
Ketika dengan berani Jerome mengatakan bahwa Mira adalah cinta pertamanya, Elkan tampak mengusap wajahnya perlahan. Lantas pria itu melirik ke arah Mira. Telinganya terasa begitu panas sekarang, bahkan jika tidak mengingat bahwa Jerome adalah sepupunya, sudah pasti Elkan akan mengajaknya bertarung.
Sayangnya, Elkan tidak akan melakukan hal itu. Elkan pun mendengus kesal dalam hati. "Di sekolah, aku dipusingkan dengan Bagas ... dan sekarang kedatangan Jerome. Kapan aku punya waktu untuk menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada Mira?"
Pemuda itu hanya bisa bergumam dalam hati. Sebal dan kesal begitu mendominasi hatinya sekarang ini. Namun, apa daya, dia harus menyembunyikan statusnya dengan Mira setidaknya sampai keduanya lulus SMA.
"Sama seperti yang kamu suka, Ra ... di Jepang, aku ikut futsal juga. Walau futsal tidak terlalu populer di kampusku," ucap Jerome sekarang kepada Mira.
Gadis cantik itu pun menganggukkan kepalanya secara samar. "Oh, iyakah?" tanya Mira.
"Iya, aku mengikuti futsal. Tadi, kamu bilang Marvel ingin sepatu futsal yah? Boleh dong, kapan-kapan futsal barengan sama Marvel," ucap Jerome di sana.
"Ajakin aja Kak ... kalau anaknya mau tidak apa-apa. Namun, sekarang Marvel sudah kelas 3 SMP, jadi sudah pasti Mama dan Papa meminta Marvel untuk fokus dengan ujian nasional juga," balas Mira.
"Gampang, nanti bisa belajar sama aku," balas Jerome.
Lagi-lagi di sana, Elkan hanya duduk dan mendengarkan Jerome yang banyak berbicara. Pun, Mira juga sebenarnya membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dan akrab dengan Jerome juga.
Sedikit beringsut, kemudian Jerome berbicara kepada Mira. "Ra, besok akhir pekan. Kita weekend bersama yuk, nonton film di bioskop," ajak Jerome kepada Mira.
Sebelum memberikan jawaban, Mira melirik ke arah Elkan, dan terlihat jari telunjuk Elkan bergerak ke kiri dan kanan. Seolah Elkan memberikan isyarat tersendiri kepada Mira.
"Ayolah ... sudah lama juga kita tidak bertemu. Empat tahun adalah waktu yang lama, Ra. Dulu kita sering main bersama. Mumpung aku di Jakarta. Kalau aku sudah bekerja di perusahaan Papa, agaknya akan sulit mencari waktu ke Jakarta," ucap Jerome.
Menimbang dengan hati-hati. Akhirnya Mira pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah Kak, mau ke mana?"
__ADS_1
"Grand Indonesia," balas Jerome.
"Aku ikut Kak Jer," sahut Elkan yang rupanya juga ingin turut bergabung dengan Jerome dan Mira.
Tampak Jerome memutar bola matanya dengan malas. Sebenarnya dia ingin menikmati akhir pekan dengan Mira. Bisa kembali melakukan pendekatan setelah empat tahun berlalu, tapi Elkan juga justru mau ikutan.
"Aku sudah dipercaya Mama Marsha dan Papa Abraham untuk menjaga Mira, Kak ... kalau kalian berdua pergi tanpa aku, biasanya sih dijamin bahwa Mama Marsha dan Papa Abraham tidak akan memberikannya izin," sahut Elkan lagi.
Biarlah kali ini ElkanĀ menggunakan posisinya sebagai menantu Mama Marsha dan Papa Abraham, yang penting dia bisa turut serta esok hari. Bagaimanapun, Elkan harus memastikan Mira aman.
"Benar begitu, Ra?" tanya Jerome kepada Mira.
"Iya Kak Jer, itu karena Mama dan Papa percaya sama Kak El," balasnya.
Jerome sekarang menghela nafas panjang. Kesal sebenarnya. Tujuannya jalan-jalan berdua dengan Mira. Siapa tahu sekarang bisa mencuri hati Mira. Namun, Elkan harus turut serta dengannya. Membuat Jerome sangat kesal.
Elkan sekarang seakan di atas angin. Sebab, dia yakin mengingat statusnya dengan Mira sekarang. Sudah pasti bahwa Mama Marsha dan Papa Abraham akan lebih mempercayainya dibandingkan dengan berbagai pria lainnya di luar sana.
***
Keesokan harinya Elkan, Mira, dan Jerome sekarang sudah tiba di Plaza Indonesia. Sebagaimana tempat yang dijanjikan oleh Jerome. Walau sebenarnya kesal. Akan tetapi, Jerome juga tidak bisa berbuat banyak.
"Kamu mau nonton film apa, Ra?" tawar Jerome sekarang kepada Mira.
"Apa aja gak papa, Kak Jer," balas Mira.
__ADS_1
"Mira gak boleh nonton film horor loh Kak ... itu semua karena Mira memiliki lemah jantung dan takut sama hantu," ucap Elkan dengan tiba-tiba.
Mira tampak membelalakkan matanya, sementara Jerome mengernyitkan keningnya. "Seriusan Ra? Kamu lemah jantung?" tanyanya.
"Takut hantu aja, Kak," balasnya.
"Ya sudah, film romantis aja yah kali. El, kamu gak harus duduk satu deret dengan kami berdua kan?" tanya Jerome sekarang.
"Di belakang kalian aja," balas Elkan.
Elkan berusaha cuek, walau sebenarnya dia juga tidak suka dengan Jerome yang seolah mendekat kepada Mira terus. Begitu memasuki studio, Elkan benar-benar duduk di belakang Mira dan Jerome. Sampai Mira beberapa kali melirik ke Elkan yang duduk di belakangnya. Dengan posisi duduk seperti ini, rasanya justru Elkan tampak memata-matai pergerakannya.
Begitu film hendak diputar dan lampu di dalam studio dipadamkan, Mira memilih diam dan fokus dengan film yang hendak diputar. Tampak sekarang telapak tangan Jerome bergerak dan hendak menggenggam tangan Mira. Akan tetapi, ada deheman Elkan.
"Ehem!"
Satu deheman Elkan saja membuat Jerome mengurungkan niatnya dan menoleh ke belakang. Ya, Jerome melihat Elkan. Namun, rupanya sepupunya itu bersikap acuh bahkan sekarang fokus dengan film yang sedang di putar.
Merasa Elkan fokus dengan filmnya, Jerome kali ini kembali berniat untuk menggenggam tangan halus Mira. Rasanya memang Jerome ingin mendekati Mira pelan-pelan. Tinggal beberapa saat tangan Jerome menggapai tangan Mira, ada pergerakan kaki Elkan yang mengenai tempat duduk Jerome.
Sehingga Jerome kembali menghela nafas, kaget dengan tendangan di punggung kursinya. "Siapa sih ... baru juga berusaha, sudah banyak banget gangguannya," gumam Jerome dalam hati.
Di satu sisi Elkan justru tertawa dalam hati. Tidak akan dibiarkannya Jerome berhasil mendekati Mira. Toh, juga seharusnya yang berani mendekati Mira perlahan-lahan adalah Elkan dan bukan Jerome. Namun, Elkan tidak mau mengambil langkah terlalu frontal, bagaimana Jerome adalah sepupunya.
Menurut Elkan, cukuplah tindakannya untuk menghalang-halangi Jerome saja. Di dalam hatinya Elkan merasa tidak rela jika Jerome begitu gencar untuk mendekati Mira.
__ADS_1
Akhirnya 120 menit film berjalan dan Jerome gagal total. Pikirnya bisa dekat dalam keremangan cahaya, sembari melihat film romantis. Akan tetapi, semua usahanya gagal. Sekadar menggandeng tangan Mira saja tidak bisa.