
Setelah beberapa pekan berlalu, Mama Sara dan Papa Belva menerima kabar yang kurang baik dari Eiffel yang sedang berkuliah di Paris, Prancis. Hal itu dilatarbelakangi dengan kondisi kota Paris yang kurang kondusif. Oleh karena itu, Mama Sara dan Papa Belva sekarang berpamitan dengan Mira dan Elkan untuk pergi ke Paris.
"Kenapa, Ma ... kelihatannya Mama kurang sehat?" tanya Mira kepada Mama Sara.
"Kalau sehat sih, Mama sehat, Ra. Hanya saja kondisi di Paris sekarang kurang kondusif. Jadi, Mama dan Papa ingin ke Paris. Kasihan Eiffel," katanya.
Sekarang Mira tahu memang kondisi di kota Paris kurang kondusif. Ada serangkaian demonstrasi, sampah menumpuk di beberapa tempat, dan juga kejadian lainnya. Oleh karena itu, Mama Sara dan Papa Belva tidak berpikir panjang ingin pergi ke Paris.
"Iya, Mira melihat pemberitaan di televisi, Ma. Eiffel aman kan Ma?" tanyanya.
"Aman. Hanya saja, Eiffel sudah berbicara dengan Mama dan Papa untuk transfer saja, menyelesaikan kuliah di London. Jadi, dari Paris nanti Mama dan Papa akan ke London. Kalian mau ikut? Kalau ikut bisa langsung ke London saja. Ke kota yang lebih kondusif," balas Mama Erina.
Mira dan Elkan sama-sama menggelengkan kepalanya. Kemudian Elkan menggelengkan kepalanya."Tidak usah, Ma. Kami menunggu di Jakarta saja. Lagipula, Mama dan Papa tidak akan lama kan?" tanya Elkan.
"Sepekan atau dua pekan palingan, El. Kasihan Eiffel, dalam sepekan ini dia dan temannya tak keluar dari unit. Sebab, maraknya aksi demonstrasi di Paris. Mama sangat kepikiran, lebih baik menansfer kuliah Eiffel ke London saja."
Memang begitulah seorang Ibu. Merasa khawatir apabila anaknya berada di kondisi yang tidak kondusif. Inginnya, ketika anak-anak berada jauh dari rumah, tentu anak-anak berada di kondisi yang kondusif.
"Kapan mau berangkat, Ma? Nanti biar Elkan antar ke bandara," tanya Elkan.
"Lusa, El. Mama sedih juga berpisah dengan Aryan dan Aliya. Biasanya, hampir setiap hari Mama ke sini, ketemu Twins A. Nanti Oma Sara gak bisa ke sini dulu," katanya.
"Benar, bakalan kangen sama Aryan dan Aaliya. Nanti Oma dan Opa belikan oleh-oleh dari London yah," kata Papa Belva.
"Yang penting Onty Eiffel dapat kampus dan apartemen dulu, Opa. Prioritaskan untuk Onty Eiffel dulu," balas Mira.
__ADS_1
"Itu pasti, Mira. Terima kasih, kamu sangat pengertian," balas Papa Belva.
"Kalian tidak ingin berjalan-jalan ke luar negeri?" tanya Mama Sara.
"Pengen sih, Ma. Hanya saja, Aryan dan Aaliya masih sangat kecil. Goncangan di dalam pesawat terlalu lama pastilah membuat Aryan dan Aaliya merasa tidak nyaman nanti. Kalau mereka sudah dua tahun saja, kami ingin mengajak mereka ke Sydney. Kota di mana Daddy dan Mommy nya menjalani kehidupan pernikahan di sana," balas Elkan.
Memang itu yang menjadi pertimbangan Elkan. Kedua bayinya masih berusia hampir empat bulan. Durasi penerbangan ke luar negeri yang bisa puluhan jam dan beberapa kali transit bisa membuat bayi tidak nyaman. Suara bising mesin pesawat juga tidak baik untuk gendang telinga bayi. Oleh karena itu, Elkan memilih menunggu sampai Aryan dan Aaliya berusia dua atau tiga tahun saja.
"Takut telinganya juga yah?" tanya Mama Sara.
"Benar, Ma. Telinga bayi kan masih sensitif dengan berbagai jenis bunyi. Apalagi mesin pesawat itu bising, bisa merusak gendang telinga bayinya nanti. Jadi, kami menunggu di Jakarta saja yah Oma dan Opa," balas Mira.
Usai itu, Oma Sara dan Opa Belva menghabiskan waktu bermain dengan Aryan dan Aaliya. Kadang Mama Sara terlihat mellow dan menciumi kedua cucunya itu berkali-kali. Rasanya nanti bakalan sangat rindu kepada dua cucunya itu.
Dua Hari Kemudian ....
Sekarang Elkan dan keluarga Narawangsa mengantarkan Mama Sara dan Papa Belva menuju ke bandara. Dalam perjalanan, Mama Sara memangku Aaliya. Sementara Papa Belva memangku Aryan.
"Hanya dua pekan, Besan. Cepat kok," kata Papa Abraham kepada besannya yaitu Papa Belva.
"Iya sih, tapi rasanya pasti kangen Aryan dan Aaliya," balas Papa Belva.
"Kalau udah punya cucu lebih kangen cucu, daripada Elkan dan Mira yang adalah anak-anak kita yah?" tanya Papa Abraham dengan tertawa. Itu hanya sekadar pertanyaan supaya Besannya itu tidak terlihat mellow.
"Ya, enggak lah, Besan. Kangen Mira dan Elkan juga. Cuma kan kangen banget ke Aryan dan Aaliya. Aroma bayi dan senyuman mereka, bikin hati kangen terus," balas Papa Belva.
__ADS_1
"Benar, tetap kangen anak-anak, cuma sekarang ada cucu juga. Gimana gak sedih pisah lama-lama dari cucu segemoy ini," kata Mama Sara.
"Kalau pulang dari Eropa, gendong lagi yah, Oma," sahut Mama Marsha.
Mama Sara kemudian menganggukkan kepalanya. "Pasti. Kalau sudah pulang dari London, kami mau nginap aja deh di rumahnya Elkan dan Mira. Mau bobok sama Twins A," balas Mama Sara.
Mendengarkan obrolan dari para orang tua, Elkan dan Mira tersenyum saja. Namun, memang ada masanya seperti itu. Para Oma dan Opa terlihat kangen dan begitu sayang kepada cucunya dibandingkan dengan anaknya.
Perjalanan satu jam menuju ke bandara. Akhirnya supir menurunkan mereka semua di drop off menuju pintu keberangkatan penerbangan internasional.
"Hati-hati ya Mama dan Papa. Selalu beri kabar Mira dan Kak El yah," kata Mira.
"Pasti, Ra. Nanti Mama bakalan sering memberikan kabar kepada kalian. Kirimin juga fotonya Aryan dan Aaliya yah? Kami pasti kangen banget," balas Mama Sara.
"Siap Oma," balas Mira.
Usai itu, Mama Sara dan Papa Belva berpamitan dengan Mira, Elkan, dan kedua Besannya. Bahkan juga Mama Sara menangis kala menggendong kedua cucunya. Begitu rindu nanti pastinya.
"Sehat-sehat yah Sayangnya, Oma. Harus sehat, Oma dan Opa ke tempatnya Onty Eiffel dulu yah. Nanti Oma Video Call yah?"
"Iya, Oma. Waktunya disesuaikan dengan Jakarta yah Oma? Waktunya Aryan dan Aaliya masih bangun," balas Mira.
"Pasti, Mira. Kamu dan Elkan juga sehat-sehat yah."
Mira memeluk Mama Sara dengan menitikkan air mata. Bagaimana pun ada rasa sedih ketika harus berpisah dengan Mama Sara dan Papa Belva. Dua pekan ini akan berbeda rasanya. Namun, Mira mendoakan segala urusan Mama Sara, Papa Belva, dan Eiffel semua terselesaikan dengan baik.
__ADS_1