
Masih berada di dalam bath up, agaknya Mira masih ingin berlama-lama berada di dekapan Elkan. Dengan tubuh yang masih rapat satu sama lain. Walau suhu air di dalam bath up itu mulai berkurang, tapi sensasi hangat masih melingkupi keduanya.
"Honey, aku seneng kalau kamu manja begini. Aku seneng kalau kamu sering mengajakku nakal dan macam-macam. Tiga setengah tahun ini saja, Honey. Usai itu, kehidupan pernikahan kita akan memasuki level yang lebih serius. Bukan sekadar menjadi suami dan istri, tapi juga menjadi Mommy dan Daddy. Aku sudah membuktikan, sejauh aku nakal itu cuma sama kamu," ucap Elkan sembari memeluk Mira yang sekarang seperti koala, menempel erat kepadanya.
Masih memejamkan matanya, Mira tersenyum perlahan. Telapak tangannya mengusap perlahan dada bidang suaminya. Lantas perlahan, dia menengadahkan wajahnya.
"Aku sebenarnya kalem, Kak. Gak bisa terlalu nakal. Ini aja, malunya setengah mati," balas Mira.
Bagi wanita dengan karakter lembut dan sedikit introvert seperti Mira memang tidak mudah untuk mencoba hal yang baru. Sekarang, Mira saja mengakui bahwa dia begitu malu sebenarnya. Namun, bagaimana lagi terlanjur terjadi. Selain itu, sejak dirinya sakit, baru sekarang keduanya kembali menyatu. Mira menilai momen ini juga adalah momen yang tepat untuk bercinta dan saling berbagi kehangatan.
"Iya, tahu, Honey. Gini aja, aku udah suka banget. Kalau kamu pengen bilang aja. Gak usah nunggu aku yang berinisiatif. Aku pengen loh sekali-kali kamu yang mulai duluan kayak tadi," ucap Elkan.
Bukan sekadar berbicara, tapi Elkan juga memberikan akses untuk Mira. Kalau Mira menginginkan tinggal bilang saja. Toh, Elkan juga tidak akan keberatan. Dia siap memberikan apa pun yang Mira mau.
"Bilas yuk, Kak. Masak iya, kita mau di sini terus?" ajak Mira kemudian.
Akhirnya Elkan membuka kran penyumbat di bath up, membiarkan seluruh air di sana tersedot habis. Setelahnya, Elkan mengajak Mira untuk berdiri bersama di shower box. Jika tadi adalah air hangat, sekarang keduanya menikmati air dingin, membilas tubuh mereka berdua. Berdiri bersama di bawah guyuran air dengan tubuh yang sama-sama polos. Jika Elkan tampak percaya diri, Mira justru terlihat malu-malu.
Hampir sepuluh menit, mereka berbilas seolah mandi lagi dan keramas. Sekarang keduanya sudah berpakaian lengkap dan keluar dari kamar mandi. Duduk bersama di balkon sembari menatap langit Sydney yang mulai gelap.
"Lapar enggak Kak?" tanya Mira kepada suaminya.
Maklum, usai membakar energi membuat Mira menjadi lapar. Oleh karena itu, Mira bertanya kepada Elkan apakah Elkan juga lapar seperti dirinya.
"Lapar juga, Honey. Mau aku pesankan pizza?" tawar Elkan.
__ADS_1
"Boleh," balas Mira.
Akhirnya, Elkan mengambil handphonenya dan memesan Pizza. Selain itu, Elkan juga memesan Jus buah. Sebagai teman untuk menikmati pizza.
"Tunggu dulu yah, lima belas menit lagi sampai. Kamu sampai kelaparan yah?" tanya Elkan.
"Iya, habis mengeluarkan kalori," balasnya.
Elkan pun terkekeh geli jadinya. Namun, Elkan sendiri juga lapar. Sejak makan siang di kantin kampus, mereka belum makan lagi. Terlebih memang usai menikmati kegiatan panas, perut pun menjadi lapar jadinya.
Setelah lima belas menit, Pizza yang Elkan pesan sudah datang lengkap dengan minumannya.
"Cheese burst Pizza, Honey. Potongan pertama untuk kamu," ucap Elkan.
Sembari menikmati Pizza, Mira tersenyum perlahan. "Perasaan aku di Jakarta jarang makan Pizza. Di sini aku jadi sering makan Pizza loh. Terutama setiap usai gitu-gitu sama kamu, Kak. Kelihatannya jadi Pizza Time deh," ucap Mira.
Menurut Mira, setiap usai bercinta bercinta menu makanan yang dipesan Elkan adalah Pizza. Seolah makanan khas Italia itu menjadi makanan pengisi perut usai membakar energi.
"Apa iya? Gitu-gitu apa coba, Honey?" tanya Elkan dengan menatap Mira.
"Ya, abis kamu nakalin," jawab Mira dengan cepat.
"Jadi, yang nakal cuma aku, Honey?" tanya Elkan.
Mira tak segan untuk menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu nakal banget. Bikin leherku merah-merah," balas Mira.
__ADS_1
"Nakalnya cuma sama kamu, Honey," jawab Elkan kemudian.
"Ya, itu dimaklumi. Kalau sampai nakal sama yang lain. Awas. Aku, gak mau lagi sama kamu," balas Mira.
Elkan tersenyum dan memberikan gelengan kepala. Setelah itu, dia menaruh Pizza yang dia makan di tempatnya, lalu dia menangkup wajah Mira. Membuat wajah itu berhadap-hadapan dengannya. Elkan dengan Impulsif lantas mengecup bibir Mira untuk beberapa kali.
Cup. Cup. Cup.
"Itu, janji aku. Hanya akan nakal sama kamu," ucap Elkan dengan serius.
"Gak boleh ingkar," balas Mira.
"Tentu, percayai aku," balas Elkan.
Usai itu, Elkan mengurai tangannya dari wajah Mira. Dia sudah berjanji sejak dulu dalam hatinya. Tidak akan macam-macam dan berkomitmen penuh dalam kehidupan pernikahan mereka berdua.
"But, aku masih punya fantasi, Honey," kata Elkan tiba-tiba.
Mira menoleh menatap wajah suaminya. Fantasi apa yang dimiliki oleh suaminya itu.
"Fantasi apa, Kak?" tanyanya.
"Ngedate sama kamu pakai seragam SMA. Biar kerasa romansa pengantin SMA gitu," balas Elkan dengan terkekeh geli.
Tidak hanya Elkan, Mira juga terkekeh geli jadinya. Tidak mengira suaminya memiliki fantasi demikian. Semoga saja di lain waktu keinginan itu bisa direalisasikan bersama.
__ADS_1