
Setibanya di Jakarta, ada sesuatu yang berbeda yang dirasakan Elkan. Biasanya akan ada Mira yang berada di rumahnya. Walau hanya sepekan, tetapi rasanya keberadaan Mira begitu mewarnai kediaman Agastya. Malam itu, setibanya dari Semarang, Elkan justru memasuki kamar tamu yang ditempati Mira selama ini.
Pemuda itu tersenyum mana kala masih menemukan beberapa buku Mira di sana, pena, dan juga kuncir rambut milik Mira. Lantaran menikmati isi kamar itu, ketika Mama Sara memanggil namanya, Elkan justru tidak menyahut.
"El, ngapain kamu di sini? Bukan di kamarmu," tanya Mama Sara.
"Hm, biasanya ada yang nempatin, Ma," balas Elkan.
Mama Sara pun tersenyum. "Sudah kangen? Baru semalam juga, El ... besok kan ketemu lagi sekolah. Sudah tinggal tiga bulan kan, sekolah kalian."
Elkan pun menganggukkan kepalanya. "Kangen, Ma ... padahal kemarin Elkan rencananya mau ngajak Mira jalan-jalan gitu ke Mall. Nonton film, beli popcorn, beli es krim. Malahan ada kabar duka, Ma," balasnya.
"Ya, kita juga tidak pernah tahu, El," balas Mama Sara.
"Iya, Ma," balas Elkan.
Akhirnya Elkan keluar dari kamar itu dan kembali menutupnya. Sementara, Mama Sara menatap putranya itu. "Dijaga Miranya ya, El ... terlebih dahulu dari dua temen kamu di sekolah itu. Jangan sampai kejadian lagi sama Mira. Tinggal tiga bulan juga kan," ucap Mama Sara.
Yang Mama Sara harapkan adalah Mira tidak lagi menjadi korban kekerasan di sekolah. Lagipula, waktu sekolah juga hanya tinggal tiga bulan, Mama Sara berharap baik Mira dan Elkan bisa menyelesaikan masa SMA-nya dengan baik.
***
__ADS_1
Hari Senin tiba …
Hari Senin ini menjadi hari yang sudah dinanti oleh Elkan. Pemuda itu, lebih pagi untuk menjemput Mira di rumahnya. Terlihat Elkan lebih bersemangat karena memang sudah kangen dengan Mira. Namun, karena Mira belum keluar dari rumahnya, kali ini Elkan yang memutuskan untuk memarkirkan mobilnya dan kemudian masuk ke dalam rumah mertuanya.
“Assalamualaikum,” sapa Elkan dengan mengetuk pintu kediaman Narawangsa.
“Waalaikumsalam,” jawab Mama Marsha dan Papa Abraham yang menyahut serempak.
"Pagi Mama dan Papa, mau jemput Mira," balasnya.
"Hari ini, Mira libur dulu, El ... semalam abis dari Semarang, Mira demam. Jadi, Mira izin sekolah dulu. Justru Mama dan Papa mau titip surat izin untuk Wali Kelasnya," ucap Mama Sara.
Elkan tampak bingung. Bukankah semalam begitu dari bandara, Mira masih terlihat sehat dan tidak terjadi apa-apa. Namun, sekarang justru Mira sakit.
"Boleh," jawab Mama Marsha.
Akhirnya Elkan pun diantar Mama Marsha masuk ke dalam kamarnya Mira, di sana Mira tampak berbaring. Wajahnya pucat dan juga badannya merasa tidak enak.
"Pagi, Ra," sapa Elkan begitu memasuki kamar itu dan Mama Marsha memilih untuk keluar.
"Kak," balas Mira dengan suara lirih. Mira hendak beringsut untuk duduk dan bersandar di headboard. Akan tetapi, Elkan menahannya.
__ADS_1
"Tiduran aja, Ra," balas Elkan.
Mira pun menganggukkan kepalanya. "Maaf, aku sambil tiduran," balas Mira.
"Tidak masalah, Ra ... kok kamu bisa demam?" tanya Elkan.
"Iya, Kak ... kecapekan mungkin," balasnya.
"Mau aku anter ke Dokter?"
"Habis ini mau dianter Papa ke Dokter kok, Kak," balasnya.
"Ra, apa aku izin saja yah ... ngrawat kamu di sini," balas Elkan.
Mendengar apa yang Elkan sampaikan, Mira menggelengkan kepalanya. "Jangan, kamu masuk aja, Kak. Nanti kalau pulang sekolah ke sini tidak apa-apa," balas Mira.
"Ya sudah, istirahat dulu yah. Kabarin aku jika sudah dari Dokter yah," balasnya.
"Iya Kak," jawab Mira.
Sebelum berpamitan, Elkan mengulurkan tangannya menyentuh kening Mira, demamnya sudah turun. Walau demikian, wajah Mira masih kelihatan pucat. Dari kening, telapak tangannya turun dan membelai sisi wajah Mira. Di sana gadis itu tertegun dan menahan nafasnya. Begitu gugup ketika tangan Elkan membelai sisi wajahnya. Jantungnya pun berdebar-debar, sampai keningnya menjadi berkeringat begitu saja.
__ADS_1
"Get well soon ya Istri," ucap Elkan kemudian.
Mira tidak mampu menjawab. Hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tertegun dengan tindakan Elkan baru saja. Hingga akhirnya, Elkan benar-benar keluar dari kamarnya dan akan berpamitan dengan mertuanya untuk berangkat ke sekolah.