
Usai pernikahan Evan dan Andin, Elkan memutuskan untuk segera pulang ke Sydney. Hatinya sudah begitu rindu dengan istri tercintanya. Sebenarnya, Mama Sara menahan Elkan untuk tinggal lebih lama. Namun, bagaimana lagi sekarang adalah hari efektif kuliah sehingga tidak bisa bagi Elkan untuk berlama-lama di Jakarta.
"Yakin, akan langsung pulang ke Sydney sekarang?" tanya Mama Sara.
Di sana ada juga Papa Belva, Mama Marsha, dan tentunya Papa Abraham. Seluruh orang tua juga baru berkumpul.
"Iya, Ma. Bagaimana lagi, masih waktu kuliah efektif, dan banyak tugas menunggu. Selain itu, kasihan Mira terlalu lama sendiri di kota asing," balas Elkan.
Setidaknya kan dia pulang untuk menghadiri pernikahan kakaknya, dan itu sudah dia lakukan. Oleh karena itu, usai resepsi Elkan berencana untuk kembali ke Sydney.
"Kenapa buru-buru sekali? Kamu bahkan belum tidur di rumah Mama dan Papa," balas Mama Sara.
Yang disampaikan Mama Sara benar. Semua itu karena Elkan dalam lima hari belakangan tidur di rumah mertuanya. Belum tidur di rumah Mamanya sendiri.
"Nanti kalau liburan semester, Elkan dan Mira akan pulang ke rumah Mama dulu deh," balas Elkan.
Akhirnya Papa Belva berbicara kepada istrinya itu. "Tidak apa-apa. Yang penting Elkan sudah datang untuk menghadiri akad dan resepsinya. Nanti kalau liburan, Elkan dan Mira bisa pulang lebih lama," ucap Papa Belva.
Setelah diberi pengertian oleh suaminya, akhirnya Mama Sara busa menerimanya. Dia bisa melepaskan Elkan kembali ke Sydney. Selain itu, Mama Sara juga tahu bahwa di Sydney selain kuliah ada Mira juga yang sangat merindukan Elkan.
"Baiklah. Mama dan Papa ikut mengantar ke bandara yah," balas Mama Sara.
Akhirnya dengan menaiki mobil Alphard milik keluarga Agastya, Elkan pun diantar ke bandara oleh Mama Sara, Papa Belva, Mama Marsha, dan Papa Abraham. Selain itu, ketika datang Elkan hanya membawa satu koper kabin, sekarang Elkan membawa dua koper karena banyak makanan dan oleh-oleh yang diberikan orang tua dan mertuanya untuk Mira.
"Nanti liburan semester, pastikan kamu pulang ke Jakarta dengan Mira ya, El? Masak kalian akan terus berada di Sydney sampai lulus?" tanya Mama Sara lagi.
"Rencananya begitu, Ma. Kan Mira dan Elkan sama-sama mengambil kuliah padat supaya bisa segera pulang ke Jakarta. Selain itu, kami ingin segera lulus kan ingin memberi cucu untuk keluarga Agastya dan Narawangsa. Yah, itu sih rencana, tapi sekarang Kak Evan kan sudah menikah, jadi ... mungkin saja Kak Evan duluan nanti yang memberikan cucu untuk Mama dan Papa," balas Elkan.
"Gak harus siapa yang lebih dulu, El. Bagaimana pun, keturunan kamu dan Evan kan adalah cucu-cucu Mama dan Papa," balas Papa Belva.
__ADS_1
Untuk Papa Belva memang begitu adanya. Tidak harus siapa yang lebih dahulu. Akan tetapi, baik itu anak-anak Evan, Elkan, atau Eiffel nanti tepatnya adalah cucunya. Untuk seluruh cucu-cucu nanti, kasih sayang yang akan diberikan Mama Sara dan Papa Belva pun sama besarnya.
"Iya, Pa ... baiklah, Elkan mohon pamit ya Mama-Mama, dan Papa-Papa. Maaf hanya bisa sebentar saja berada di Jakarta," balasnya.
Akhirnya semua yang ada di sana bergantian memeluk Elkan. Memang begitulah ketika anak datang, hati rasanya sangat bahagia. Akan tetapi, ketika si anak kembali lagi rasanya sedih. Kedua keluarga itu juga merasakan hal yang sama.
"Hati-hati ya, El. Kalau sudah tiba di Sydney hubungi kami yah. Sampaikan salam sayang kami untuk Mira."
Akhirnya, Elkan pun memasuki pintu cek in. Pria itu menoleh ke belakang sejenak, menatap orang tua dan mertuanya yang sama-sama sedih. Elkan melambaikan tangannya dan memberikan kiss bye untuk keluarganya. Itu adalah cara Elkan supaya para Mama dan Papanya tidak sedih. Lagipula, perkuliahan juga tinggal satu tahun lagi. Setelah itu, Elkan dan Mira akan kembali ke Jakarta dan melanjutkan rencana dan mimpi mereka di kota Metropolitan itu.
Elkan melakukan cek in, dan memasukkan kopernya ke bagasi. Setelah itu, barulah Elkan berjalan ke ruang tunggu. Elkan sembari mengecek handphonenya dan juga membalas pesan yang dikirimkan oleh istrinya.
[Dari: Honey]
[Hari keempat Kakak di Jakarta. Aku sudah begitu rindu, Kak.]
[Besok aku akan presentasi, Kak. Doakan yah.]
[Jangan lupa doakan untuk presentasiku besok.]
[I will always miss u, Hubby]
Sekadar membaca deretan pesan dari istrinya saja membuat Elkan tersenyum. Memang dia sengaja tidak memberitahu Mira. Sebab, dia ingin memberikan kejutan untuk Mira.
Duduk di ruang tunggu, hari sudah menjelang sore. Ternyata ada panggilan telepon dari Evan. Seketika, Elkan mengernyitkan keningnya. Apa yang sebenarnya hendak Evan katakan kepadanya. Padahal sekarang harusnya kakaknya itu beristirahat dengan istrinya.
Kak Evan
Berdering ....
__ADS_1
"Halo, Kak," sapa Elkan. Pria itu mendekatkan handphonenya ke telinga, menerima panggilan dari kakaknya itu.
"Halo, El ... kamu di mana?" tanya Evan kepada adiknya. Bahkan Evan sekarang sengaja menjauh dari istrinya, Evan memilih duduk sejenak di sofa yang ada di dalam kamar pengantin.
"Baru di bandara, Kak. Ada apa?" tanya Elkan.
"Begini, El ... bagaimana memulainya?"
Ini adalah pertanyaan yang jujur dari Evan. Semua itu karena Evan pikir, adiknya yang lebih muda darinya sudah memiliki pengalaman lebih banyak darinya. Bertanya kepada Elkan adalah solusi yang tepat.
Sementara Elkan justru terkekeh mendengar pertanyaan dari kakaknha itu. Bahkan di ruang tunggu eksekutif itu, Elkan sampai menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa kakaknya yang tampan, menawan, dan hebat itu justru menanyakan hal itu melalui telepon. Untuk Elkan rasanya menggelikan.
"Yakin saja, Kak ... pasti bisa. Kendalikan suasana, lakukan bertahap step by step. Pasti bisa."
Jawaban yang Elkan berikan seakan dia menjadi tutor untuk Kakaknya itu. Toh, dulu itu juga yang Elkan lakukan. Melakukan semua secara bertahan dan memegang kendali, mempertahankan suasana.
"Emang dulu kamu seperti itu?" tanya Evan lagi.
Lagi, Elkan justru tertawa. Geli saja dengan pertanyaan dari kakaknya yang keren itu. "Santai saja, Kak ... semua pria itu memiliki insting untuk memulai dan mengendalikan. Pasti Kakak bisa lah, tidak perlu aku jelaskan detailnya. Hahahahaaa."
Tawa Elkan terdengar begitu membahana di telinga Evan. Sampai di seberang sana Evan diam dan mengusap wajahnya."Aku bertanya serius, El ... kamu malahan tertawa. Awas ya nanti," balas Evan.
"Aku juga memberitahukannya serius, Kak. Jangan hanya pandai bernegosiasi dengan mitra dan memenangkan tender, Kak. Menangkan juga malam pertama, Kakak."
Elkan kembali tertawa. Namun, setelah itu Elka kembali berbicara dengan kakaknya. "Tips Tipis-Tipis nih, Kak. Cium Kakak Ipar duku ciptakan atmosfer yang hangat, baru memulai. Semua pasti bisa. Insting dan naluri Kakak yang akan menuntun Kakak selanjutnya."
Rasanya di seberang sana, Evan ingin bertanya lagi. Akan tetapi, Elkan buru-buru menutup telepon."Oke deh Kakakku, kalau bingung nanti Whatsapp aja yah, Honeyku sudah menunggu."
Elkan tertawa sendiri mendengar pertanyaan dari suaminya. Akan tetapi, dia sangat percaya bahwa Kakaknya pasti akan berhasil. Dari jauh, Elkan juga mendoakan supaya kakaknya berhasil membuka peluang dan mencetak terjadinya gol malam ini. 🤣😅
__ADS_1