Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Mentari Bersinar Lebih Cerah


__ADS_3

Hampir jam 22.00, Mira diantar Mama Sara menuju ke kamar tamu. Sebenarnya, memang dia ditawari untuk tidur di kamarnya Eiffel, adiknya Elkan yang sekarang sekolah di Singapura. Namun, Mira lebih memilih untuk tidur di kamar tamu. Mama Sara pun memberikan pesan kepada Mira.


"Bobok di sini saja ... tidak apa-apa. Jangan lupa kamarnya dikunci dari dalam yah. Memang kamu dan Elkan sudah sah, sudah resmi. Namun, sekolah dulu yah. Lulus dulu. Anggap rumah kamu sendiri. Kalau butuh apa-apa, bangunkan Mama saja," ucap Mama Sara.


"Iya Ma, maaf ... jadi merepotkan. Padahal Mira di rumah sendiri pun tidak apa-apa sebenarnya," balas Mira.


"Jangan Sayang ... mandat dari Mama dan Papa kamu. Kami siap menjaga kamu," balas Mama Sara.


Bagaimana pun Mama Marsha dan Papa Abraham sudah mempercayakan Mira kepada keluarga Agastya. Untuk itu, sudah pasti Mama Sara dan Papa Belva akan menjaga Mira, dan juga melakukan kesepakatan bersama bahwa keduanya baru akan tinggal bersama kala sudah lulus SMA nanti.


"Baik Ma," balas Mira.


"Ya sudah, tidur yah ... besok pagi ke sekolah kan bisa barengan sekalian sama El," ucap Mama Sara.


Akhirnya Mira pun memasuki kamar tamu itu. Kemudian dia mengunci pintunya dari dalam. Mira memilih mencuci wajahnya dan juga berganti dengan piyaman tidur. Lalu, Mira merebahkan dirinya di kamar tamu itu. Rasanya aneh. Walau itu kamar yang mewah dan bersih, tapi tidak seperti kamarnya sendiri. 


Tidak langsung tidur, tetapi Mira melihat handphonenya dulu dan membaca pesan dari Mamanya. 


[To: Mira]


[Mira, ini kami dalam perjalanan ke Semarang.]


[Hujan di sepanjang jalan yang kami lewati.]


[Dalam seminggu ini hati-hati yah. Jaga diri baik-baik.]


[Sekolah yang rajin ya Kak. Doakan Nenek cepet sehat juga.]


[Jaga diri baik-baik yah.]

__ADS_1


[Mama dan Papa sayang kamu.]


Membaca pesan dari Mamanya, membuat Mira merasa rindu dengan Mamanya. Gadis itu pun berbaring dan menggerakkan kedua jarinya untuk membalas pesan dari Mamanya. 


[Iya, Ma.]


[Mira akan jaga diri baik-baik.]


[Cepat pulang ya, Ma.]


[Mira juga sayang Mama dan Papa.]


Mungkin lantaran tidak pernah ditinggal orang tua, Mira menitikkan air matanya di sana. Hingga gadis itu menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan kemudian memejamkan matanya. Walau sudah kangen orang tua, tapi Mira berusaha untuk bertahan dan bersabar. Hanya satu minggu, usai ini berharap Mama dan Papanya akan pulang.


***


Keesokan paginya ….


Pemuda itu segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian turun menuju ke meja depan dengan sudah mengenakan seragam putih abunya. Benar, ada Mira yang membantu Mamanya mempersiapkan makanan. 


"Pagi," sapa Elkan dengan berjalan menuju ke meja makan. 


"Pagi, El … tumben sepagi ini kamu udah siap? Biasanya kan sarapan dulu baru mandi," ucap Mama Sara. 


Mendengar apa yang diucapkan Mama Sara, Mira tersenyum dan mengamati Elkan. Rupanya kebiasaan pagi Elkan setiap hari seperti itu, sarapan dulu, mandi kemudian. Akan tetapi sekarang, Elkan sudah mandi dan seolah siap ke sekolah. 


"Apa sih, Ma," balas Elkan dengan mengambil tempat duduk di sana. 


"El, tumben udah siap? Biasanya kan mandinya belakangan," sapa Papa Belva yang kaget juga dengan anak-anaknya itu. 

__ADS_1


Elkan pun menatap wajah Papanya. "Kan rajin, Pa. Padahal ya sering Elkan mandi duluan," balasnya. 


"Biasa, Ma. Ada istri tercinta, kesannya biar rajin gitu," balas Papa Belva dengan tertawa. 


"Pencitraan ya, Pa," balas Mama Sara. 


Sementara Mira tak berkomentar. Namun, gadis itu tersenyum dalam hati. Sedikit tahu kebiasaan Elkan. 


"Yuk, sarapan … Mira, sarapan yang kenyang yah," ucap Papa Belva. 


"Iya, Pa," balas Mira. 


Gadis itu kemudian menatap ke Elkan sejenak. "Mau dibuatin apa Kak?" tanyanya. 


"Cie, ada yang melayani sarapan. Wah, bahagia ya, El." Papa Belva rupanya mode julid dan menggoda putranya itu. Melihat wajah Elkan bersemu merah, membuat Papa Belva girang. 


"Istri yang baik ya, Ra. Belajar mengisi piring kosong suami dulu. Keren menantunya Mama," ucap Mama Sara. 


"Diajarin Mama di rumah kok, Ma. Waktu Kak El, makan di sana dulu," balas Mira. 


"Berawal mengisi piring kosong, nanti saling mengisi hidup. Duh, senangnya, El." 


Lagi Papa Belva berkomentar dan pria paruh baya itu tampak bahagia. Melihat pengantin SMA, memberi kebahagiaan tersendiri untuk Mr. CEO itu. 


"Roti saja, Ra," ucap Elkan. 


Mira pun membuatkan roti dengan Selai cokelat Nutella sesuai yang diinginkan Elkan. Selain itu, Mira juga khusus membuatkan Lemon Tea untuk Elkan. Wah, dalam hati Elkan pun merasa senang. Seakan surya bersinar lebih cerah hari ini. 


Terbersit dalam benaknya, jika mengarungi rumah tangga bersama Mira rasanya akan sangat menyenangkan. Elkan pun mengunyah rotinya perlahan, sembari melirik Mira yang duduk di depan. 

__ADS_1


"Boleh dilirik, tak boleh dibawa, El," ucap Papa Belva tiba-tiba. 


Itu juga karena Papa Belva mengamati Elkan yang melirik ke Mira. Sehingga Papa sengaja berbicara kepada Elkan. Apa yang diucapkan Papa Belva membuat Elkan terkesiap. 


__ADS_2