Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Meledak dan Berhamburan ke Udara


__ADS_3

Napas Mira menjadi tertahan ketika Elkan mengeratkan pelukannya. Memang, sekarang Mira membeku di tempatnya. Bingung juga. Terkadang ucapan Elkan itu terkesan ambigu, tadi dia menyuruhnya tidur dan juga nanti siang keluar makan siang. Sekarang, justru menanyakan apakah dia capek dan terkait tidak akan segan-segan. Bahkan, bisa Mira dengar tegukan saliva di tenggorokan Elkan. Itu jugaMira sekarang berbaring di sisi Elkan, dengan kepalanya yang mendekat ke dada Elkan. Sehingga jarak tenggorokan ke dada yang tidak seberapa bisa Mira dengarkan.


"Ra, tidak apa-apa kan?" tanya Elkan.


Sekilas pemuda itu mengendurkan pelukannya, membuat Mira bisa sedikit bernapas dengan leluasa. Namun, sekarang Elkan beringsut dan menatap wajah Mira yang ada di hadapannya.


"Kak, aku takut," balas Mira.


Reaksi yang wajar untuk gadis seperti Mira. Tidak pernah tersentuh. Bahkan dari pelajaran Biologi saja, dia tahu bahwa ketika selaput itu terkoyak bisa menyebabkan rasa yang sangat sakit di sekujur tubuhnya. Membayangkan saja membuat Mira merasa takut.


"Aku akan pelan-pelan."


Seolah Elkan memberikan penegasan bahwa dirinya akan pelan-pelan sekarang. Mira tampak menggigit bibirnya sendiri. Sekadar pembicaraan seperti ini, membuatnya bingung.


"Sekarang Kak? Pagi ini?"


"Iya, sekarang ... aku tutup tirainya dulu," ucap Elkan.


Pemuda itu berdiri dan menutup tirai, memastikan apartemen studio mereka benar-benar aman. Pintu juga dia kunci dan dia menaruh tulisan "Don't Disturb" dari luar. Supaya tidak ada gangguan dari orang lain. Setelah itu dia mengambil tempat di sisi Mira. Mulai menggenggam tangan Mira, mendekatkannya ke wajahnya, lantas Elkan menjatuhkan sebuah kecupan di punggung tangan Mira.


Cup!


Gadis itu mengedikkan bahunya. Arah pandangannya seketika menunduk. Perasaannya seolah terombang-ambing. Ketika bibir Elkan menyentuh punggung tangannya, memberikan kecupan di sana, Mira merasakan dirinya bergetar.


Lantas, Elkan membawa satu tangannya dan menyisiri sisi wajah Mira. Sembari pria itu memangkas jarak wajah mereka yang tidak seberapa, inci demi inci dia pangkas. Hingga sekarang Elkan mendaratkan bibirnya dengan begitu lembut di atas bibir Mira. Kecupan itu begitu lembut, tapi untuk Mira seakan terjadi deburan ombak yang dahsyat mengguncang dirinya.


Berawal hanya dari satu sapaan lembut yang berupa kecupan itu, lantas Elkan menahan tengkuk Mira. Pemuda itu menelengkan kepalanya, membuka bibirnya, menjulurkan lidahnya. Lantas, Elkan bergerak dalam satu demi satu usapan basah di bibir Mira. Gadis itu menahan nafas. Sangat asing, tapi Mira mengakui dalam hati tubuhnya bergetar. Jari-jarinya menekuk dalam. Kecupan berpadu lu-matan Elkan di bibirnya seakan membuat Mira seakan tidak bisa berpikir lagi. Lenyap sudah rasa lelah dan kantuk. Tergantikan dengan sinyal asing yang membuat tubuhnya meremang.


"Kak Elkan ...."


Mira tanpa sadar justru melakukan hal tersebut. Dia mengerang dan entah bagaimana erangan itu bisa lolos begitu saja dari tenggorokannya. Mira sampai membuka matanya sesaat. Dia merasakan respons tubuhnya yang aneh, dia merasa terpejam dalam buaian permainan lidah dan bibir yang Elkan lakukan. Sekali saja mengerjap, dan Mira sebenarnya malu karena suaranya itu terkesan erotis.


Tubuh Mira kian terombang-ambing di lautan lepas, mana kala dia merasakan usapan lidah Elkan di sepanjang bibirnya, lidah yang hangat melakukan penjelajahannya, mengu-lum kedua belah bibir Mira dan pergerakan samar, tapi benar-benar membuat tubuh terasa memanas.

__ADS_1


Elkan pun berubah menjadi pemuda yang begitu expert sekarang, dia menekan bibir Mira. Kemudian dia menggunakan ujung lidahnya untuk menyelinap di antara bibir yang memberilah setitik celahnya. Kembali, Mira melenguh, ada rasa hangat, rasa panas, ada rasa manis yang berpadu dalam usapan yang basah dan benar tak terelakkan.


Sedikit bergerak dan ada dorongan samar, hingga Elkan membuat Mira berbaring di atas ranjang, dan pemuda itu segera menindihnya. Tangan Mira bergerak tak tentu arah di atas sprei yang halus itu, ketika bibir Elkan mengecup bibirnya, menyusuri pipinya, lantas bermuara ke lehernya.


"Kak Elkan ...."


Elkan kian bersemangat. Pemuda itu merasa tidak bisa berhenti. Toh, lagipula bukankah keduanya halal untuk satu sama lain? Tidak ada salahnya juga bercinta, walau usia mereka masih begitu muda. Justru sisi-sisi primitif seorang Elkan Agastya tergugah sekarang. Nalurinya menuntunnya untuk bisa melakukan yang lebih.


Jejak-jejak basah dan hangat dari bibir Elkan kini menyapa leher Mira yang jenjang dan harum. Menabur sentuhan dengan bibirnya. Membuat Mira dengan serta-merta mengangkat wajahnya. Ya, Mira seolah memberikan izin tak terucap untuk Elkan untuk terus melakukan kegilaannya.


"Oh, Mira ... Sayang!"


Mira seketika meremas sprei, dadanya sontak naik dalam pergerakan yang amat sensual ketika Elkan mengubah kecupan di leher Mira menjadi hisapan. Ya, Mira bagai tersedot ke dalam. Ada rasa sakit dan perih yang tersisa di leher. Namun, itu tidak beberapa lama karena Elkan lantas memberikan rabaan. Mengusap lengan Mira dengan gerakan yang samara. Rabaan yang tentu kian meninggalkan kegelisahan untuk Mira.


"Oh, astaga," ucap Elkan.


Sekarang pemuda itu ingin menghantarkan gelombang di tubuh Mira. Dia membawa tangannya untuk menyentuh perlahan gundukan indah di dada Mira. Tangannya diam di sana untuk sesaat. Hingga akhirnya kelima jarinya dengan sengaja meremas bulatan indah miliknya.


Kaki Mira bergerak dengan makin gelisah. Sementara Elkan kian meremasnya, mengusapnya. Lebih dari itu, Elkan menarik kaos yang dikenakan Mira. Pemuda itu bisa melihat epidermis sang istri yang begitu halus. Elkan merasa gila. Sensasi bulatan indah di tangannya membuat Elkan seakan tak bisa bernapas. Gairahnya berkobar. Tak bisa berhenti, dia melepaskan wadah itu, melihat dengan jelas bulatan indah yang tidak seberapa itu, melihat bulatan merah muda di tengahnya. Elkan melepas sendiri kaos yang dia kenakan, membuat tubuhnya shirtless, lantas dia menunduk, meremas bulatan indah perlahan, hingga lantas dia menyapanya dengan bibirnya. Menghisapnya, membuainya, dan memberikan gigitan demi gigitan di puncak itu. Desakan gairah kian menyulut sisi primitif Elkan.


Pemuda itu kembali menunduk dan mencium bulatan indahnya dengan lebih memburu. Di detik berikutnya, Elkan membuat keduanya sama-sama polos. Mira sangat malu sekarang.


"Pakai ... selimut ... Kak. Aku ... malu," ucapnya dengan terengah-engah.


Menuruti apa yang Mira mau, Elkan mengubah posisi untuk menarik selimut. Namun, dalam posisi itu Mira justru bisa melihat pusaka Elkan yang tegah dan begitu menantang. Dengan segera Mira membuang arah pandangannya. Begitu malu. Pengalamannya pertamanya melihat senjata laras panjang itu.


Elkan berusaha mengendalikan suasana. Pria itu memastikan selimut menutupi keduanya, lantas dia bergerak turun. Tubuhnya terbenam di balik selimut. Lantas, dia melakukan sapaan yang basah dan lembut di cawan surgawi yang indah milik Mira, melihatnya dan pemuda itu tersenyum lebar. Benar-benar terpukau dengan keindahan itu.


Kini tak ada yang Elkan tunggu, dia menjelajahi lembah itu dengan lidahnya. Memberikan tusukan demi tusukan, usapan demi usapan, bahkan Mira beberapa kali menghela nafas dan nyaris menjerit. Sesaat kemudian, Mira merasakan tubuhnya melayang, ringan, dan akhirnya mengejang.


"Kak ... El ...."


Sangat indah rasa pertama yang menyapa Mira, hingga Elkan kembali menampakkan wajahnya dan mengusapi bibirnya sendiri. Lantas dia mengambil tempat di tengah-tengah Mira. Memegangi pinggul Mira dengan tangannya.

__ADS_1


"Tahan sebentar yah ...."


Di sini dada Mira terasa berdebar-debar. Mungkinkah ini adalah inti dari pelajaran biologi yang pernah dia pelajari? Mira menguatkan dirinya. Hingga dia merasakan tusukan di cawan surgawinya.


Satu kali gagal. Elkan menatap Mira yang mulai membuka mata dan merasa was-was. Bahkan Mira juga menutup area dadanya dengan tangannya karena malu dengan Elkan.


"Sakit?"


Elkan bertanya begitu lembut dengan menghentak ke dalam. Mira menganggukkan kepalanya. Memang rasanya begitu sakit. Di detik berikutnya. Mira menangis dan menyebut nama Elkan.


"Kak Elkan!"


Semua itu mana kala pusaka Elkan mulai bisa mengoyak selaput di sana. Elkan menggeram. Baru ujungnya saja, rasanya sudah begitu membuat Elkan gila.


"Ya, Sayang ... tahan sebentar."


Elkan melakukan dorongan lagi. Melaju masuk. Membuat Mira untuk bisa menerimanya sepenuhnya. Sejujurnya Elkan merasa kasihan, terlebih melihat sendiri percikan darah di sana. Namun, sangat sayang jika berhenti. Akhirnya, dia menunggu. Mengecup kening, mata, dan bibir Mira. Berusaha untuk memberi Mira kekuatan dan menghilangkan rasa sakit itu.


"Aku cinta kamu, Mira."


Disertai dengan hentakan mendalam dan gerakan maju dan mundur. Menghujam dan menusuk. Benar-benar memberi dan menerima. Bahkan Elkan menyingkirkan tangan Mira dari area dadanya. Membawa tangan Mira untuk memeluk dirinya.


"Balas cintaku, Mira ... katakan I Love U," ucap Elkan.


Dengan menangis dan sesegukan Mira akhirnya memenuhi apa yang Elkan mau. "Hiks. I ... Love ... U, Kak!"


Elkan kian bergerak. Lantas dia menunduk dan mengecup bibir Mira. Hingga tangisan itu berangsur sirna. Bibir keduanya saling menyebutkan nama keduanya, dan saling mende-sah dalam sulutan gairah.


Itu adalah rasa yang benar-benar penuh.


Elkan keluar masuk berkali-kali dalam gerakan yang padu dan amat teratur. Tetes demi tetes peluh pun hadir dengan sendirinya, menghadirkan kesan liat dan basah.


Sembari mempertahankan gerakannya. Elkan merengkuh tubuh Mira semakin kuat. Semakin mempertahankan Mira, demi membawa pusakanya memasuki Mira dengan mulus. Tubuh keduanya bergetar. Sekarang keduanya laksana balon yang pecah. Meledak! Di mana isi dari balon itu berhamburan ke udara. Menjadi berkeping-keping yang tak mampu di satukan itu.

__ADS_1


Kenikmatan pertama. Sensasi yang membutakan mata. Hal terindah untuk Mira dan Elkan. Sah!


Like, Komentar, dan Vote yah^^


__ADS_2