Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Totalitas Merawat Istri


__ADS_3

Elkan menyadari dengan bekas jahitan di perut Mira, tentu saja akan membuat Mira sakit dan terganggu untuk beraktivitas. Sama seperti malam itu, untuk tidur dan hendak miring ke kanan saja tidak bisa. Semua itu juga karena, luka yang Mira dapatkan ada di sebelah kanan.


"Susah tidur?" tanya Elkan yang memperhatikan Mira yang belum tidur. Jujur, berbaring telentang terus juga tidak enak. Jika berbaring ke kiri terus juga pegal. Sehingga, sakit juga di punggung dan sekitaran leher.


"Hmm, iya, Kak ... capek di punggung dan leher," balasnya.


"Sabar yah, soalnya lukamu ini agak ke pinggang. Jadi kalau untuk tidur miring ke kanan juga sakit. Tahan dulu semingguan mungkin," balas Elkan.


Mira kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, aku akan bersabar. Yang penting sih sudah berada di unit. Setidaknya, bisa melukin kamu," jawab Mira.


Mendengar apa yang baru saja diucapkan Mira, Elkan pun tersenyum. Namun, dia setuju ... ketika di Rumah Sakit kemarin, mereka harus pisah ranjang. Elkan tidur di sofa, sementara Mira tidur di brankar. Sangat tidak nyaman. Oleh karena itu, Mira memang ingin pulang. Rawat jalan di rumah. Setidaknya bisa tidur bersama dengan suaminya. Bisa memeluk suaminya juga.


"Honey, kamu mulai bucin yah ke aku?" tanya Elkan dengan menatap wajah Mira. Bahkan sekarang Elkan senyam-senyum sendiri.


"Enggaklah ... B aja," balas Mira.


Elkan sekarang menganggukkan kepalanya. "Oh, gitu ... jadi B aja. Gitu kok, ada wanita lain yang menjadikan aku fantasinya, kamu gak suka?" tanya Elkan sekarang.


Mira sudah manyun sekarang. Dia tahu, maksud Elkan supaya dia bisa jujur. Namun, sungguh itu seakan membuat Mira harus mengingat sosok Rosaline lagi. Padahal sekarang sudah malam dan sudah waktunya untuk tidur.


"Nyebelin banget sih, Kak ... emang Kakak rela apa kalau ada pria yang berfantasi tentang istrinya sendiri. Nyebelin!"


Mira terlihat sekarang, sementara Elkan justru tersenyum. Lantas, Elkan beringsut dan membelai sisi wajah Mira. Namun, Mira yang sudah kesal memilih untuk membuang muka. Terlanjur sebal.


"Bercanda, Honey. Maaf yah, aku bercandanya keterlaluan. Maaf," balas Elkan.


"Gak, sebel," balas Mira.

__ADS_1


Elkan kemudian sekarang duduk, dan meminta maaf kepada Mira. "Sudah, jangan sebel. Aku yang salah. Maaf yah ... maaf," ucap Elkan.


Mira juga beringsut dan sekarang memeluk Elkan, mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya, sembari sesekali menghirupi aroma maskulin dari tubuh Elkan. "Jangan kayak gitu, Kak ... kan aku sedang berusaha melupakan. Gak lucu tahu," balas Mira.


"Iya, i am so sorry. Aku kan cuma bercanda. Kalau kamu beneran bucin, ya tidak apa-apa. Aku tidak menolaknya," balas Elkan.


Mengambil jeda sesaat, Elkan memeluk Mira dengan mengusapi punggung istrinya yang masih memeluknya itu. Senang ketika Mira sebal tidak terlalu lama sebal dan sekarang justru memeluknya.


"Maaf yah ... sorry malam-malam bikin kamu sebel," ucap Elkan lagi.


"Iya, dimaafkan. Tidak apa-apa kok," balas Mira kemudian dengan mengurai pelukannya.


"Mau bobok? Diganjal bantal di punggungnya, aku temenin sampai kamu bobok," ucap Elkan.


Sekarang Elkan menaruh beberapa bantal punggung Mira. Usai itu, Elkan beralih posisi supaya Mira bisa miring ke kiri saja yang memeluknya. Dengan demikian luka di sisi kanan itu tidak akan terasa begitu sakit.


Sembari memeluk Mira, Elkan mengusapi puncak kepala hingga lengan Mira. Berharap bahwa Mira akan bisa tertidur. Ini juga salah satu caranya untuk bisa merawat Mira. Sebisa mungkin, dia akan merawat Mira sampai Mira sembuh nanti.


Menunggu sampai Mira terlelap, barulah Elkan mendaratkan sebuah kecupan di kening Mira. Chup!


"Met bobok, Honey. Sabar dulu yah. Semoga kamu segera pulih. Jangan takut, aku akan selalu memeluk kamu, merawat kamu," ucap lirih dengan mencium pipi Mira sekarang.


***


Keesokan harinya ....


Elkan bangun terlebih dahulu, dia segera menyiapkan sarapan untuk Mira. Sekadar membuat sandwich dan nanti tinggal menuang susu segar dalam kemasan UHT saja. Itu juga, karena Mira masih sakit, sehingga dia berinisiatif untuk membuat sarapan terlebih dahulu.

__ADS_1


Hampir setengah delapan waktu Sydney, Mira baru terbangun. Wanita itu meraba bagian sisi ranjang yang kosong, mencari keberadaan suaminya. Rupanya memang Elkan sudah bangun. Akhirnya, Mira terbangun dan Elkan pun segera menyapa istrinya itu.


"Morning, Honey ... sudah bangun?" sapanya.


"Hmm, morning, Hubby ... aku cariian kamu. Kok kosong," balas Mira.


"Aku sengaja bangun terlebih dulu dan membuat sarapan. Akhirnya, kamu bisa tidur," balas Elkan.


Mira pun tersenyum, "Berkat kamu juga yang membuat aku bisa tidur, meluk aku," balasnya.


"Mau sarapan atau mandi dulu?" tanya Elkan sekarang.


"Mandi dulu deh, Kak ... nanti baru sarapan," balas Mira.


Elkan menyiapkan wastafel dan air hangat, lalu washlap untuk Mira. Semua peralatan mandi Mira juga dia dekatkan di dekat wastafel. Itu juga karena Mira hanya bisa melap tubuhnya saja. Memberi sabun, dan membilasnya dengan washlap. Sebab, lukanya tidak boleh kena air.


"Mau dimandiin?" tawar Elkan sekarang.


"Enggak. Mandi sendiri saja. Malu," balas Mira.


"Aku sudah lihat semua juga loh, gitu ya masih malu. Sudah tahu semuanya hampir tujuh bulan loh," balas Elkan.


Mira menggelengkan kepalanya. "Ya, tetap saja malu, Kakak. Nanti siang antarkan ke salon ya Kak ... mau cuci rambut saja. Gak bisa keramas di sini soalnya."


Ya, Mira kesusahan untuk mencuci rambutnya. Sehingga, dia berniat menuju ke saloin dan mencuci rambutnya. Dengan begitu tidak akan membasahi badannya. Hanya rambutnya saja yang basah.


"Iya, siap, Honey."

__ADS_1


Apa pun yang Mira butuhkan, Elkan bisa menolong. Selama masa liburan sampai Mira benar-benar sembuh, Elkan akan siaga untuk merawat istrinya itu.


__ADS_2