Jangan sentuh anaknya Mama," balas Mama Sara dengan sebal.


"Yah, baru beberapa menit Mira di sini, seolah-olah Mira loh yang jadi anaknya Mama," balas Elkan.


"Kamu anaknya Mama juga," balas Mama Sara.


Papa Belva tertawa. Kelakuan putranya itu kadang absurd. Jika Elkan cengengesan, Mira justru diam dan salah tingkah. Ya, Mira juga malu mendengar pertanyaan Elkan yang aneh-aneh itu.

__ADS_1


__ADS_2