
Keesokan harinya, Elkan benar-benar mengajak Mira ke Studio Foto milik Papa Abraham. Bahkan keduanya yang sudah lulus SMA itu kini tampil percaya diri dengan mengenakan seragam putih abu-abu lagi. Padahal seragam SMA putih abu-abu itu sudah cukup lama tidak dikenakan bersama.
"Ke studionya Papa yah," ajak Elkan.
"Iya, walau aku malu sih, Kak," balas Mira.
"Kenapa malu? Kata Papaku tidak ada fotografer terbaik seperti Papa Abraham," balas Elkan.
Papa Belva bisa berbicara seperti itu karena memang sejak dulu bekerja dengan Papa Abraham. Semua produk yang membutuhkan foto, sudah pasti akan diserahkan kepada Papa Abraham. Hasilnya selalu memuaskan. Foto keluarga yang ada di kediaman Agastya pun juga seluruhnya adalah hasil jepretan Papa Abraham.
"Yuk ke studio," ajak Elkan.
Kemudian Elkan melajukan mobilnya dan tempat yang dia tuju adalah Studio Foto milik Papa Abraham. Memang Elkan sudah meminta kepada Papa Abraham perihal keinginannya untuk berfoto bersama dengan mengenakan Seragam SMA. Bagi Elkan, rasanya harus diabadikan. Termasuk SMA menyimpan romansa untuknya dan juga Mira.
Sungguh kejutan, rupanya begitu sudah sampai di studio, justru ada orang tua mereka yang stand by di sana. Elkan dan Mira pun sama-sama terkejut.
"Loh, Mama dan Papa kok ada di sini?" tanya Elkan.
"Ngumpul aja sama Besan ... sekalian lihat kamu dan Mira. Sudah, santai saja," balasnya.
__ADS_1
Mencoba santai, kemudian Mira dan Elkan diarahkan untuk berfoto bersama. Pose keduanya memang standar, hanya bergandengan tangan bersama. Atau Mira yang mengapit lengan Elkan. Namun, ada foto di mana Elkan mengenakan jaket dan Mira seolah berjalan di belakangnya. Hanya sekadar mengabadikan momen saja.
"Sekalian prewedd deh, makai seragam SMA juga boleh," ucap Mama Sara dengan tiba-tiba.
Mira tampak bingung. Sebab, tidak pernah ada wacana prewedd sama sekali. Namun, sekarang justru Mama Sara meminta keduanya sekalian untuk Prewedding. Di foto pertama, masih mengenakan Seragam SMA, kemudian di kepala Mira dipasangi mahkota dan feil, selain itu dia menggenggam buket bunga mawar merah di tangannya.
Sungguh malu, tapi Elkan juga santai saja. Menikmati saja arahan gaya dari Papa Abraham. Setelah itu, keduanya diminta berganti kostum. Elkan mengenakan Jas dan Mira mengenakan Wedding Gown berwarna putih dengan mode off shoulder. Elkan mengakui dalam hatinya, bahwa Mira begitu saja. Pengantinnya itu sangat cantik. Saat diarahkan oleh panata gaya pun, Elkan berbisik kepada Mira.
"Cantik banget sih," ucap Elkan.
Gadis itu tersenyum, membiarkan saja ketika Elkan melingkarkan tangannya di pinggangnya yang ramping. Mengambil pose layaknya untuk foto prewedding.
"Sudah selesai ... jadi begini Mira dan Elkan, kalian sudah selesai SMA. Sebelum kalian akan ke Australia, Mama dan Papa ingin membuat pesta pernikahan untuk kalian berdua. Tidak perlu menyembunyikan status pernikahan kalian lagi. Bagaimana?"
"Kami sih nurut aja, yang penting bulan depan kami sudah berangkat ke Sydney," balas Elkan.
"Foto kalian nanti kami pakai di undangan yah. Nanti Papa Abraham akan memberikan hasilnya, kalian yang pilih berdua. Lalu, ingin resepsi pernikahan Indoor atau Outdoor?" tanya Mama Sara.
"Intimate Wedding Party saja, Ma. Toh, tidak perlu semua tahu mengenai pernikahan kami. Kalau di Villanya Papa saja gimana? Elkan ingin menikah seperti Papa dulu, kesan intimate nya lebih terasa," balasnya.
__ADS_1
Papa Belva tertawa. Tidak mengira ternyata Elkan memiliki mimpi untuk menikah dengan konsep intimate Wedding Party sepertinya. Tidak salah. Sebab, ada kalanya anak-anak juga menginginkan sesuatu seperti yang pernah dilakukan orang tuanya.
"Boleh saja ... tapi seorang pria tidak boleh egois dong. Mira setuju enggak?" tanya Papa Belva.
"Setuju, Pa ... wedding receptions kalau mengundang banyak tamu, justru nanti kami dikira anak SMA yang dua garis merah duluan Pa," balas Mira.
Papa Belva tertawa. "Image-nya seperti itu yah? Kecil-kecil jadi mantan. Jadi, Mira setuju?"
"Iya, setuju," balas Mira.
"Anak-anak Papa semakin dewasa. Nanti kalau sudah di Australia, harus bisa memecahkan masalah sendiri. Kami, orang tua tidak akan ikut campur. Kejar mimpi kalian dulu. Kalau sudah lulus, beri kami cucu," ucap Mama Sara.
Mira dan Elkan sama-sama tersenyum. Empat tahun di Sydney nanti memang lama. Rupanya, ada Mama Sara yang sudah mengharapkan cucu juga dari Elkan dan Mira. Bukan bercanda, tapi memang Mama Sara ingin memiliki cucu di usia yang tidak terlalu tua.
"Setelah lulus ya Ma," balas Elkan.
"Iya, kalian lulus dulu."
Benar-benar tidak menyangka bahwa acara yang sekadar hanya mengabadikan masa SMA justru dibuat pemotretan sekalian. Selain itu ada kesepakatan yang lain. Sekadar resepsi pernikahan agar beberapa kerabat dan kolega mengetahui bahwa Elkan dan Mira sudah sah dalam pernikahan.
__ADS_1