
Tidak terasa akhir pekan sudah berlalu. Hari Senin pun sudah kembali menyapa, sementara Mira sudah bersiap dengan seragam putih Abu-Abunya. Jika biasanya, Mira hanya menguncir rambutnya ala ponny tale. Sekarang, Mira mengurai rambutnya yang sepunggung. Bahkan gadis cantik yang masih mengenakan kacamata itu mengenakan bando atau bandana di kepalanya. Sekadar pemanis di kepalanya.
Hingga akhirnya gadis cantik itu keluar dari rumahnya dan menunggu Elkan yang akan menjemputnya. Hanya sekian menit berlalu, Elkan sudah tiba. Jika biasanya pemuda itu selalu menjemput Mira dengan membawa mobil, kali ini pemuda itu justru menaiki motor berukuran besar.
"Ra," sapa Elkan dengan memberhentikan sepeda motornya.
"Naik motor Kak?" tanya Mira kepada Elkan.
"Iya, sesekali," balas Elkan.
Mira tampak menghela nafas panjang dan mengamati sepeda motor yang besar dan tinggi itu. Setelahnya, Mira kembali lagi bertanya kepada Elkan.
"Aku memakai rok loh, Kak?" ucapnya.
"Bisa … biar kayak Milea," balas Elkan.
Bisa-bisanya justru Elkan mengatakan bahwa biar mereka berdua mirip seperti Milea, salah satu tokoh pemeran utama wanita di film remaja berlatar di kota Kembang, Bandung. Hanya karena sama-sama dibonceng dengan menaiki sepeda motor besar.
"Yuk, nanti kita telat," balas Elkan.
__ADS_1
"Aku naiknya gimana Kak?" tanya Mira dengan bingung.
Elkan pun tersenyum. Pria itu seolah menaruh semua kekuatan di tangannya yang memegang stank sepeda motor. "Taruh kaki kamu di foot step dulu, kemudian satu tangan memegangi bahuku. Naik, Ra. Nanti pasti bisa. Begitu juga saat mau turun, pegangan bahuku," instruksi dari Elkan.
Mira berusaha mengikuti apa yang Elkan instruksikan. Bahkan Elkan sedikit menoleh ke belakang demi bisa melihat Mira bisa menaiki sepeda motornya yang memang setidak lebih tinggi bagian belakangnya itu. Begitu, Mira sudah naik dan duduk di saddle sepeda motor, Elkan tampak tersenyum. Kemudian pria itu memberikan helm kepada Mira. “Biar lebih safety saat berkendara, Ra … aku bawakan helm,” ucap Elkan.
Menganggukkan kepalanya, Mira kemudian mengenakan helm itu. Kemudian dia melihat punggung Elkan yang ada di depannya, dan juga bersiap dengan berkendara bersama suaminya, tetangganya, sekaligus teman sebangkunya itu.
“Aku mulai jalan ya, Ra,” ucap Elkan.
Pelan-pelan mulailah Elkan memutar gas dan menjalankan mobilnya. Di belakangnya, sesekali Mira menghela nafas panjang. Berkemudi di jalanan ibukota di pagi hari, sensasinya terasa berbeda. Ditambah pada Elkan yang mengemudikan sepeda motornya terkadang menarik gas lebih kencang.
"Kak, hati-hati dong," pinta Mira yang merasa takut ketika Elkan mengemudi lebih kencang dan juga menyalip beberapa mobil dan sepeda motor lainnya.
Sejatinya mereka memang adalah pasangan yang sah dan juga halal, jadi sekadar untuk pegangan saat berboncengan saja rasanya tidak ada salahnya. Elkan pun juga tidak keberatan ketika Mira berpegangan di pinggangnya.
"Modus kamu ya Kak?" tanya Mira dengan melirik Elkan.
"Kan kita memang halal untuk satu sama lain. Sebatas berboncengan dan pegangan kan tidak ada salahnya," balas Elkan lagi.
__ADS_1
Merasa Mira tidak merespons, Elkan kemudian membawa satu tangannya ke belakang, dan dia mencari tangan Mira. Lantas, dia menaruh satu tangan Mira ke pinggangnya. "Pegangan saja, tidak apa-apa kok," balas Elkan.
"Kak," balas Mira karena merasa tidak nyaman dengan Elkan.
"Cuma pegangan, Ra ... gimana nanti kalau kita tinggal bersama. Kan bakalan sering pegang-pegangan," balas Elkan lagi.
Entah apa yang dipikirkan oleh Elkan, yang pasti Mira memilih untuk diam. Tangan itu beranjak dan tidak melingkari pinggang Elkan, hanya berpegangan di tepian jaket denim milik Elkan saja. Namun, beberapa saat kemudian Mira bersuara.
"Emangnya kita akan tinggal bersama, Kak?" tanyanya.
"Iya, di Australia nanti yang jagain kamu siapa, kalau bukan aku?" tanya Elkan.
Ah, barulah sekarang Mira ingat bahwa di Australia nanti memang Elkan yang akan menjaganya. Elkan yang akan menemaninya sehari-hari di negeri Kangguru itu. Barulah Mira mengingat semuanya. Toh, bagaimana pun pernikahan antara dirinya dan Elkan juga bukan sekadar main-main, tapi pernikahan sungguh-sungguh.
"Turunkan aku di depan sekolah saja, Kak ... aku masuk sendiri ke sekolah," pinta Mira kemudian setelah mereka sudah hampir tiba di sekolah.
"Sekalian aja, Ra," balas Elkan.
"Nanti Sonya bisa marah-marah dan bully aku loh," balas Mira.
__ADS_1
Elkan pun melirik Mira sejenak, tangan itu kembali meraih tangan Mira, dan mengeratkannya di pinggangnya. "Jangan takut, Ra ... aku akan selalu melindungi kamu. Entah itu dari Sonya, Bagas, atau siapa pun ... aku suami kamu yang pasti jagain kamu."
Kali ini Elkan berbicara dengan sungguh-sungguh. Dia berjanji untuk menjaga Mira. Cobaan yang datang pun bukan menjadi masalah untuk Elkan. Yang pasti selama ada dia, Mira akan tetap aman.