
Tidak terasa Elkan dan Mira sudah menghabiskan masa enam semester di Australia, sekarang keduanya sudah sama-sama menginjak di semester akhir. Berkat kuliah padat yang diambil keduanya, di semester tujuh ini keduanya hanya tinggal mengambil Skripsi saja. Masih sama seperti dulu, bahwa keduanya masih sangat bersemangat untuk menyelesaikan kuliah.
"Gak terasa sudah semester akhir, Honey. Hanya tersisa enam bulan waktu kita di Sydney. Itu artinya masa bulan madu juga akan berakhir," kata Elkan.
"Kamu ini, Kak ... bulan madunya tiga tahun. Mengerikan sekali," balas Mira dengan bercanda.
"Iya, kan kuliah sembari pacaran dan bulan madu. Nanti kalau udah di Jakarta kan planning untuk memiliki baby. Jadi, bayi tabung saja, Honey. Pengen punya baby kembar," kata Elkan sekarang.
Mira tertawa. Membayangkan memiliki bayi kembar saja pasti repot. Selain itu, dia juga masih muda dan belum berpengalaman sama sekali. Mungkinkah akan memiliki anak kembar.
"Seriusan kembar, Kak? Mengasuhnya bagaimana yah? Aku belum berpengalaman sama sekali memegang bayi loh, Kak. Kalau salah gimana?" tanya Mira.
"Semua ibu juga belajar kok, Honey. Yang penting jangan takut salah saja. Kamu pasti bisa, kan kamu pinter," balas Elkan.
Mira kemudian beringsut dan menatap suaminya. "Kak, kalau hamil badanku gak lagi langsing, wajahku mungkin saja kusam karena pengaruh hormon, atau mungkin aku tidak menarik lagi, apa cintamu kepadaku akan berubah?" tanya Mira.
Dengan cepat Elkan menggelengkan kepalanya. Baginya, pertanyaan Mira itu hanya pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab. Sebab, apa pun yang terjadi Mira akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang dia cintai.
"Tidak akan, Honey. Aku tidak akan seperti itu. Percayai aku," balas Elkan.
"Secara kamu kan masih muda, putra CEO, terus kaya raya lagi. Pasti di luar sana kamu masih seperti lajang loh, Kak. Beda dengan wanita yang sudah hamil, kadang badannya gak bisa kembali ke berat badan idealnya."
Mira hanya menyampaikan fakta bahwa memang wanita ketika hamil dan melahirkan kadang kala, badannya tidak bisa kembali ke berat badan idealnya. Menjadi semakin gemuk justru ada dan banyak. Tak jarang para pria mulai ilfeel dengan istrinya.
__ADS_1
"Aku bukan tipe suami kayak gitu, Honey. Ya sudah, aku gak mau berjanji. Aku buktikan saja kalau kamu hamil nanti. Justru cinta, kasih sayang, dan perhatianku semakin besar untuk kamu. Apa perlu sekarang aja aku menghamili kamu?"
Dengan cepat Mira menggelengkan kepalanya dan mencubit pinggang suaminya itu. Kesal bila omongan suaminya kadang seperti itu. Sementara Mira yang hobi mencubit, pastilah akan selalu mendaratkan cubitan di pinggang atau di dada suaminya.
"Aduh, Honey. Stop ... aduh, sakit ... sakit."
Elkan mengaduh-aduh sakit, tapi Mira tidak berhenti untuk mencubiti suaminya itu. Semua itu juga terlanjur kesal dengan Elkan.
"Honey, please ...."
Elkan sudah meminta supaya Mira berhenti, tapi Mira masih mencubiti Elkan. Seolah ingin membalas, Elkan pun menggelitiki Mira. Jari telunjuknya menggelitiki perut Mira, hingga akhirnya justru Mira menangis sekarang.
Merasa bersalah, Elkan pun berhenti menggelitiki Mira. Pria itu berusaha menenangkan Mira sekarang. Namun, Mira terlanjur menangis.
Mira diam, tak menjawab apa pun. Masih menangis terisak dengan menutupi wajahnya. Memang begitulah wanita, semula dia yang mencubiti terlebih dahulu, tapi ketika dibalas ujung-ujungnya menangis. Sama seperti Mira, hanya digelitikin Elkan justru menangis, wajahnya sampai memerah.
"Maaf, Honey. Kan aku juga cuma bercanda," balas Elkan.
"Gak lucu," balas Mira dengan memunggungi Elkan.
"Kan cuma bercanda," balas Elkan lagi.
Memang begitulah wanita, kadang mereka yang memulai. Namun, mereka sendiri yang marah. Elkan sekarang harus menghadapi sosok istrinya yang seperti ini. Namun, karena cinta ya Elkan akan berusaha menenangkan Mira.
__ADS_1
"Maaf ... kalau marah ya marah aja, jangan diem seperti ini. Kalau kamu diem, aku tersiksa, Honey."
Elkan berkata jujur. Daripada Mira diam waktu marah, mending memukulnya atau mengungkapkan amarahnya. Daripada diam, Elkan justru bingung jadinya.
Kemudian sekarang, Elkan beralih duduk di depan Mira. Tangannya terbuka, meminta Mira untuk mendekat dan masuk ke dalam pelukannya.
"Marah?" tanya Elkan.
Mira menggelengkan kepalanya. Namun, wanita itu masih diam. Tidak memberikan jawaban apa pun.
"Kalau begitu peluk aku," kata Elkan.
Mira masih diam. Hingga akhirnya, dia sendiri yang mendekat dan memeluk Mira. Rupanya, Mira justru semakin menangis dan terisak. Wajahnya menceruk di dada suaminya.
Ah, Elkan lega. Bisa memeluk Mira. Walau istrinya itu masih saja menangis.
"Kesal aku gelitikin?" tanya Elkan.
"Gak suka, gak mau," balas Mira.
"Ya sudah, gak lagi. Maaf yah, Honeyku."
Memang ada-ada saja yang terjadi. Kadang masalah kecil pun singgah dan membuat menangis. Namun, yang penting adalah cara untuk menyelesaikan setiap masalah supaya tidak berlarut-larut. Semakin cepat diselesaikan, semakin baik adanya.
__ADS_1