
Sepanjang perjalanan Mira masih menangis. Untung saja Mama Sara sangat baik kepada Mira. Ketika menantunya itu menangis, Mama Sara selalu menguatkan Mira.
Sebagai seorang ibu, Mama Sara sendiri merasakan kesedihan di dalam hatinya. Dia juga kepikiran dengan Elkan. Hanya saja, Mama Sara juga harus menguatkan Mira. Menantunya itu butuh dikuatkan dan juga ditenangkan. Oleh karena itu, Mama Sara memilih untuk bisa menguatkan Mira terlebih dahulu.
"Kita lihat dulu kondisi Elkan, Ra. Banyakin berdoa, semoga kondisi Elkan tidak terlalu parah," kata Mama Sara.
"Ii ... iya, Ma. Mira takut," balas Mira dengan masih terisak-isak.
Sedangkan Papa Belva memilih mengurus bagian yang lain. Pria paruh baya itu duduk di kursi depan, di samping driver pribadinya dan beberapa menelpon. Bahkan Papa Belva juga meminta supaya semua rekaman CCTV untuk dicek.
Menurut analisis Papa Belva tidak mungkin terjadi kecelakaan begitu saja. Bahkan korbannya sampai tiga orang. Ya, Elkan, dan dua pekerja Coffee Bay. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi kecelakaan kerja di Coffee Bay. Insting seorang Papa Belva sangat percaya bahwa mungkin saja ada unsur kesengajaan.
Papa Belva menginginkan semuanya diusut secara tuntas. Jika memang ada yang berniat mencelakai Elkan, Papa Belva tentu tidak akan tinggal diam. Dia akan mengerahkan semuanya untuk mendapatkan siapa pelakunya.
Lebih dari setengah jam berkendara, barulah mereka tiba di Rumah Sakit. Papa Belva pun bertanya di mana korban kecelakaan di depan Coffee Bay kepada petugas rumah sakit. Ternyata ketiganya masih ditangani di Instalasi Gawat Darurat.
"Mama," tangisan Mira kembali terdengar.
"Tidak apa-apa, Mira. Kita lihat kondisi Elkan dulu," balas Mama Sara.
Begitu sudah tiba di ruangan IGD, Papa Belva memilih mengunjungi dua pekerja Coffee Bay yang turun menjadi korban. Bukannya tidak menyayangi putranya sendiri. Akan tetapi, Papa Belva merasa harus menunjukkan perhatian kepada partner bekerja putranya. Ya, para pengerja Coffee Bay sudah dianggap Papa Belva sebagai keluarga sendiri.
Sedangkan Mama Sara dan Mira mengunjungi Elkan. Mira menangis melihat suaminya yang masih dirawat. Ada jarum infus juga yang terpasang di tangan Elkan.
"Bagaimana kondisi pasien, Dokter?" tanya Mama Sara.
__ADS_1
"Anda siapanya pasien?" tanya Dokter.
"Saya Mamanya dan dia adalah istrinya," balas Mama Sara.
Dokter pun kemudian menganggukkan kepalanya. "Tidak ada yang serius, ada beberapa lecet di kepala dan kaki. Hanya saja tadi korban sempat pingsan karena ada mobil pick up yang mundur. Sejauh ini tidak apa-apa," kata Dokter.
Syukur Alhamdulillah. Rupanya luka yang diderita Elkan tidak terlalu serius. Kemudian Mama Sara menanyakan dua pasien yang lainnya, yang dilarikan ke Rumah Sakit bersama Elkan.
"Dua pasien yang lain?" tanya Mama Sara.
"Ada satu pasien yang mengalami luka serius. Pasien dengan nama Setyo, mengalami retak di tangannya karena benturan dari mobil itu," jelas Dokter lagi.
Mama Sara tetap saja sedih. Dia meminta Dokter untuk mengupayakan yang terbaik untuk kedua karyawannya. Sebagai atasan, sudah pasti Mama Sara akan mengupayakan yang terbaik untuk kedua karyawannya.
"Pasien boleh dikunjungi, tapi bergantian yah. Sebab, belum dipindahkan ke rawat inap. Kita pantau kondisinya dulu," balas Dokter.
"Kamu duluan saja yang menemui Elkan, Mira," kata Mama Sara.
Terlihat bagaimana Mama Sara mengalah. Dia tahu bagaimana Mira yang sudah menangis dan merasa takut dengan kondisi suaminya. Biar Mira terlebih dahulu yang menemui Elkan. Nanti, barulah Mama Sara yang gantian untuk bisa menemui Elkan.
Menemui Elkan sendiri, kedua kaki Mira terasa bergetar. Dia sangat takut. Terlebih ketika ada apa-apa dengan Elkan membuat Mira sampai panik setengah mati.
"Silakan," kata seorang perawat di sana.
Menguatkan dirinya sendiri, kemudian sebuah tirai dibukakan dan terlihat Elkan yang sudah sadar. Walau demikian, terlihat luka di wajah Elkan.
__ADS_1
"Kakak," sapa Mira. Lagi-lagi wanita itu berurai air mata. Hatinya hancur melihat suaminya kesakitan seperti itu.
Sementara Elkan berusaha untuk bangun, ya karena sekarang Elkan tengah berbaring. Akan tetapi, Mira menggelengkan kepalanya. Dia meminta Elkan untuk berbaring saja terlebih dahulu. Lagipula, ada selang infus yang masih terpasang di tangan Elkan.
"Sakit Kak?" tanya Mira.
Walau sudah besar, sudah memiliki anak, Mira merasa hatinya habis melihat suaminya. Dia seperti anak kecil yang ketakutan waktu kakaknya jatuh dari sepeda. Akan tetapi, bagaimana lagi jika tangisan Mira memang seperti itu. Wujud takut dan juga sedihnya dia mendengarkan kabar yang tidak baik.
"Aku baik-baik saja. Kamu jangan menangis," balas Elkan.
"Kakak terluka," balas Mira.
Elkan berusaha tersenyum dan menggelengkan kepalanya secara lemah. "Aku gak apa-apa. Ada staff Coffee Bay yang lebih parah kondisinya," balas Elkan.
"Kenapa bisa seperti ini, Kak?" tanya Mira dengan masih berurai air mata.
"Kejadiannya cepat banget, Honey. Aku sampai bingung sendiri jadinya. Sudah tidak apa-apa," balas Elkan.
Elkan masih berusaha tersenyum. Satu tangannya yang tidak diinfus berusaha menjangkau wajah Mira. Ibu jarinya bergerak dan mengusap bulir air mata di wajah Mira.
"Sudah, jangan menangis ... aku akan segera pulih," kata Elkan.
Setelah itu, Mira masih bersama dengan suaminya kurang lebih sepuluh menit. Barulah Mira bergantian dengan Mama Sara. Mira teringat bahwa Mama Sara juga pastinya ingin bertemu dengan Elkan.
"Sudah?" tanya Mama Sara.
__ADS_1
"Iya, Ma. Mama bisa melihat Kak El," balas Mira.
Sekarang Mira tidak begitu menangis. Dia bisa menenangkan dirinya, walau demikian Mira masih sangat bersedih karena kecelakaan yang menimpa Elkan. Banyak doa yang Mira panjatkan dalam hati supaya suaminya itu segera pulih.