
Tawa dan juga perbincangan antara Mama Sara, Papa Belva, dan juga Jerome terjeda karena ada yang baru saja bergabung bersama dengan mereka. Ya, yang datang kali ini adalah Mira yang memang diminta untuk turut datang ke rumah keluarga Agastya. Bagaimana pun juga, Mira adalah istri Elkan, sehingga jika turut bergabung dengan keponakannya yang baru saja pulang usai menyelesaikan studi di Jepang rasanya juga wajar-wajar saja.
Selain itu, dulu sewaktu kecil Jerome dan Mira juga beberapa kali pernah main bersama. Terutama ketika keluarga Agastya dan keluarga Narawangsa memutuskan untuk menikmati liburan bersama di Bogor, di Villa keluarga Agastya di sana.
Kini, arah pandangan Jerome sepenuhnya tertuju kepada Mira. Tidak terasa, empat tahun sejak dia memutuskan untuk pergi ke Jepang dan menyelesaikan S1-nya, dan sekarang adalah kali pertama Jerome bertemu lagi dengan Mira.
Pemuda tampan itu segera berdiri dan kemudian menyambut Mira dengan mengulurkan tangannya, guna menjabat tangan Mira. "Hei, Mira ... long time no see," sapa Jerome dengan tersenyum begitu lebar.
Tidak disangka, usai empat tahun berlalu. Mira, gadis kecil yang dulu dia kenal, dia sudah dewasa. Menurut Jerome, walau sekarang Mira mengenakan kacamata, justru gadis itu kian manis saja di matanya.
"Apa kabar Kak Jer?" sapanya.
"Watashi wa daijōbudesu," balas Jerome dengan menggunakan bahasa Jepang yang artinya adalah 'kabarku baik.'
Mira tersenyum di sana. Walau tidak tahu dengan pasti apa yang disampaikan oleh Jerome. Akan tetapi, pastilah bahwa dia adalah ungkapkan bahwa dirinya dalam keadaan baik.
"Sendirian atau sama Mama dan Papa, Ra?" tanya Mama Sara kemudian.
Tampak Mira menyapa dan menyalami Mama dan Papa mertuanya itu. Barulah dia menjawab pertanyaan Mama Sara. "Sendirian aja, Ma ... Mama dan Papa sedang belanja bulanan bersama," balasnya.
__ADS_1
"Marvel sendirian di rumah?" tanya Elkan tiba-tiba.
"Enggak Kak ... Marvel ikut Mama dan Papa, katanya mau minta sepatu futsal. Mau ikutan futsal gitu," jawab Mira.
Jerome kemudian menganggukkan kepalanya. Walau Mira yang berbicara, tetapi tetap saja gadis cantik itu tetaplah manis di matanya. Tutur katanya juga lembut dan sopan.
"Oh, iya Jer ... Mira dan Elkan satu sekolah loh, satu kelas malahan," ucap Mama Sara di sana.
"Serius Ra? Kamu satu kelas sama Elkan? Bukannya sesuai usia Elkan harusnya sudah kuliah kan?"
Jerome pun tampak bingung. Sebab, memang secara usia Elkan sekarang sudah ada di bangku kuliah. Menempuh kuliah di semester dua atau tiga. Namun, sepupunya itu justru masih berada di bangku SMA.
"Dulu cuti satu tahun di Singapura. Selain itu, SMP di Singapura kan empat tahun, Jer ... jadi, seolah telat sekolahnya," balas Mama Sara.
"Empat tahun, justru SMA di sana hanya dua tahun," balas Papa Belva kemudian.
Jerome kembali merepons dengan menganggukkan kepalanya, dia pun baru tahu bahwa sistem pendidikan di Singapura berbeda dengan di Indonesia. Kemudian Jerome pun berbicara kepada Elkan, "Serasa lebih muda ya El?" tanyanya.
"Hmm, biasa saja," balasnya.
__ADS_1
Merasa anak muda sudah berkumpul dan mungkin saja akan membahas dunianya anak muda. Mama Sara dan Papa Belva memilih untuk masuk ke dalam. Memberikan kesempatan untuk mereka berbicara. Kemudian tampak Jerome dan Elkan mengambilkan minuman untuk keduanya bersamaan menawarkannya kepada Mira.
"Minum, Ra," ucap Elkan dan Jerome bersamaan.
Tampak Mira menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Kompakan ... satu saja," balas Mira. Gadis itu menerima gelas yang disodorkan oleh Elkan dan sementara Jerome pun tersenyum dengan menaruh gelas yang semula dia sodorkan untuk Mira.
"Kamu sudah dewasa sekarang, Ra ... waktu aku pamit untuk kuliah di Jepang dulu, kamu masih SMP," balas Jerome.
Kini Elkan seolah membuka telinganya lebar-lebar. Mungkinkah ketika hendak berangkat ke Jepang dulu, Jerome berpamitan dengan Mira. Elkan memilih bersikap biasa saja. Namun sedetik kemudian, Elkan tampak terkesiap juga, ketika Jerome memberikan paper bag untuk Mira.
"Hadiah buat kamu, Ra ... seingatku kamu suka karakter Cony kan? kelinci putih di Line itu? Aku membelikannya untukmu, dan ada beberapa snack dari Jepang," ucap Jerome.
Menerima hadiah dari Jerome itu, Mira pun tersenyum di sana. Sementara Elkan pun berpikir apakah memang dalam beberapa waktu terakhir karakter boneka yang disukai Mira sudah berbeda. Seingatnya dulu, Mira sangat menyukai karakter Minnie. Akan tetapi, kenapa sekarang Mira justru menyukai Conny, kelinci putih itu.
"Kamu sudah tidak suka Minnie ya Ra?" tanya Elkan kemudian.
"Enggak, dia sukanya Conny. Masak kamu tidak tahu sih El? Kan kalian itu temenan sejak kecil. Yang paling ngerti Mira. Masak boneka kesukaan aja gak tahu," sahut Jerome di sana.
"Itu semua karena setahuku dia sukanya Minnie, dan bukan Conny," balas Elkan yang kini menjawab dengan menatap Mira.
__ADS_1
Agak menghiraukan Elkan di sana, Jerome kemudian tersenyum. "Sudah pasti aku yang paling mengetahui Mira, El ... bagaimana pun dia cinta pertamaku."
Kali ini Elkan menghela nafas kasar ketika mendengar jawaban dari Jerome. Sejujurnya inilah yang membuat Elkan dulu pergi ke Singapura. Sakit hatinya kala Jerome dengan terus terang menembak Mira di hadapannya. Sekarang pun, Jerome melakukan hal yang sama dengan mengatakan Mira adalah cinta pertamanya.