Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Night Music


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, kali ini Elkan dan Mira mendapatkan undangan dari grup chat di kampusnya untuk meramaikan Campus Fest Musim Dingin. Namun, Mira agaknya malas. Dia hanya ingin melihat-lihat saja, tanpa terlibat dalam acara itu.


Elkan juga tidak memaksa Mira. Keduanya sekarang cukup menghadiri Night Music saja. Lantaran musim dingin, Mira dan Elkan sama-sama mengenakan jaket karena musim dingin sudah tiba. Bahkan malam pun rasanya begitu dingin.


"Baru ini keluar malam-malam ya, Honey?" tanya Elkan kepada Mira.


"Ya, beberapa kali keluar sih. Cuma, sekarang baru saja ke kampus malam hari," balasnya.


Yang dikatakan Mira tepat, sekarnag baru pertama kalinya mereka ke kampus malam-malam. Jika tidak ada Campus Fest, juga pasti mereka lebih memilih untuk berada di unit saja. Melakukan banyak hal menyenangkan di unit, sembari bercanda-canda.


"Campus Fest itu biasanya ada apa saja Kak?" tanya Mira kemudian sembari berjalan di sisi Elkan.


"Tergantung, Honey. Ada yang acara kuliner, fashion, kemanusiaan, atau apa. Kebetulan sekarang di tempat kita hanya ada Night Music saja," balas Elkan.


"Ada kayak budaya juga ya, Kak?" tanya Mira lagi.


"Bener banget. Tergantung panitianya kan maunya apa. Dulu di sekolahku di Singapura itu seringnya buat Culinary Festival dan teknologi gitu. Ada loh, event untuk coding. Jadi, aku ya dikit-dikit tahu apa itu coding walau tidak ahli," balas Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. Baru tahu juga bahwa suaminya itu tahu sedikit mengenai ilmu komputer, khususnya coding. Menurut Mira sendiri, jika Elkan memilih kuliah IT daripada Bisnis, lebih menjanjikan IT.

__ADS_1


"Kenapa enggak memilih IT saja, fresh graduated saja gajinya sudah tinggi," balas Mira.


"Nanti aku bisa belajar lagi, Honey. Kalau bisnis, aku memang butuh untuk melanjutkan bisnis Mama dan Papa. Walau sebenarnya, Mamaku yang hanya lulusan SMA juga berhasil memiliki gurita bisnis begitu banyak. Jadi, ya ... supaya aku bisa dan nanti layak untuk memimpin perusahaan dari Mama saja," balasnya.


Apa yang disampaikan Elkan memang benar adanya. Mamanya adalah sosok pebisnis yang belajar secara mandiri. Tidak memiliki basic bisnis. Namun, lihatlah Coffee Bay yang dimiliki Mama Sara menggurita, cabangnya sudah ada lebih dari 700 cabang di seluruh Indonesia. Selain itu, SaVa Beauty Care yang juga berjalan belasan tahun. Itu adalah bukti bahwa tanpa pendidikan tinggi, ada orang-orang yang berjalan menjalankan bisnisnya.


"Memang Mama Sara adalah sosok panutan sih. Cantik, bisnisnya berkembang pesat, ketika menolong orang tidak pernah tanggung-tanggung. Aku mengidolakan Mama Sara," balas Mira.


Elkan pun tersenyum. "Belajar banyak dari Mama, Honey. Kita memiliki orang tua yang hebat. Kita bisa belajar dari mereka semua. Mama Sara, Papa Belva, Mama Marsha, dan Papa Abraham adalah sosok yang hebat. Contoh teladan ada di depan mata, jadi tergantung kita, anak-anaknya mau belajar atau tidak," balas Elkan.


Sekarang mereka sudah tiba di kampus, dan di sebuah auditorium ada beberapa band dari mahasiswa yang sudah unjuk gigi, Elkan dan Mira pun duduk bersama menikmati alunan musik itu. Bagi Mira, cukup baginya untuk mendapatkan pengalaman saja seperti apa Campus Fest di luar negeri itu.


Elkan menganggukkan kepalanya. Dia tahu yang dia maksudkan di Music Night semua jenis musik bisa ditampilkan. Pop, rock, atau musik lainnya bisa dilakukan. Namun, jika sudah musik yang keras, dan banyak orang-orang turun ke lantai dansa, maka Mira memilih untuk pulang.


Beberapa meter dari tempat Mira dan Elkan yang duduk bersama ada Rosaline yang sudah menatap Elkan. Gadis itu kemudian mendekat dan segera menyapa Elkan.


"Elkan," sapa Rosaline.


Mendengar suara Rosaline, Mira sudah mengantisipasi. Apa saja bisa terjadi. Termasuk di malam penuh musik seperti ini. Namun, Mira tidak akan pergi. Dia akan berada terus di sisi Elkan.

__ADS_1


"Setelah satu bulan, baru bertemu denganmu, Elkan ... i am so missing you," ucapnya.


Mira yang duduk di samping Elkan hanya bisa menghela napas panjang. Kenapa selalu saja Rosaline mengatakan bahwa dia rindu dengan Elkan. Seolah-olah pertemuannya dengan Elkan adalah sesuatu yang ajaib.


Di satu sisi Elkan sama sekali tidak memberikan jawaban. Elkan memilih untuk diam. Sebab, dia tidak merasakan apa pun dengan Rosaline. Dulu, Elkan hanya menganggap Rosaline sebagai temannya saja.


"Elkan, are you hear me?" tanya Rosaline lagi. Dia bertanya apakah Elkan mendengarkannya.


Elkan kemudian melirik ke Rosaline, jengah juga. Terlebih di sana banyak orang. Takut mengganggu orang lain.


"Fokus ke diri sendiri saja, Line. Jangan terus menggangguku," balas Elkan.


Elkan kembali fokus melihat pertunjukkan musik, dan Mira juga duduk tenang di sisi Elkan. Namun sejenak kemudian, alunan musik menjadi begitu kencang. Suara gitar dan drum yang benar-benar memekikkan telinga.


"Kayaknya kita harus pulang Kak? Semakin malam, musiknya semakin keras," balas Mira.


"Yuk, kita pulang saja," balas Elkan.


Akhirnya keduanya memilih untuk pulang. Tujuan awal mereka pulang adalah musiknya yang sudah tidak nyaman di telinga. Kedua, tentu adalah Rosaline yang terlihat menarik perhatian Elkan. Sehingga, lebih baik keduanya memilih untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2