
Setelah hampir dua pekan berlalu, akhirnya luka bekas jahitan di perut Mira benar-benar sembuh. Hanya saja memang ada bekas sayatan di perutnya. Tidak perlu mengambil benang jahitan juga karena benangnya dibuat dari gelatin dan bisa menjadi jaringan baru di kulit.
Sekarang, Mira berdiri di depan cermin rias di unitnya. Dia sedikit menyingkap kaos yang dia kenakan, tujuannya memang untuk melihat seperti apakah bekas jahitan di perutnya itu. Mira mengamati bagian perut yang mengarah ke pinggang memang seperti bekas sayatan gitu.
"Jadi, seperti ini bekas lukanya," ucap Mira sendirian dengan jari telunjuknya yang menyentuh bekas luka dengan diameter kurang lebih 2 centimeter ini.
Tiba-tiba Elkan yang keluar dari kamar mandi, mengamati Mira yang berdiri di depan cermin dan dengan kaosnya yang sedikit tersingkap itu. Pria itu menunduk dan mengecup perut Mira dengan tiba-tiba. Dia jatuhkan kecupan tepat di bekas jahitan itu.
"Eh, Kak ...."
Mira memekik kaget merasakan bibir suaminya yang tiba-tiba mengecup perutnya itu. Hingga Mira refleks hendak menurunkan kaosnya. Di sisi lain, Elkan segera mendekap Mira dari belakang.
"Kamu liatin apa coba sampai kaos kamu seperti itu?" tanya Elkan.
__ADS_1
"Aku cuma pengen lihat bekas jahitannya saja, Kak. Penasaran. Ternyata benar, kayak bekas operasi Caesar," balas Mira.
Elkan menghela napas panjang. Sebenarnya dia kasihan dan ngilu. Bagaimana pun pasti jahitan di perut itu menghadirkan rasa ngilu. Sekarang, Elkan merasa tidak enak dengan Mira.
"Gara-gara aku ya, Honey?" Tanya Elkan.
"Bukan, yang benar karena cinta. Tanda kalau aku pernah dapat luka ini karena cinta kepada suamiku sendiri," balas Mira dengan sedikit tersenyum.
Elkan tersenyum tipis. Pria itu mengecup bahu Mira. Walau Mira mengatakannya dengan tertawa, tapi Elkan tetap saja merasa bersedih. Ada rasa bersalah juga karena gagal melindungi istrinya.
Mira tersenyum, dia menggelengkan kepalanya secara samar dan menatap wajah Elkan yang terpantul dari cermin di hadapannya."Jangan begitu. Aku tidak apa-apa," balasnya.
"Sekarang, rasanya gimana, Honey? Sakit tidak?" tanya Elkan.
__ADS_1
"Sudah tidak sakit sama sekali kok, Kak. Mungkin karena sudah menjadi jaringan kulit yang baru. Sama sekali sudah tidak sakit," jawab Mira.
Syukurlah jika memang sudah tidak lagi sakit. Sebab, Elkan juga kasihan jika masih ada rasa sakit di sana. Bahkan ketika sakit pun, Mira sama sekali tidak memberitahu orang tuanya. Semua itu Mira lakukan karena dia yakin suaminya bisa menjaga dan merawatnya. Ketika sudah berumahtangga, memang ada beberapa hal yang cukup dimengerti oleh pasangan suami dan istri. Tidak perlu diketahui oleh orang tua. Mira pun menganggap demikian, apalagi jarak yang jauh dengan Mama dan Papanya membuat Mira berpikir lebih panjang supaya orang tuanya tidak panik dan khawatir.
"Kalau ada keluhan kasih tahu aku ya, Honey. Aku khawatir banget sama kamu," balas Elkan.
"Tidak apa-apa, Kak. Yang pasti aku sudah sembuh total. Makasih sudah merawatku dengan baik, sudah mengantar aku bolak-balik ke Rumah Sakit."
Rasanya, kalau Elkan tidak perhatian dan telaten rasanya juga tidak akan sembuh dengan dengan baik. Untung saja, walau tidak memberitahu orang tua, tapi suaminya bisa diandalkan.
"Sama-sama My Honey ... sudah bersiap kuliah lagi yah, semoga bisa diselesaikan dengan baik. Masih ada beberapa semester menanti kita," balas Elkan.
"Iya, Kak ... gak sabar nyelesain semester demi semester dan ingin pulang ke Jakarta," balas Mira.
__ADS_1
"Ya sudah, kita selesaikan semuanya saja, Honey. Semoga nanti bisa dilewati satu per satu. Step by step. Kan harus menikmati prosesnya juga. Jangan hanya berorientasi kepada hasil," balas Elkan.
Mira tersenyum di saat seperti ini, dewasanya seorang Elkan memang dia butuhkan. Benar yang Elkan katakan bahwa mereka memang harus menikmati proses. Berorientasi kepada hasil memang bagus, tapi menghargai proses pun juga sangat bagus. Semoga saja pelan-pelan bisa mereka selesai bersama.