
Sekarang, Elkan tidak akan mengasihani Rosaline. Elkan juga sejak dulu hanya menganggap Rosaline sebagai temannya dan tidak pernah lebih. Namun, Rosaline lah yang beranggapan lebih. Padahal, Elkan tidak pernah menganggap semuanya serius.
"Kamu keterlaluan, El. Susah payah aku mendapatkan kabar tentangmu untuk pergi ke Sydney. Namun, aku malahan dengan wanita itu," sahut Rosaline dengan menangis.
"Kamu yang tidak sehat, Line. Kamu menganggap bahwa kebenaran itu hanya ada di dunia sekitarmu. Padahal duniamu itu fiktif. Dunia kamu yang kamu bangun sendiri itu penuh tipu-tipu," balas Elkan.
Memang Rosaline seakan buta dengan kebenaran yang ada di sekitarnya. Hanya membangun dunia sendiri di mana hanya asumsinya saja yang dia anggap benar. Hanya sekadar dunia tipu-tipu.
"No, Elkan. Aku berbicara dengan serius. Aku menyukaimu sejak dulu," balasnya.
"Kamu tidak bisa mengelak lagi, Line. Kamu hanya tidak waras," balas Elkan.
Ketika Elkan mengatakan demikian, Rosaline tertawa terbahak-bahak. Rasanya sampai membuat Elkan menggelengkan kepalanya. Entah, di mana Elkan semakin benar bahwa Rosaline itu tidak sepenuhnya waras.
"Kamu keterlaluan, Elkan. Keterlaluan," pekik Rosaline dengan begitu keras.
"Line, aku sarankan kamu mendapatkan pengobatan secara intensif. Aku yakin, kalau kamu mau berobat kamu pasti bisa sembuh," balas Elkan.
Tidak menjawab, nyatanya Rosaline justru tertawa. Dia merasa ucapan Elkan itu hanya sebatas lelucon saja. Namun, tawa itu justru terlihat mengerikan. Elkan saja sebagai pria sampai bergidik ngeri karenanya.
"I am Fine and I am oke," balas Rosaline masih dengan tertawa.
Namun, di satu sisi Elkan menggelengkan kepalanya. Pria itu kemudian mengeluarkan selembar kertas dari tas ranselnya. Menunjukkannya saja kepada Rosaline.
"Kamu tidak baik-baik saja, Line. Kamu mengidap Bipolar Disorder," jawab Elkan.
Ya, mengenai peretas yang dia hubungi, Elkan justru mendapatkan fakta bahwa Rosaline mengalami Dissociactive Identity Disorder (DID). Dissociactive Identity Disorder adalah Kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan kesehatan mental, ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya. Pengidap gangguan ini mengalami kepribadian yang berubah-ubah, tetapi hal ini tidak disadarinya.
__ADS_1
Gangguan ini ditandai dengan gangguan memori, kesadaran, atau kepribadian, yang umumnya dipicu oleh stres atau kejadian traumatis yang dialami orang tersebut pada masa kecilnya. Bentuk trauma ini dapat berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang.
Awalnya Elkan juga tidak mengira bahwa Rosaline berkepribadian ganda. Kala bagian lain dari dirinya yang muncul, itulah membuat Rosaline hilang kendali hingga akhirnya menusuk Mira. Dengan kondisi kesehatan itulah, Elkan juga turut melaporkan Rosaline ke pihak kampus. Itu terbukti bahwa Rosaline tidak sehat secara mental. Akan tetapi, bisa saja di lain hari nanti ada orang lain atau mahasiswa lain yang akan menjadi korbannya Rosaline.
"Itu tidak benar, Elkan," sangkal Rosaline sekarang.
"Tidak, aku mendapatkannya dan kamu juga menunjukkan tidak sehat dan stabil secara mental, Line. Sebaiknya pulanglah ke Singapura. Jalani perawatan dan terapi bersama konselor. Aku yakin bahwa kamu akan sembuh," ucap Elkan.
Jika gangguan mental sampai membuat seseorang bisa menyakiti orang lain, tandanya itu adalah sebuah gejala yang sangat serius. Lagipula menurut Elkan, mungkin saja dengan gangguan mental yang diderita Rosaline pihak berwajib pun akan sukar untuk memberikan hukuman. Sehingga, Elkan mengatakan lebih baik Rosaline menempuh pengobatan dan terapi konseling secara intensif. Sebab, pastilah itu masih bisa disembuhkan.
"Omong kosong, Elkan. Semua yang kamu ucapkan itu omong kosong," balas Rosaline.
"Tidak. Aku sudah mempelajarinya, kalau kamu mau sembuh, pastilah ada jalan untuk sembuh," balas Elkan.
Usai itu, Elkan berdiri karena waktu berkunjung juga hampir selesai. Pria itu berpamitan dengan Rosaline.
Namun, Rosaline menangis dan menggelengkan kepalanya. Tidak ingin Elkan pergi. Sebab, bagaimana pun Rosaline merasa hanya dia yang layak untuk memiliki Elkan, bukan Mira atau wanita lainnya.
"Elkan, please don't go. Elkan ... El, Elkan ...."
Suara Rosaline menggema, tapi sekali-kali pun Elkan tidak akan menoleh ke belakang. Dia akan mengabaikan teriakan histeris Rosaline. Baginya, semua dengan Rosaline telah usai. Dia hanya berharap yang terbaik saja. Untuk lukanya Mira pastilah Elkan akan merawat Mira sampai sembuh. Untung saja, sekarang masih liburan semester. Masih ada dua pekan, dan Elkan yakin dalam dua pekan ini pastilah Mira akan pulih dan bisa memasuki Semester dua dengan baik.
Usai menyelesaikan semuanya, Elkan segera bergegas untuk pulang. Selain itu, Elkan ingat bahwa Mira pastilah juga lapar. Sehingga, Elkan mampir membeli makanan di Chinesse Food yang halal tentunya di perjalanan, sebelum pulang ke unitnya.
Hampir sore hari, barulah Elkan sampai di unit. Pria itu segera membuka pintu unitnya yang memang dia kunci dari luar sesuai dengan permintaan Mira. Begitu pintu terbuka, rupanya Mira sedang duduk di ranjang, dengan punggung yang bersandar di head board.
Keduanya saling melempar senyuman. Hanya beberapa jam dan sudah ada rindu. Oleh karena itu, Elkan memilih menaruh tas ranselnya, mandi sebentar, barulah dia menaiki ranjang perlahan.
__ADS_1
"Lama menunggumu?" tanyanya.
"Tidak terlalu, jangan khawatir, Kak. Aku bisa dan pasti menunggumu," balas Mira dengan tersenyum.
Elkan pun tersenyum dia mengusapi puncak kepala Mira. Melihat istrinya itu, ada rasa cinta berbalut rindu. Hingga Elkan mendekat dan mengecup pipi Mira.
Cup! Cup!
"Baru beberapa jam aku keluar sendiri tanpa kamu, aku sudah merasa rindu. Bagaimana besok kalau kita sudah lulus kuliah, kembali ke Jakarta dan aku bekerja pagi sampai sore. Pasti aku juga sangat rindu kepadamu," ucap Elkan.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Elkan membuat Mira tersenyum. Namun, pasti bisa mengatasinya. Sebab, ketika masa kuliah berakhir, mereka akan memasuki masa baru, masa bekerja dan memiliki anak-anak yang lucu mungkin.
"Kan nanti aku juga, Kak. Jadi, kita alihkan semuanya. Melepas rindunya di malam hari," balas Mira.
"Lalu, gak pengen punya baby?" tanya Elkan kemudian.
"Ya, pengen. Cuma kan kerja dulu, lepas kontrasepsi dulu. Nanti kalau hamil sudah besar, aku mungkin akan resign. Begitu sih," balas Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Oke deh, aku manut aja sama Nyonya Elkan Agastya. Penting ya, jangan menunda terlalu lama. Memiliki anak ketika usiamu baru 22 atau 23 tahun enggak keberatan kan, Honey?"
Dengan cepat Mira menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak keberatan kok Kak. Program baby aja yuk, Kak. Sekali dibuahkan di luar bisa dua baby kembar. Gitu. Lucu deh kayaknya," balas Mira.
Elkan tertawa mendengar ucapan Mira itu. Namun, juga sebenarnya lucu jika memiliki bayi kembar. Jika dibuahkan di luar kemungkinan bisa mendapatkan baby kembar. Walaupun tidak mudah jika menginginkan kembar fraternal atau cowok dan cewek.
"Boleh, apa pun maunya Nyonya, boleh."
Setelah apa yang berlalu, sekarang Elkan hanya perlu menunggu kabar dari kampus. Semoga saja yang baik itulah yang terjadi, selain itu juga Elkan akan fokus untuk merawat Mira sampai luka jahitnya benar-benar sembuh.
__ADS_1