Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Tiba di Jakarta


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan udara beberapa jam lamanya dengan pesawat udara. Sekarang, Elkan sudah tiba di Jakarta. Begitu pesawat sudah landing, yang Elkan lakukan adalah menghidupkan handphonenya terlebih dahulu. Setelah itu, yang Elkan lakukan adalah segera menghubungi Mira. Sebab, baru beberapa belas jam saja, Elkan sudah begitu rindu dengan istrinya itu.


[To: Honey]


[Honey, aku sudah touch down di Jakarta.]


[Sekarang di Sydney, kamu baru ngapain?]


[Maaf, aku harus menyelesaikan agenda di Jakarta dulu yah.]


[Aku janji, begitu semuanya sudah selesai. Aku akan kembali ke Sydney, ke sisimu.]


[Selalu rindukan aku. I Love U, Honey!]


Usai itu, Elkan keluar dari pesawat. Tampak begitu santai, karena Elkan tidak suka terburu-buru. Dia memilih untuk santai, membiarkan penumpang yang lain turun terlebih dahulu. Tidak perlu mengambil koper, karena Elkan hanya membawa koper berukuran kabin, sehingga, bisa masuk ke dalam kabinnya.


Selain itu, sudah ada sosok spesial yang menjemput Elkan sekarang yaitu Papa Abraham. Sengaja memang Elkan meminta mertuanya untuk menjemputnya. Itu karena Elkan berpikir bahwa Mama Marsha dan Papa Abraham pastilah kangen dengan Mira. Sebagai gantinya, dia menghubungi Papa Abraham dan meminta tolong untuk dijemput di bandara. Dalam pikiran Elkan, ketika dia dan Mira sudah menikah justru mereka akan bertukar orang tua. Orang tua Mira adalah orang tuanya, dan orang tuanya adalah orang tua Mira. Sehingga, tidak perlu canggung dan sungkan kepada mertua sendiri. Sebab, Elkan juga tahu bahwa Papa Abraham dan Mama Marsha sudah seperti orang tuanya sendiri.


Elkan berjalan dengan menyandang ransel di bahunya. Selain itu, dia mendorong satu koper berukuran kabin, langsung menuju ke pintu kedatangan. Begitu sudah keluar, ada lambaian tangan ke arahnya. Siapa lagi, kalau bukan Papa Abraham yang menjemputnya.


"Papa," sapa Elkan dengan memberi salam takzim dan memeluk Papa mertuanya itu.

__ADS_1


"El," balas Papa Abraham yang memeluk menantunya itu dan menepuk bahunya.


Rasanya tidak lengkap memang ketika Elkan pulang dan tidak bersama dengan Mira. Namun, Papa Abraham bisa memahami itu. Bukan karena putrinya tidak sopan, tapi memang sekarang belum waktunya liburan kuliah, selain itu juga Mira masih ada tugas presentasi untuk dua mata kuliah.


"Penerbangan aman?" tanya Papa Abraham.


"Yah, lumayan aman, Pa ... cuma hati Elkan tertinggal di Sydney. Gak bisa diajak ke Jakarta. Sudah kangen sama putrinya Papa," balas Elkan dengan cengengesan.


Memang begitulah Elkan. Di hadapan mertuanya pun, Elkan bisa bercanda. Benar-benar menempati sang Papa mertua seperti Papa kandung sendiri. Di sisi lain, Papa Abraham juga tak keberatan justru bagus ketika bersahabat dengan menantu sendiri. Toh, untuk Papa Abraham Elkan dan Mira itu sama. Sama-sama anaknya. Sama-sama dia sayangi. Tidak membedakan antara anak dan menantu.


"Kamu bisa saja. Yuk," ajak Papa Abraham.


"Iya, Mama kamu kan bantuin di rumah kamu dulu. Nanti Mama tunggu di rumah kok. Sudah ada olahan seafood yang Mama siapkan," balas Papa Abraham.


Akhirnya, Papa Abraham mengajak Elkan untuk masuk ke dalam mobil. Dia sendiri yang mengemudikan mobilnya. Siap mengajak menantunya untuk pulang ke rumahnya.


"Ke rumah Papa Bram atau Papa Belva, El?" tanya Papa Abraham.


"Tidur di rumahnya Papa Bram dulu yah. Sebagai ganti karena Mira tidak bisa ikut pulang," balas Elkan.


"Oke, siap. Mama dan Papa sudah bersihkan kamarnya Mira. Kamu gak apa-apa kan tidur sendiri di kamarnya Mira?" tanya Papa Bram.

__ADS_1


"Ya, sebenarnya kenapa-napa, Pa. Maklum, di Sydney, selalu memeluk istri tercinta," balas Elkan.


Lagi-lagi Papa Abraham tertawa dengan jawaban Elkan itu. Namun, senang ketika Elkan juga menunjukkan perasaannya kepada Mira. Mungkin Elkan masih muda juga, sehingga memang seperti itu.


Beberapa saat kemudian tiba di kediaman mertuanya. Rupanya yang menyambutnya bukan hanya Mama Marsha dan Marvel, melainkan ada Mama Sara dan Papa Belva juga. Tampak ada sambutan berupa pelukan dari Mama Sara. Kangen sekali dengan putranya itu.


"Welcome home," ucap Mama Sara.


Walau itu bukan rumahnya, melainkan rumah besannya. Namun, untuk Elkan mau rumahnya sendiri atau rumah mertuanya tetap saja adalah rumah untuk Elkan. Begitu juga ada pelukan dari Papa Belva. Lantas dilanjutkan dengan Mama Marsha yang juga memeluk Elkan.


"Sendiri El?" tanya Mama Marsha.


Rasanya tetap ada kurang begitu melihat Elkan, tapi tidak melihat Mira. Namun, mereka juga memaklumi karena kesibukan Mira kuliah. Asalkan ada salah satu perwakilan dari Elkan dan Mira yang pulang.


"Iya, Mira menitipkan salam untuk Mama dan Papa semuanya. Maaf, Mira belum bisa pulang, semua itu karena Mira masih ada tugas presentasi dua mata kuliah," ucap Elkan.


"Tidak apa-apa, El. Yang penting kamu mendatangi akad dan resepsi kakakmu saja," balas Papa Belva.


"Sama ingin main ke Coffee Bay sebentar besok, Ma. Biar Elkan bisa belajar langsung dari tempatnya," balas Elkan.


Ya, ketika ada di Jakarta. Elkan juga akan sekalian mempelajari skema bisnis Coffee Bay. Lagipula, hanya satu tahun lagi Elkan lulus. Jika belajar dan mempelajari diri dari sekarang, pastilah nanti dia siap terjun. Selama di Jakarta, Elkan akan tinggal di rumah mertuanya. Sementara kalau siang atau waktu tertentu dia juga tinggal menuju ke rumah orang tuanya sendiri. Tidak menjadi masalah, karena mertua dan orang tuanya adalah tetanggaan.

__ADS_1


__ADS_2