
Tidak terasa bahwa satu bulan sudah berlalu. Hari ini adalah hari pertama kuliah untuk Elkan dan Mira. Keduanya bersiap untuk masuk. Tidak seperti di Indonesia yang akan ada Ospek untuk mahasiswa baru. Di sana, seluruh mahasiswa hanya dikumpulkan di auditorium, mendengarkan sambutan dari Rektor, dan beberapa guru besar, kemudian memasuki perkuliahan seperti biasa.
"Mau pake baju yang mana, Kak? Kemeja putih?" tanya Mira.
Keduanya masih berada di unit dan bersiap-siap bersama. Mira tampak hendak mengambilkan kemeja untuk suaminya. Menanyai kemeja apa yang akan dipakai oleh suaminya itu.
"Kemeja biasa aja, Honey. Memakai Almamater kan?" tanya Elkan.
"Iya, sepanjang hari dengerin sambutan dan pengenalan kampus satu hari aja, Kak. Besok udah langsung kuliah," balas Mira.
"Kemeja warna biru muda itu aja, Honey. Biar samaan warnanya sama kemeja yang kamu pakai," balas Elkan.
Mira pun akhirnya mengambilkan kemeja berwarna biru muda dan setelahnya mengajak Elkan untuk sarapan bersama. Menikmati sarapan lebih cepat, setelahnya mereka sama-sama turun dari unit dan berjalan kaki bersama menuju ke kampus mereka.
"Enak yah, ke kampus tinggal jalan kaki," ucap Mira sembari berjalan di samping Elkan.
"Hidup sebulan tanpa stress ya, Honey. Biasanya di Jakarta, macet-macetan. Sekarang tinggal jalan kaki lima menit, udah sampai di kampus," balas Elkan.
Memang ada beberapa penelitian bahwa hidup di kota besar dengan tingkat kemacetan tinggi bisa memicu stress. Sementara, mereka yang tinggal di kota yang tidak begitu macet, tingkat stress juga rendah. Di Sydney, Elkan mengaku bahwa tidak stress karena tidak bergelut dengan kemacetan lalu lintas.
"Kamu memang paling bisa deh, Kak," balas Mira.
"Enak kan, jalan kaki pagi-pagi. Nanti pulang kuliah, jalan kaki lagi. Satu fakultas juga sama istri sendiri. Jadi semangat 45 nih aku," ucap Elkan.
__ADS_1
Mira tersenyum, dia terus berjalan di sisi suaminya. Rasanya teringat dulu kala di Putih Abu-Abu, setiap pagi juga Elkan selalu datang ke rumahnya dan bersama-sama ke sekolah. Tidak terasa waktu satu tahun dulu sudah berlalu dan sekarang berganti dengan jalan kaki bersama ke kampus.
"Biasanya pagi, aku jemput ke rumah kamu. Ke Sekolah bareng-bareng. Sekarang, tidak perlu jemput kamu. Kita tidur aja sudah satu ranjang. Lebih bahagia tentunya," balas Elkan.
Membiarkan saja Elkan dengan ucapannya, Mira hanya beberapa kali tersenyum, kemudian mereka sudah memasuki area kampus dan menuju ke auditorium. Seluruh mahasiswa disambut dengan suguhan musik yang megah layaknya orchestra yang menandakan sebuah penyambutan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor di kampus itu. Lantas video sejarah dan pengenalan kampus diputar, seluruh mahasiswa tinggal melihatnya saja.
Suasana masa orientasi yang sangat berbeda di Indonesia. Di Indonesia sendiri, biasanya mas Orientasi kegiatan bermacam-macam. Tak jarang juga memberikan aktivitas fisik. Namun, di luar negeri tidak seperti itu.
Tidak terasa setengah hari sudah berlalu, dan mahasiswa diperbolehkan untuk pulang. Elkan yang agak ngantuk karena hanya duduk dan mendengarkan sambutan, mengusap wajahnya beberapa kali.
"Ngantuk, Kak?" tanyanya.
"Banget. Duh, pengen tidur sebentar di rumah deh," balas Elkan.
Elkan yang sudah benar-benar mengantuk matanya berair dan sedikit memerah. Sementara, Mira tersenyum melihat suaminya itu.
"Ya sudah, pulang yuk? mampir makan siang dulu, atau take away aja," ucap Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. Setelahnya dia mulai menegakkan punggungnya dan berdiri. Dari arah kanan beberapa meter, ada wanita yang memanggil nama Elkan. Wanita cantik berwajah oriental itu begitu senang bisa melihat Elkan. Tentu saja dia adalah Rosaline.
"Elkan ... nice to meet you," sapa Rosaline yang hanya menyapa Elkan saja, dan menghiraukan Mira.
"Aku mau pulang, Line," balas Elkan.
__ADS_1
"Temani aku ke kafetaria dong, El. Makan siang bersamaku," pinta Rosaline sekarang.
Mira memilih diam dan sabar. Jika memang masih bisa ditolerir, ya Mira akan berusaha memahaminya. Tidak sekadar cemburu buta. Walau memang Mira sedikit cemburu sekarang.
"Aku akan pulang bersama Mira. Kamu bisa ke kafetaria sendiri," balas Elkan.
Ditolak oleh Elkan, Rosaline menunjukkan wajah sedih dengan mata yang tampak berkaca-kaca. "Elkan, kenapa kamu tega? Aku hanya meminta kamu menemaniku makan. Kita hanya berteman, walau aku menaruh rasa padamu," ucap Rosaline sekarang.
Mira yang lama-lama jengah memilih pergi saja. Toh, di sana juga dia tidak dipedulikan. Lebih baik, pulang sendiri terlebih dahulu. Menyadari Mira yang mulai pergi, Elkan kemudian menatap Rosaline dan berbicara lagi.
"Sorry, Line ... aku pulang dulu, jika tidak Mira bisa menungguku," pamitnya.
Elkan pun berlari kecil melewati kursi-kursi di auditorium dan menggapai Mira. Elkan yang sudah semakin dekat dengan Mira akhirnya memegang tangan Mira.
"Honey," panggil Elkan.
"Selesaikan dulu saja, Kak," balas Mira.
"Marah? Ngambek? Yuk, pulang," ajak Elkan kemudian.
Mira masih diam. Tentu saja dia kesal rasanya. Seakan mengingat di masa SMA dulu, ada Sonya yang mengganggu hubungan mereka berdua dan sekarang ada Rosaline. Para cewek yang mengharap Elkan dan ingin menyingkirkan Mira dari sisi Elkan.
Akhirnya, keduanya memilih pulang ke unit. Perut kosong usai orientasi sekolah pun tak jua diisi makanan. Terkadung bad mood. Sementara, Elkan juga tidak jadi mengantuk. Sekarang, Elkan baru resah kenapa Mira jadi bad mood seperti ini. Elkan tidak ingin Mira marah. Sebisa mungkin, Elkan harus memperbaiki keadaan.
__ADS_1